Ibuku Yang Kreatif

kueBenda kotak berukuran cukup besar itu, tempat ibu saya menempatkan dagangan berupa nasi uduk setiap pagi, sudah beberapa hari tersimpan di sudut bagian depan rumah. Ya, aktivitas ibu berjualan dihentikan sementara karena datangnya bulan ramadhan.

Ibu saya bukanlah orang yang pernah mengenyam pendidikan. Ibu tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Itulah sebabnya ibu tidak bisa membaca apalagi menulis huruf latin. Tapi untunglah ibu dulu pernah belajar mengaji, sehingga bisa membaca Al-quran meskipun tidak dengan ucapan yang fasih dan kaidah tajwid yang memadai. Namun demikian, dibalik kekurangan tersebut, ada kelebihan di sisi lain yang ibu miliki. Kelebihan tersebut adalah bahwa ibu memiliki kemampuan yang lebih dalam hal mengolah makanan.

Kelebihan itulah yang ibu manfaatkan untuk membantu ayah saya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, karena seiring dengan bertambahnya biaya hidup keluarga, karena empat dari lima orang anak ibu bersekolah.

Suatu saat, pernah ibu mencoba membuat jamu berupa air kunyit dan memasarkannya. Ide itu ibu dapatkan ketika seorang tetangga menawarkan air kunyit kepadanya. Akhirnya ibuu mencoba untuk membuat air kunyit sendiri dan memasarkannya ke sekitar rumah.

Setelah ibu mencoba dan akhirnya berhasil membuat air kunyit sendiri, ibu pun memasarkannya. Setiap pagi ibu menenteng dua buah keranjang berisi air kunyit di kedua tangannya, ibu berkeliling kampung.

Seperti penjual jamu umumnya, ibu menjual air kunyit itu pergelas kepada setiap orang yang ingin meminumnya. Bila ada yang berminat, ibu pun tak segan-segan untuk menjual per botol.

Ada kenangan yang masih membekas di masa-masa itu. Setiap kali ibu pulang sehabis berkeliling, ibu pasti membelikan kami jajanan kesukaan kami, kroket dan jenis gorengan lainnya. Tak banyak waktu yang kami butuhkan untuk menghabiskan semua buah tangan ibu itu.

Hingga suatu ketika, ibu berangkat ke pasar seorang diri. Mungkin karena malam harinya turun hujan, atau memang jalan yang menurun dan licin, ibu terjatuh. Di luar dugaan, akibat jatuhnya ibu itu, mengakibatkan pergelangan kaki ibu patah. Sehingga ibu tidak mampu berjalan selama beberapa bulan. Segala aktifitas keseharian ibu pun terhenti, termasuk menjual air kunyit keliling kampung.

Setelah melalui proses beberapa kali pengobatan, alhamdulillah, ibu bisa berjalan normal kembali. Namun demikian, usaha air kunyit itu tak dapat dilanjutkan kembali. Ibu berusaha mencari alternatif usaha lain.

Ibu memperhatikan bahwa jalan di depan rumah sangat ramai dilalui orang. Mungkin kalau bisa berjualan akan laris. Akhirnya ibu memutuskan untuk berjualan kue-kue di pagi hari.

Dengan bantuan modal dari seorang paman, ibu akhirnya mendirikan sebuah tenda alakadarnya. Sebuah meja dan sebuah etalase kecil dijadikan ibu untuk menjajakan kue-kue yang ibu buat sendiri. Lontong, ketan, pastel, gandasturi, dan beberapa jenis kue lainnya tersedia di bawah tenda itu setiap harinya.

Kue-kue itu banyak dibeli oleh orang-orang yang memang berniat untuk dimakan saat sarapan atau pun oleh orang-orang yang sedang jalan-jalan pagi dan ingin mencoba kue yang ada. Lama-kelamaan banyak di antara mereka yang menjadi langganan, bahkan beberapa kali ibu menerima pesanan yang cukup banyak oleh seseorang untuk keperluan kantornya.

Menjelang puasa dan lebaran, ibu mempersiapkan berbagai keperluan untuk membuat kue kering, baik untuk konsumsi maupun untuk dijual. Puluhan nanas yang dibeli diolah menjadi selai yang nanti akan digunakan untuk membuat kue nastar. Kacang hijau diolah dan dicampur dengan gula lalu dicetak menjadi kue satu, lalu dijemur. Kue jenis ini memang perlu cuaca yang panas agar nantinya menjadi enak dimakan. Ibu juga membuat kue-kue kering lainnya, seperti kue putri salju, kue biji ketapang, dan jenis lainnya.

Setelah beberapa lama, situasi dan kondisi mengharuskan kami pindah rumah. Dan akibatnya, usaha ibu menjual kue-kue terhenti.

Di tempat dan lingkungan yang baru, untuk beberapa lama, ibu belum memikirkan usaha apa yang bisa ibu kerjakan. Rumah kami tidak terletak di pinggir jalan besar seperti dahulu, tetapi hanya bertada di sebuah gang kecil. Tapi setelah melihat kondisi lalu lalang orang yang cukup menjanjikan, ibu memtuskan untuk memulai usaha baru, berjualan nasi uduk setiap hari.

Ibu berjualan hanya beberapa jam saja setiap pagi, mulai dari pukul enam pagi, sampai sekitar setengah delapan pagi. Alhamdulillah, terkadang, sebelum waktunya tutup, dagangan ibu sudah habis terjual, sampai-sampai saya kehabisan jatah untuk sarapan pagi.

Di bulan ramadhan, Ibu tak berjualan untuk sementara waktu. Akankah Ibu bisa melanjutkan usaha tersebut selepas lebaran?


Tulisan Terkait Lainnya :

6 respons untuk ‘Ibuku Yang Kreatif

  1. faziazen Maret 4, 2012 / 00:00

    gandasturi itu apa?

  2. jampang Maret 4, 2012 / 00:00

    faziazen said: gandasturi itu apa?

    kue yang isinya kacang hijau yang sudah dimasak dengan gula dan sebagianya kemudian dicelupkan ke adalam adonan terigu sebelum digoreng.

  3. nfiet Desember 12, 2012 / 09:07

    Salut ama perjuangan Ibu. Semoga Allah memberi tempat terbaik kelak. Aamiin YRA

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s