Sekelumit Kisah Seorang Perantau

bekerjaDi hari sabtu, saya memutuskan pergi ke bengkel untuk melakukan service rutin motor saya. Mungkin karena belum terlalu siang ketika saya tiba di sana, bengkel tersebut belum banyak didatangi orang. Saya pun langsung dilayani dan motor saya langsung diservice. Sekitar 30-45 menit kemudian, motor saya selesai diservice. Karena motor saya sudah kotor dan perlu dibersihkan, saya pun menuju tempat penyucian motor yang tak jauh dari bengkel.

Ketika sampai di tempat pencucian motor, keadaannya tak beda jauh dengan bengkel tadi. Masih sepi. Hanya terlihat satu motor yang sedang dicuci. Tiga orang pegawai terlihat menunggu pelanggan yang datang. Salah satu dari mereka langsung membawa motor saya ke tempat pencucian. Lalu saya pun menunggu.

Untuk menghilangkan kesendirian, saya pun mendekati salah seorang pegawai yang sedang melepas lelah setelah menyelesaikan tugasnya. Saya bertanya kepadanya, “Pegawai di sini ganti-ganti terus ya mas? Soalnya setiap saya ke sini selalu melihat wajah-wajah yang lain dari sebelumnya.”

“Saya tidak tahu mas, saya baru datang,” jawab pegawai tersebut.

Saya memang bukan orang pandai untuk memecah suasana agar tidak kaku. Akhirnya saya melanjutkan bertanya, “Asalnya dari mana mas?”

Pegawai tersebut menjawab dari Sumatera, tepatnya Metro, Lampung. Ia datang ke Jakarta karena diajak temannya yang kini sama-sama bekerja di tempat pencucian tersebut. Keduanya datang ke Jakarta karena merasa di Metro, tempat asal mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka berharap di Jakarta ini akan mendapatkan rezeki yang halal untuk menghidupi keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.

Sebelum datang ke Jakarta, pegawai yang saya ajak bicara itu sebenarnya sudah memiliki pekerjaan sebagai sopit pribadi. Namun akhir bulan lalu, SIM-nya mati dan dia tidak ada biaya untuk memperpanjang. Sedangkan majikannya tidak memberikan jalan keluar dengan memberikan tambahan uang yang dia perlukan. Suatu sikap yang jauh dari harapannya. Akhirnya ia pun berhenti dan memutuskan menerima ajakan temannya ikut ke jakarta.

Hari-harinya di Jakarta ia lalui sebagai pencuci motor. Ketika saya tanyakan bagaimana perjanjian kerja dengan bos pemilik tempat pencucian tersebut, ia menjawab belum tahu. Saya berpikir sejenak, sudah bekerja tapi belum tahu apa yang akan dia terima.

“Mas sudah ke mana aja setelah tiba di Jakarta?” kembali saya mengajukan pertanyaan.

“Belum kemana-mana, baru di tempat ini,” jawabnya. Ia pun melanjutkan bahwa akan bekerja apa saja, asalkan halal.

Sebuah keinginan yang mulia, semoga saja ia segera mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih baik dan tentu saja yang halal demi keluarga yang ia tinggalkan jauh di seberang sana.

Dan pagi ini saya masih melihat dia melakukan pekerjaan : mencuci motor.


Tulisan Terkait Lainnya :

One thought on “Sekelumit Kisah Seorang Perantau

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s