Kegalauan Seorang Satpam

Ketika saya sedang menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya, seorang satpam menegur saya dengan sebuah pertanyaan. Dan dari pertanyaan itu kami mulai masuk ke topik tentang konidisi lingkungan pekerjaan masing-masing.

“Dari kantor atau dari rumah, Mas?”

“Dari kantor, Pak, jawab saya mantap.

“Kerja di mana?” tanyanya lanjut.

“Di daerah Gatot Subroto.”

“Sebagai apa?”

“Jadi PNS, Pak.”

“Enak dong jadi PNS, tidak tegang seperti saya.”

“Tegang gimana, Pak?” tanya saya penasaran.

“Ya, tegang, tidak tenang. Soalnya saya kerja sama siapa tapi yang gaji pihak lain.”

Jawaban Pak Satpam itu melukiskan pengalaman yang sama seperti apa yang dialami istri saya yang bekerja sebagai karyawan kontrak. Istri saya, Pak Satpam itu, dan rekan-rekannya bekerja dengan status karyawan kontrak dengan jangka waktu beberapa tahun. Perusahaan yang mengontraknya berbeda dengan perusahaan di mana mereka bekerja, istilah kerennya ‘outsourcing’.

Dengan sistem kontrak, sudah pasti pihak yang diuntungkan adalah perusahaan, sebab tak ada pesangon harus diberikan kepada karyawan di akhir masa kontrak, dan sebaliknya karyawan menjadi pihak yang dirugikan. Selain itu, bila kontrak diperpanjang setelah berlangsung beberapa tahun, maka status karyawan tersebut menjadi baru lagi. Artinya, walaupun dia sudah bekerja beberapa tahun di perusahaan, maka pada saat pembuatan kontrak baru, ia mendapatkan gaji sebagaimana karyawan yang baru masuk, dan kadang tidak ada tunjangan.

Maka tak heran, jika Pak Satpam itu merasa tidak tenang dengan sistem kepegawaian perushaan di mana kini ia bekerja. Bila masa kontrak habis, ia harus siap-siap mencari pekerjaan atau tempat baru untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik atau paling tidak sama dengan apa yang yang diperoleh sekarang. Atau memperbarui kontrak dengan konsekuensi ia haru mau menerima gaji yang lebih kecil dan tanpa tunjangan untuk beberapa waktu. Siapa yang tak galau dengan keadaan demikian?

Sebagi PNS, mungkin saya merasa jauh lebih tenang daripada Pak Satpam dan orang-orang yang bekerja dengan status kontrak. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

4 respons untuk ‘Kegalauan Seorang Satpam

  1. arvenda Oktober 20, 2006 / 00:00

    huehue.. enaknyaa yg PNS :Daku apalagi Bang, pns bukan kontrak juag ga jelas.. ya, ikuti air rejeki yg Allah alirkan aja deh … 🙂

  2. jampang Oktober 21, 2006 / 00:00

    alhamdulillah… mencoba bersyukur dengan apa yang ada aja 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s