Masa Kecilku Dan Para Pedagang Kecil

roti-roti
Entah angin apa yang mendorong keinginan saya untuk membeli roti untuk sarapan pagi hari ini. Bukan roti yang dijual di warung-warung atau waralaba di pinggir jalan, tetapi dari penjual yang berkeliling dengan memikul roti dagangannya.

Semasa kecil, saya dan adik-adik saya punya pedagang roti keliling langganan. Hampir setiap pagi kami dibelikan roti oleh orang tua kami. Macam-macam rasa yang tersedia. Roti dengan susu dan taburan mesis adalah roti favorit saya. Seingat saya, harga roti saat itu masih seratus rupiah.

Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, saya sempatkan mata saya untuk mencari tukang roti keliling. Alhamdulillah, di perbatasan Lenteng Agung dengan Pasar Minggu, saya melihat tukang roti keliling di depan saya. Saya percepat laju motor saya dan berhenti di depan tukang roti tersebut.
“Ada roti susu?” tanya saya pertama kali.

“Ada”, jawab tukang roti sambil mengambilkan roti yang saya maksud.

“Apa lagi,” tanya tukang roti.

“Yang coklat itu, Pak,” jawab saya sambil menunjuk roti bertabur coklat mesis di atasnya.

Setelah dua roti tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diserahkan kepada saya, saya berikan selembar sepuluh ribuan kepadanya. Tukang roti tersebut mencari uang kembalian. Enam lembar ribuan diserahkan kepada saya. Rupanya harga roti yang biasa saya beli semasa kecil dulu sudah dua puluh kali lipat harga dulu. dua ribu rupiah per buahnya.

Tak hanya memiliki tukang roti langganan, keluarga kami juga memiliki langganan lain, seperti Arifin, penjual mie ayam pangsit, Solihin, tukang es campur, dan Salim, penjual bakso, dan masih ada beberapa pedagang kecil lainnya.

Hm, bagaimanakah nasib mereka dan para pedagang kecil lainnya sekarang ini, di mana sekarang muncul berbagai jajanan baru dan fastfood yang menjamur?

Sekarang ini, saya juga sering menikmati makanan atau jajanan berupa fastfood, tapi entah kenapa, di lidah saya, saya lebih bisa menikmati rasa jajanan di pinggir jalan dibandingkan di restoran atau foodcourt. Mungkin sudah bawaan dari kecil. Tapi mungkin ada baiknya jika di suatu kesempatan, kita membeli makanan dari para pedagang kecil tersebut, mungkin hal yang demikian itu jauh dirasakan manfaatnya oleh mereka, dibandingkan kita membeli makanan atau fastfood yang jelas-jelas pemiliknya adalah orang-orang kaya.

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

6 thoughts on “Masa Kecilku Dan Para Pedagang Kecil

  1. mayangfi2007 Juni 26, 2008 / 00:00

    iyah,.. lebih suka jajan pinggir jalan juga,..

  2. jampang Juni 27, 2008 / 00:00

    mayangfi2007 said: iyah,.. lebih suka jajan pinggir jalan juga,..

    murah meriah ya mbak🙂

  3. mayangfi2007 Juni 27, 2008 / 00:00

    jampang said: murah meriah ya mbak🙂

    yupz,.. dah gitu nikmat makannya,..

  4. jrdd Juni 27, 2008 / 00:00

    Dari dulu udah dilarang jajan sembarangan sama ortu, biasanya disediain aja di rumah. Tapi kadang2 kita panggil juga tukang jajan ke rumah, jadi jajannya rame2… skarang kalo mudik, takut juga jajan sembarangan, abis biasanya slalu ke RS ato ke dokter krn sakit perut.. hh.. kangen nih.. tapi apa daya, kumannya udah lain.. :<!–

  5. jampang Juni 30, 2008 / 00:00

    jrdd said: Dari dulu udah dilarang jajan sembarangan sama ortu, biasanya disediain aja di rumah. Tapi kadang2 kita panggil juga tukang jajan ke rumah, jadi jajannya rame2… skarang kalo mudik, takut juga jajan sembarangan, abis biasanya slalu ke RS ato ke dokter krn sakit perut.. hh.. kangen nih.. tapi apa daya, kumannya udah lain.. :<!–

    perutnya udah lain ya mbak :)sudah enggak kebal…. hehehehehe

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s