Ketika Ibuku Merasa Bangga

ibu dan anakMembalas jasa kedua orang tua yang telah mendidik kita sejak lahir hinngga kini, adalah sesuatu yang mustahil dilakukan. Sebuah perumpamaan menyebutkan bahwa kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Mana mungkin panjangnya galah bisa menyamai panjangnya jalan. Namun demikian, membahagiakan mereka adalah tetap menjadi sebuah keharusan.

Ketika saya mulai mendapatkan sebuah kerja sampingan sebagai guru private, saya rasa saat itulah waktunya untuk saya memulai membahagiakan ibu, atau setidaknya meringankan beban beliau. Penghasilan saya sebulan yang hanya berkisar puluhan ribu rupiah, sebagian saya langsung berikan kepada ibu, sebagian kecil saya belikan makanan seperti martabak atau roti panggang untuk dimakan bersama di rumah, sebagian lagi saya pegang sendiri.

Alhamdulillah. Itulah ucapan yang keluar dari mulut beliau ketika uang yang saya serahkan sudah berpindah ke tangan beliau. Ucapan tersebut masih saya dengar hingga saat ini ketika saya menyerahkan sebagian gaji saya setiap bulannya.

Ketika saya akan menikah, saya lebih sering melihat beliau bersedih dan menangis. Karena merasa sayalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau, saya pun meminta maaf langsung. Dengan mata berair beliau menjawab bahwa beliau tidak sedih, tapi justru merasa senang dan terharu karena saya menikah tidak merepotkan ibu dan ayah dengan berbagai biaya pernikahan dan dalam waktu dekat akan hidup mandiri. Begitulah jawaban beliau, beliau pun menyampaikan harapan kepada saya kelak, sebagaimana bisa dilihat dalam “Sepucuk Surat Untuk Anakku”.

Suatu malam, di sela-sela persiapan pernikahan, saya dan keluarga berkumpul. Dalam satu ruangan, di antara kami ada yang asyik menyaksikan televisi, sedang lainnya asyik mengobrol. Sedang saya, dibantu Ibu dan ayah, sibuk merapikan kartu undangan yang akan disebar esok harinya.

Di sela-sela kesibukan itu, Ibu bercerita.

“Tadi siang, Mama nganterin undangan. Yang dikasih undangan, ade yang langsung buke terus bace. Setelah bace, pade heran.”

“Heran kenape?” tanya saya penasaran.

“Ya ngeliat name yang ade di undangan udah pake gelar Sarjana Ekonomi. Yang orang-orang tahu, Mama dan Ayah kan orang susah, enggak sekolah. Tapi anak Mama udah ade yang jadi sarjana,” cerita Ibu yang menggambarkan rasa bangga dengan anaknya.

Di satu sisi, kesarjanaan saya membuat ibu merasa bangga. Namun di sisi lain ada yang membuat ibu saya agak bersedih, karena ketika saya lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, saya tidak mengikuti acara wisuda. Padahal ibu saat ingin sekali melihat saya diwisuda. Maafkan saya, Bu, karena saya telah menjadi Sarjana Tanpa Wisuda.

Memang kedua orang tua saya bukan orang yang berpendidikan. Ayah saya hanya sempat duduk di bangku sekolah dasar, itu pun tidak lulus. Beliau hanya bisa membaca sedikit tulisan latin. Untuk menulis, beliau tidak begitu bisa. Bahkan ketika awal-awal saya masuk sekolah, beliau tidak menandatangani buku raport saya. Masalah tersebut diserahkan kepada salah seorang paman saya. Sedangkan Ibu tidak pernah duduk di bangku sekolah, sehingga membaca tulisan latin, beliau tidak sanggup.

Namun demikian, saya tetap merasa bangga memiliki orang tua seperti mereka. Dengan keterbatasan pengetahuan dan keuangan yang dimiliki, mereka tidak pernah berpangku tangan terhadap pendidikan anak-anak mereka. Selama anak-anak mereka masih punya keinginan untuk terus belajar, apa pun akan mereka usahakan. Ketika dibutuhkan, insya Allah rezeki tentunya akan datang, entah dari mana. Allah yang mengatur. Mungkin begitu prinsip mereka.

Saya hanya mendengarkan sambil terus melanjutkan aktifitas yang sejak tadi saya lakukan. Dalam hati, muncul rasa senang bisa membuat orang tua bangga akan diri ini. Walaupun rasa bangga yang mereka peroleh tak kan mampu membalas apa yang telah dilakukan kepada saya dan adik-adik saya.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


Tulisan Terkait Lainnya :

42 thoughts on “Ketika Ibuku Merasa Bangga

  1. masfathin Januari 15, 2007 / 00:00

    aduh bahagianya membaca tulisan ini..cukup tertohok juga mengingat fathin selama ini (merasa) belum pernah membahagiakan orang tua, walaupun fathin tahu, dengan kemampuan fathin yang segini, pasti ada terselip rasa bangga ortu, yah walaupun hanya seculil…salam buat orang tua ya mas…bilang selamat udah punya anak yang berhasil seperti mas,,,,:D

  2. agustianwar Januari 15, 2007 / 00:00

    Betul sih mas, bagi kita ketika sudah lulus memang rasanya sudah lengkap, tetapi bagi orang tua, wisuda itu yang menjadi tanda lengkap… Saya dari keluarga besar, tahu nggak Mas, di rumah dijejerkan foto-foto anaknya yang sudah sarjana (termasuk pasca)…dari 8 dua yang belum….seolah itu pembayar jerih payang yang tak terbayangkan demi menyekolahkan anak-anaknya… Semoga Tuhan selalu mengasihi dan menambahkan pahala berlipat ganda pada orang tua semua kita….amin…

  3. otiem Januari 15, 2007 / 00:00

    jd sedih..secara saya sampe detik ini merasa blm bisa membahagiakan kedua orangtua saya.. mgkn lbh sering bikin keduanya jengkel :((

  4. titileksono Januari 15, 2007 / 00:00

    alhamdulillah…orang tua mana sih yang nggak bangga punya anak seperti mas Rifki ni….btw. agak takut juga ni liat gambarnya…jadi inget film horor….hiiii….

  5. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    masfathin said: dengan kemampuan fathin yang segini, pasti ada terselip rasa bangga ortu, yah walaupun hanya seculil…

    kayanya semua orang punya rasa bangga terhadap anaknya yah?

  6. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    lelakibiasa said: 🙂 i love u mom, dad

    we love our parents

  7. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    agustianwar said: .seolah itu pembayar jerih payang yang tak terbayangkan demi menyekolahkan anak-anaknya… Semoga Tuhan selalu mengasihi dan menambahkan pahala berlipat ganda pada orang tua semua kita….amin…

    nah itu juga yang mungkin ortu saya, teruma ibu saya inginkan. tapi saat itu saya malah memilih menggunakan uang tersebut untuk hal lain. hiks…..aamiin

  8. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    otiem said: jd sedih..secara saya sampe detik ini merasa blm bisa membahagiakan kedua orangtua saya.. mgkn lbh sering bikin keduanya jengkel :((

    tetep berusaha mbak… 🙂

  9. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    titileksono said: btw. agak takut juga ni liat gambarnya…jadi inget film horor….hiiii….

    soalnya saya gak punya foto wisuda mbak, jadi foto orang saya ilangin wajahnya. jadi serem yeh?

  10. massol507 Januari 15, 2007 / 00:00

    Masing-masing orang pasti punya cerita yang berbeda tentang bagaimana orang tua kita.Salut buat mas Jampang….Salut juga buat kedua Orang tuanyaSalam hangat dari saya,Massol 🙂

  11. instantmirage Januari 15, 2007 / 00:00

    jampang said: Ketika dibutuhkan, insya Allah rezeki tentunya akan datang, entah dari mana. Allah yang mengatur. Mungkin begitu prinsip mereka.

    persis, emak ku pernah ngomong kurbih begini juga !

  12. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    massol507 said: Masing-masing orang pasti punya cerita yang berbeda tentang bagaimana orang tua kita.

    yup, betul mas.hehehehehe….. terima kasih

  13. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    instantmirage said: persis, emak ku pernah ngomong kurbih begini juga !

    mungkin nanti kalo kita udah punya anak, ngomong ke mereka gini juga kali yeh 🙂

  14. instantmirage Januari 15, 2007 / 00:00

    jampang said: mungkin nanti kalo kita udah punya anak, ngomong ke mereka gini juga kali yeh 🙂

    malah jadi tradisi doong namanya,dan nilai nya malah bisa menghilang?ini kan prinsip orangtua kita mas, gue nanti klo udah punya keluarga punya lain prinsip kali…

  15. jampang Januari 15, 2007 / 00:00

    instantmirage said: ini kan prinsip orangtua kita mas, gue nanti klo udah punya keluarga punya lain prinsip kali…

    iya juga yah, lain masa bisa lain prinsip

  16. instantmirage Januari 16, 2007 / 00:00

    prinsip prinsip…kayak mandra aja mas jampang, huahaha…

  17. karinsz Januari 16, 2007 / 00:00

    ooo…Sarjana Ekonomi toohh mas.

  18. azmeel Januari 16, 2007 / 00:00

    hhmmmmmmm… crita yg patut diinget mas…

  19. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    instantmirage said: kayak mandra aja mas jampang, huahaha…

    kekekekeke…. di si doel anak sekolahan, ada lagi sequalnye enggak yeh?

  20. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    karinsz said: ooo…Sarjana Ekonomi toohh mas.

    iya mbak, cuma kerjanya sekarang di bagian komputer, nggak nyambung yah?

  21. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    azmeel said: hhmmmmmmm… crita yg patut diinget mas…

    iya mbak.si mbak juga lagi menjalani kisah hidup yang patut dikenang.ehem…ehem…

  22. azmeel Januari 16, 2007 / 00:00

    jampang said: ehem…ehem…

    emang lagi musim batuk ya??? ;p

  23. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    enggak juga.. 😛

  24. aniadami Januari 16, 2007 / 00:00

    hebat!!! emang bener, tiap orang pasti punya rejeki masing2, apalagi untuk tujuan positif. salut buat ortu mas jampang

  25. thetrueideas Januari 16, 2007 / 00:00

    inspiring mas, kebetulan ayah ibu saya juga orang “rendahan”…

  26. helvytr Januari 16, 2007 / 00:00

    Alhamdulillah,senangnya bisa membuat ibu bangga. Pahalanya luar biasa insya Allah…Ok sukses ya…

  27. femmedejava Januari 16, 2007 / 00:00

    insya allah jika orangtua ridha pada kita, ridho Allahpun kita dapat….

  28. fenetre Januari 16, 2007 / 00:00

    amiinnn…jadi inget muka mama papa pas aku wisuda, jadi sediiihhh

  29. toebil Januari 16, 2007 / 00:00

    Alhamdulillah….Hiks… jadi kangen bokap nich…..

  30. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    aniadami said: hebat!!! emang bener, tiap orang pasti punya rejeki masing2, apalagi untuk tujuan positif. salut buat ortu mas jampang

    iya mbak, terutama ibu, beliau telah berjualan berbagai jenis barang, mulai dari jamu, makanan kecil seperti getuk, lontong, dan sebagainya, hingga sekarang jualan nasi uduk

  31. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    femmedejava said: insya allah jika orangtua ridha pada kita, ridho Allahpun kita dapat….

    betul mbak, begitu sabda rasulullah mbak

  32. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    helvytr said: Alhamdulillah,senangnya bisa membuat ibu bangga. Pahalanya luar biasa insya Allah…Ok sukses ya…

    terima kasih mbak.akhirnya bisa mampir juga ke sini 🙂

  33. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    thetrueideas said: inspiring mas, kebetulan ayah ibu saya juga orang “rendahan”…

    semoga jasa-jasa kedua orang tua kita mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah. aamiin

  34. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    fenetre said: amiinnn…jadi inget muka mama papa pas aku wisuda, jadi sediiihhh

    mama papa pasti bangga kan waktu itu mbak?

  35. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    toebil said: Hiks… jadi kangen bokap nich…..

    telpon aje mas

  36. auralia Januari 16, 2007 / 00:00

    bisa nggak ya saya membuat orang tua saya bangga?? rasanya kok saya belum mampu berbuat apa2 buat mereka.

  37. imazahra Januari 16, 2007 / 00:00

    Subhanallah, seperti membaca sebagian kisah hidupku sendiri 🙂 Thanks for sharing Mas, titip salam utk Ibu dan Ayah yg hebat… :-p

  38. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    auralia said: bisa nggak ya saya membuat orang tua saya bangga?? rasanya kok saya belum mampu berbuat apa2 buat mereka.

    insya Allah bisa mbak. semoga.

  39. jampang Januari 16, 2007 / 00:00

    imazahra said: Thanks for sharing Mas,

    sama-sama mbak 🙂

  40. karinsz Januari 17, 2007 / 00:00

    Waduh…dipanggil mbak ni ma mas Rifki.Kemarin juga enakan gak usah pakai mbak.napa harus ditambahi mas?

  41. jampang Januari 17, 2007 / 00:00

    karinsz said: Kemarin juga enakan gak usah pakai mbak.napa harus ditambahi mas?

    kemaren enggak pake mbak yah, hehehehe lupa.oke deh karin 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s