Nggak Ada Noda, Nggak Belajar

nodaMasih ingat dengan slogan tersebut? Sebuah slogan dari sebuah iklan produk deterjen. Secara konteks iklan, di mana terkait dengan kebersihan pakaian, yang namanya noda adalah noda yang mengotori pakaian. Tapi saya mencoba untuk mengaitkan noda dengan kehidupan. Meskipun mungkin tidak seratus persen tepat, saya ibaratkan noda tersebut dengan kesalahan atau pengalam pahit dalam kehidupan ini.

Sebagaimana kita semua maklumi, yang namanya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Kalau tak pernah salah dan lupa, berarti dia bukan manusia yang sempurna, karena syaratnya kurang. Oleh karena itu, manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi manusia yang menyadari kesalahannya dan mau memperbaikinya.

Kesalahan atau pun kegagalan dalam setiap episode kehidupan, tidak selalu diakibatkan dari dalam diri seorang anak manusia yang mejalani dan mengalaminya. Namun bisa juga berasal dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tidak ada yang salah jika seorang anak manusia ingin menjadi dirinya sendiri selama apa yang dilakukannya tidak melanggar ketentuan agama. Maka jika ada orang lain yang memandangnya salah karena menjadi sedemikian rupa, tidaklah layak jika kesalahan ditimpakan kepada si anak manusia tersebut. Bahkan seharusnya pandangan orang lain tersebut yang perlu dikoreksi.

Tapi, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita mau. Maka sering kita menyebutkan bahwa kondisi ini adalah suatu ketidak adilan. Ya, itu tergantung dari definisi keadilan menurut versi siapa. Karena masing-masing versi bisa jadi jauh berbeda. Untuk memperbaiki kondisi ini, yang bisa kita lakukan hanyalah memperbaiki diri dan memperbaiki diri terus menerus.

Kembali ke noda!

Kesalahan atau pun kegagalan pastinya akan membuahkan pengalaman pahit. Karena sudah lewat masanya, maka tak layak jika terus-menerus disesali. Betatapun besarnya penyesalan kita, hal tersebut tidak akan dapat membawa kita kembali ke masa-masa tersebut. Sebaik-baiknya tindakan adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian. Mempelajari kesalahan dan kegagalan di masa lalu serta menjadikannya bekal yang berharga untuk menghadapi masa depan. Agar tak ada lagi noda.

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

7 thoughts on “Nggak Ada Noda, Nggak Belajar

  1. nawhi Agustus 25, 2010 / 00:00

    saya juga tidak mau kok terus-terusan meratapi kegagalan n dirundung penyesalan. makasih nasihatnya mas.

  2. worotarie Agustus 25, 2010 / 00:00

    jadi inget kata2 jalaludin rumi… ah… kok lupaaaaaaaaaaaaaa….. *buku gebetannya ga ada hihihi*

  3. jampang Agustus 25, 2010 / 00:00

    ydiani said: sipp 😀

    pasti semamangat untuk jadi lebih baik neh 🙂

  4. jampang Agustus 25, 2010 / 00:00

    thetrueideas said: Ingat kisah pembunuh 100 orang…

    yup, karena tekadnya yang kuat untuk bertaubat, akhirnya Allah menerima taubatnya, meski kesalahan yang telah dibuatnya sangat besar yaitu membunuh 100 orang. yang itu yah mas?

  5. jampang Agustus 25, 2010 / 00:00

    nawhi said: saya juga tidak mau kok terus-terusan meratapi kegagalan n dirundung penyesalan. makasih nasihatnya mas.

    semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s