Djadjanan Tempo Doeloe

Entah kenapa, hari ini pengen posting yang berbau-bau makanan. Apa mungkin karena sebentar lagi lebaran, yah?

Pada sebuah postingan sebelumnya yang berjudul “Bukan God Of Gambler, Tapi Tetep Aja Judi (II)”, saya menceritakan tentang salah satu cemilan yang namanya telur cicak. Karena ada komentar yang fokus pada cemilan tersebut, saya jadi berniat untuk bernostalgia dengan aneka cemilan yang pernah saya rasakan, terutama di usia sekola dasar. Hasil googling saya pun berhasil menemukan beberapa gambar dari aneka cemilan tersebut. So, bagi yang berkenan mari kita bernostalgia sama-sama.

Anak Mas

Harga cemilan ini waktu itu hanya seratus rupiah per bungkus. Ada dua rasa yang tersedia, keju dan ayam. Saya lebih suka rasa keju. Mungkin karena waktu pertama kali rasa ini yang saya cicipi, jadilah rasa ini sebagai favorit saya. Cara makannya, bungkusnya direme-remes dulu, kemudian baru dibuka. Setelah itu, tuangkan bumbunya lalu dikocok-kocok. Kalau sudah merata, langsung disantap, bisa dituang ke mulut langsung dari bungkusnya atau dituang ke tangan dulu. Kalau dituang ke tangan dulu, nanti sisa bumbunya akan menempel di telapak tangan. Untuk bersihinnya, langsung aja dijilat :). Tapi konon, kadar MSGnya sangat tinggi. Sekarang cemilan ini muncul lagi dengan kemasan dan harga baru.

Mamie

Jenis snack yang sama seperti anak mas. Setahu saya, snack ini hadir lebih dulu daripada anak mas. Harga dan cara makannya sama dengan anak mas. Bedanya, Mamie hanya punya satu rasa dengan isi lebih banyak. Di samping itu, di kemasan tertulis bahwa selain dapat dimakan langsung, Mamie juga dapat dimasak. Cara masaknya sama seperti mie instant. Saya pernah coba memasaknya, tapi rasanya tidak seenak jika dimakan langsung. Untuk yang satu ini, saya enggak dapatin gambarnya.

Wafer Coklat Superman

Dulu, kalau tidak salah harganya lima puluh rupiah per bungkus. Lumayan enak. Kalau digigit terdengar suara ‘kress’. Belum lama, saya melihat dan membeli coklat ini di salah satu supermarket. Hanya saja selain harganya yang sudah jauh berbeda, kemasan dan namanya juga berbeda. Kalau tidak salah menjadi Wafer Coklat Superstar. Dijualnya juga bukan satuan, tapi satu plastik yang isinya beberapa buah.

Cokelat Ayam Jago

Dengan harga seratus rupiah, bisa dapet satu buah coklat ayam ini. Bungkus coklat ini terbuat dari kertas putih dengan gambar ayam jago. Begitu dibuka, ada sebuah coklat mini yagg masih dibungkus aluminium foil itu. Coklatnya empuk dan enak. Biasanya saya kurang begitu suka jika setelah beli langsung dimakan.Jika saya membelinya ketika berada di rumah nenek, maka coklat tersebut segera saya letakkan di freezer. Setelah membeku dan keras, baru kemudian saya makan. Jika saya beli ketika berada di rumah orang tua saya yang tidak ada kulkasnya, saya akan beli es kebo (es teh manis sebesar kepalan tangan), kemudian memasukkan coklat ayam jago dan es ke dalam gelas. Setelah coklat membeku dan mengeras, barulah saya menikmatinya. Beku lebih nikmat.

Permen Sugus

Dengan bentuk kotak dan dengan aneka rasa, permen ini dijual satuan seharga dua puluh lima rupiah per buah atau satu kotak dengan isi beberapa buah dengan harga sekitar kurang lebih tiga ratus rupiah. Rasanya lumayan enak, cuma yang agak mengganggu adalah sering menempel di gigi jika kita langsung menggigitnya.

Permen Coco Rico

Sepengetahuan saya, permen rasa coklat ini tidak dijual satuan, tapi satu bungkus. Isinya mungkin kurang lebih sekitar sepuluh buah. Bagi saya, permen ini mungkin tergolong mewah karena saya membelinya atau lebih tepatnya dibelikan hanya dalam peritiwa tertentu saja, misalnya jika mau pergi ke tempat wisata yang diadakan sekolah.

Chiklet

Sama halnya dengan permen Coco Rico, permen ini tidak dijual satuan. Bentuknya seperti kotak dengan warna putih. Rasanya seperti mint. Bagian luarnya keras, tapi begitu digigit, bagian dalamnya terasa seperti permen sugus.

Yosan Permen Karet

Mungkin karena ingin meniru sesuatu yang lagi ‘in’ saat itu, saya jadi mencoba permen karet ini dan belajar bagaimana membuat gelembung seperti gayanya Lupus.

Jagoan Neon

Kalau makan permen ini lidah jadi berubah warna sesuai dengan rasa permen yang dimakan. Pernah nyoban sekali tapi kurang begitu suka.

Jajanan Lain

Es Goyan
g

Nah yang terakhir ini, jajanan yang enggak ada mereknya. Di sekolah dulu, peminatnya cukup banyak. Kadang kalau sudah habis, saya sempat melihat-lihat penjualnya membuat es tersebut. Cairan yang entah terbuat dari apa dimasukkan ke dalam cetakan, kemudian dimasukkan sepotong bambu atau kayu kecil yang sudah dilapisi dengan kertas atau tissue. Kemudian pak penjual es menggoyang-goyangkan gerobaknya beberapa kali. cairan tadi langsung membeku, Es goyang sudah jadi. Untuk menambah sensasi rasa, bisa langsung dicelupkan ke coklat cair yang disediakan. Dan langsung… leppppp!

Baca Tulisan Lainnya: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya Terakhir

51 respons untuk ‘Djadjanan Tempo Doeloe

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s