Bunda, Pengorbananmu Tidaklah Sia-sia

ibu dan anak 2Minggu siang, beberapa saat menjelang waktu Zhuhur, saya dan istri sudah berada di rumah orang tua saya. Setelah beberapa saat larut dalam obrolan dan menunaikan sholat Zhuhur, saya, istri, ibu, ayah, dan adik-adik saya makan siang bersama. Sebelumnya kami mengabarkan kedatangan kami tersebut dan meminta ibu untuk tidak memasak karena kami akan membawa lauk-pauk untuk disantap bersama.

Sambil makan siang, sesekali mata kami tertuju ke layar televisi. Sebuah profil seorang ibu sedang ditayangkan saat itu. Seorang ibu yang telah berhasil membesarkan sembilan orang anaknya menjadi ‘orang’. Ketika penghasilan sang suami tak mencukupi biaya pendidikan anak-anaknya, sang ibu turun tangan mencari nafkah. Dalam benak ibu itu, biar bapak dan ibunya tak sekolah, tetapi anak-anak harus sekolah. Pengorbanan sang ibu memang tak sia-sia. Kesembilan anaknya sukses di bidang pendidikan dan telah mempunyai pekerjaan, salah seorang di antaranya menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi terkemuka negeri ini.

Rupanya tayangan tersebut juga tak lepas dari penglihatan ibu saya. “Pengorbanannya nggak sia-sia, seperti mama kan?” itulah ucapan yang keluar dari ibu saya di sela-sela suapan nasi ke mulut beliau.

“Ya. Tinggal dua lagi,” jawab saya.

Ya, tak lama lagi dua orang adik saya yang laki-laki insya Allah akan lulus dan mendapat gelar sarjana. Sedangkan dua orang anak beliau, yaitu saya dan satu orang adik saya yang perempuan.

Perjuangan ibu saya memang sangat berat. Ketika kebutuhan ekonomi keluarga meningkat, karena kelima anak beliau sekolah, sementara penghasilan ayah saya tidak menentu, beliau mulai membuka usaha. Mulai dari menjual jamu, membuat jajanan, kue kering, hingga berjualan nasi uduk yang hingga kini masih beliau lakukan.

Topik pembicaraan lain hari itu, adalah ibadah haji. Kami saling bertanya apakah banyak masyarakat yang berangkat haji kali ini di daerah masing-masing. Ada beberapa orang kerabat ayah dan ibu akan berngkat haji dalam waktu dekat.

“Insya Allah nanti bunda akan berangkat haji bersama-sama dengan saudara,” ibu saya menyebutkan keinginan beliau untuk pergi ke tanah cuci.

Ya, harapan beliau untuk melaksanakan rukun islam kelima itu adalah dari saya dan adik-adik saya sebagai anak beliau. “Insya Allah nanti ‘dikeroyok’, kalau ditanggung sendiri enggak mampu,” begitu jawab saya.

—ooo0ooo—

maafkan diri ini, bu
yang sudah melupakan sesuatu di masa lalu
yang mungkin ibu juga sudah tidak mengingatnya karena telah termakan waktu
ketika aku berada di rahimmu
ketika aku tidak menyukai makanan yang kau berikan kepadaku
dan aku tidak suka dengan makanan itu
aku memaksamu untuk memuntahkannya lewat mulutmu
kesusahan di atas kesusahan adalah yang kau rasakan kala itu

bu, maafkan diri ini
ketika Allah telah memberikan aku kepala dengan lengkap, tubuh dengan tangan dan kaki
aku selalu menendang-nendang perutmu berulang kali
sakit yang kau rasakan tak pernah kau peduli
malah kau mengelusku dengan penuh kelembutan hati

bu, maafkan diri ini yang belum bisa berbakti
yang telah melupakan masa-masa sulit yang telah engkau lewati
ketika tiba hari yang dinanti
masanya aku lahir ke dunia fana ini
kau berjuang antara hidup dan mati
namun semuanya hilang tak kau rasakan lagi
di saat melihatku lahir dalam keadaan sehat namun tak tahu apa yang terjadi
peluh yang keluar dari tubuhmu seakan tak berarti
semuanya menguap bersama senyummu yang kala itu belum kumengerti

bu, maafkan bila diri ini telah melupakan suatu masa
tat kala malam dengan gemintang dan sabit atau purnama
aku menangis karena ketidaknyamanan yang kurasa
aku pipis tanpa bisa memberi aba-aba
membangunkanmu yang kala itu tertidur lelap hingga terjaga
dengan mata yang belum sempurna terbuka
kau mengganti kain popokku tanpa mengeluh dengan kata-kata

bu, maafkan diri ini yang sering tidak tahu diri
karena sering buang air besar dan kencing ketika kau susui
bajumu yang semula wangi kini aromanya berganti
namun kau tak pernah merasa jijik sama sekali
bila saja itu terjadi pada orang lain mungkin ia akan lari
dengan sabar, bajuku dan pakaianmu kau ganti
dan bila masanya aku tertidur pulas dalama buaian mimpi yang belum juga kufahami
kau pergi mencuci
agar esok atau lusa bajuku dan pakaianmu bisa dikenakan lagi

bu, diri ini memohon untuk dimaafkan
karena sering kali perintahmu tak kukerjakan
walaupun perintah itu sesuatu yang ringan
dan dengan mudah bisa aku kerjakan

bu, diri ini memohon untuk dimaafkan
karena sering kali kekecewaan yang kaudapatkan
dan belum ada kebahagiaan yang kuberikan
entah hari ini, esok, atau kapan
…..*)

*) sudah pernah diposting pada jurnal berjudul Maafkan Aku, Bu..


Tulisan Terkait Lainnya :

14 thoughts on “Bunda, Pengorbananmu Tidaklah Sia-sia

  1. karitasurya Desember 22, 2006 / 00:00

    makanya jangan bandel sama Ibu yah 🙂

  2. jampang Desember 22, 2006 / 00:00

    karitasurya said: makanya jangan bandel sama Ibu yah 🙂

    iya mbak 🙂

  3. udaidur Desember 22, 2006 / 00:00

    jampang said: Ya, harapan beliau untuk melaksanakan rukun islam kelima itu adalah dari saya dan adik-adik saya sebagai anak beliau. “Insya Allah nanti ‘dikeroyok’, kalau ditanggung sendiri enggak mampu,” begitu jawab saya.

    Saya terharu dengan tulisan dan puisinya bang, jadi kangen bundo di bukittinggi sana, dan ingat niat beliau untuk melaksanakan rukun ke 5 ini kelak setelah pensiunnya…Mudah2an rejeki bang rifki makin lancar dan niat haji bundanya tercapai, amien…

  4. aniadami Desember 22, 2006 / 00:00

    jadi sedih bacanya, ingat dosa2 😉

  5. karinsz Desember 22, 2006 / 00:00

    Salut dan salam hormat buat sang Bunda ya mas Rifki.

  6. jampang Desember 22, 2006 / 00:00

    aniadami said: jadi sedih bacanya, ingat dosa2 😉

    semoga kita bisa menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua

  7. ratihorchid Desember 22, 2006 / 00:00

    selagi masih ada kesempatan mintalah ampun dan berbakti 🙂

  8. jampang Desember 22, 2006 / 00:00

    udaidur said: Saya terharu dengan tulisan dan puisinya bang, jadi kangen bundo di bukittinggi sana, dan ingat niat beliau untuk melaksanakan rukun ke 5 ini kelak setelah pensiunnya…Mudah2an rejeki bang rifki makin lancar dan niat haji bundanya tercapai, amien…

    amiiin

  9. jampang Desember 22, 2006 / 00:00

    karinsz said: Salut dan salam hormat buat sang Bunda ya mas Rifki.

    terima kasih, mbak

  10. jampang Desember 22, 2006 / 00:00

    ratihorchid said: selagi masih ada kesempatan mintalah ampun dan berbakti 🙂

    iya mbak, benar. semoga kita bisa melakukan yang demikian

  11. ronny2yola Desember 22, 2006 / 00:00

    kangen ama nyokap… tekker her God…

  12. jampang Desember 25, 2006 / 00:00

    ronny2yola said: kangen ama nyokap… tekker her God…

    jauh sama nyokap yah?

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s