Ketika Dunia Ditinggalkan

Pagi hari, dua hari yang laluMatahari mulai memberikan sinarnya ke bumi. Dinginnya malam mulai berangsur-angsur berubah menjadi hangatnya pagi. Ketika saya baru memulai aktifitas keseharian saya, samar-samar saya mendengar sebuah pengumuman berita duka cita dari pengeras sebuah masjid atau musholla. Seseorang bernama fulan bin fulan telah meninggal dunia, berpisah dari keluarganya. Kembali ke pangkuan Sang Pemilik nyawa.

Di akhir pengumuman, surat al-fatihah dan doa dibacakan oleh sang pembaca, berharap amal ibadah si fulan diterima Allah SWT dan segala kesalahannya diampuni. Amin.

Kemarin, menjelang Ashar

Hanpdhone yang sedang saya charg tiba-tiba berbunyi. Sebuah SMS masuk. SMS itu berasal dari seorang teman saya di SMU dulu. Berita duka cita kembali saya terima. Ayahanda teman saya tersebut meninggal dunia, Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiun.

Segera saya membalas SMS tersebut yang menyatakan bahwa saya turut berduka cita, teriring sebuah doa agar segala amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan segala kesalahannya diampuni. Amin.

–o0o–

Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Ia ibarat pintu yang menghubungkan dunia fana dengan alam yang baqa. Kehadirannya tak bisa dipercepat atau pun ditunda.

Ia bisa datang menjemput manusia ketika masih dalam kandungan sang ibunda serperti apa yang terjadi dengan buah hati salah seorang kawan saya. Ia bisa datang ketika manusia baru terlahir ke dunia dan belum sempat membuka mata, seperti apa yang terjadi dengan buah hati kami, Syifa Khairunnisa. Ia bisa datang ketika usia muda, seperti apa yang terjadi pada seorang Aldi F. Ia pun bisa datang ketika manusa telah renta termakan usia, seperti apa yang terjadi pada nenek saya dan ‘Engkong’ Ustadz. Ia akan menjadi sebuah misteri dalam kehidupan.

Ia bisa hadir saat kita beada dalam keramaian, sebagaimana ia bisa hadir ketika kita dalam kesendirian. Seperti halnya ia bisa datang menjemput kita di rumah tempat tinggal, maka ia pun bisa datang menjemput kita ketika dalam perjalanan. Ia menjadi sebuah kepastian yang tak seorang pun mampu menghindar.

“Ya Allah bihaa, Ya Allah bihaa, Ya Allah bihusnil khatimah”, begitulah doa yang sering kita dengar dan ucapkan. Sebuah pengharapan bahwa ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, kita berada dalam keadaan baik. Semoga saja, kita semua bisa berbuat baik dalam setiap keadaan, sehingga kita bisa dalam kebaikan tat kala tiba di penghujung kehidupan. Amin.

–o0o–

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang
Masih kudapatkan dan kurasakan
Curahan rahmat dan berbagai ni’mat
Yang kerap Kau berikan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Pantaskah kumemohon diri
Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan
Masih kudengar dan kurasakan
Suara-suara yang menghibur
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal
Tapi bila tiba waktu berpisah
Adakah yang akan menghiburku
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan

Puisi lengkapnya bisa dilihat di sini

 


Tulisan Terkait Lainnya :

3 thoughts on “Ketika Dunia Ditinggalkan

  1. imamisnaini Desember 28, 2006 / 00:00

    jampang said: Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan

    Semoga bisa Mas…..Pergi dengan tenang dan bahagia, inilah yang banyak diharapkan orang..

  2. jampang Desember 28, 2006 / 00:00

    imamisnaini said: Semoga bisa Mas…..Pergi dengan tenang dan bahagia, inilah yang banyak diharapkan orang..

    insya Allah mas

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s