Buah Pendidikan : Tak Ada Kata Maaf

im-sorryMalam itu saya sedang bertransaksi untuk menujual laptop saya di salah satu stand komputer di Depok Town Square. Setelah tawar-menawar akhirnya harga disepakati. Sejumlah uang saya terima dari pemilik stand tersebut, Mas Dodi (bukan nama sebenarnya), dan laptop pun berpindah ke tangannya. Namun karena di dalam laptop tersebut ada beberapa data yang masih saya perlukan, akhirnya saya meminta Mas Dodi untuk melakukan backup data saya tersebut.Sambil menunggu proses backup data tersebut terjadilah percakapan di antara kami. Mulai dari harga sewa stand, tempat tinggal, hingga masalah pendikan anak.

Di antara banyak topik pembicaraan tersebut, masalah pendidikan anaklah yang sepertinya paling banyak kami perbincangkan. Mungkin lantaran kami juga memiliki anak yang baru berusia dua tahunan yang nantinya pasti akan merasakan bagaimana dunia pendidikan itu.

“Anaknya kelas berapa, Mas?”

“Kelas lima. Baru pindah sekolah. Sempat stress juga dia,” jawab Mas Dodi.

“Stress? Kenapa, Mas?” tanya saya dengan sedikit kaget.

“Waktu kami tinggal di Depok, dia saya sekolahkan di Global (nama sekolah swasta Islam di Depok). Meskipun uang bayarannya mahal, saya tenang menitipkan anak saya di sana. Pelajaran umumnya dapat, pelajaran agamanya juga ada, ditambah lagi ada kegiatan ekstrakuliluler. Namun, yang paling penting lagi, Mas, adalah masalah budi pekertinya. Di rumah, kalau boleh dibilang, saya enggak perlu mengajarkan ini itu, dianya sudah ngerti. Karena semuanya sudah diajarkan para gurunya di sekolah. Mulai dari tata cara sholat, doa-doa, sampai dengan sopan santun.”

“Beberapa bulan lalu, kami pindah ke Lenteng Agung, mau tidak mau, sekolahnya pindah juga ke skolah negeri. Beberapa hari sekolah di sana, dia mulai ngeluh. Waktu ditanya kenapa, dia langsung bilang ‘Tidak ada kata maaf, Yah’. Maksudnya, ketika dalam bergaul atau bermai, ada anak yang melakukan kesalahan kepada temannya, anak yang berbuat salah tidak meminta maaf kepada teman tersebut. Suasana yang jauh berbeda dengan sekolah sebelumnya,” tutur Mas Dodi panjang lebar.

Kisah Mas Dodi tersebut mengingatkan saya dengan kata-kata yang tertulis di sampul buku tulis yang pernah saya gunakan ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Tulisan tersebut kira-kira berbunyi, “Tujuan utama dari sebuah pendidikan bukanlah menciptakan anak yang memiliki daya intelektual yang tinggi, tetapi menghadirkan budi pekerti yang baik di setiap diri anak didik.”

Lantas, benarkah dunia pendidikan sekarang ini lebih mengutamakan nilai-nilai prestasi dan mengesampingkan nilai-nilai budi pekerti? Jawaban pastinya, hanya Allah yang lebih tahu. Namun, jika saya bandingkan kondisi di masa-masa saya sekolah dulu di mana hanya sedikit atau mungkin hampir tak pernah ada berita tentang tawuran antar pelajar, tindak kriminal yang dilakukan pelajar, dan berita-berita negatif lainnya yang terkait dengan pelajar. Tapi kini, sepertinya ada saja berita mengenai pelajar atau mahasiswa yang mencoreng dunia pendidikan. Miris. Belum lagi stock tenaga kerja yang dihasilkan sekolah tinggi atau pun universitas kian bertambah yang tak sebanding dengan daya tampung lapangan kerja yang tersedia. Sepertinya ada yang salah dengan sistem pendidikan di negeri kita. Walahu a’lam.

—-ooo000ooo—

Rasulullah SAW. bersabda:

إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).


Tulisan Terkait Lainnya :

45 thoughts on “Buah Pendidikan : Tak Ada Kata Maaf

  1. tintin1868 Oktober 18, 2010 / 00:00

    lenteng agung kan ga jauh dari depok, kenapa juga pindah dari global ke negri? kualitas jaoooooh banget.. ya pendidikan ya moral.. tapiiiiiiiiiiii biar gimana juga yang kudu mengajarkan soal moral tetap orangtua loh bukan sekolah.. kebangetan kalu kata maaf doang yang sopan gitu ga diajarkan di rumah.. gimana gedenya kalu kecil2 udah gitu ya?*gemes..

  2. jampang Oktober 18, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: lenteng agung kan ga jauh dari depok, kenapa juga pindah dari global ke negri? kualitas jaoooooh banget.. ya pendidikan ya moral.. tapiiiiiiiiiiii biar gimana juga yang kudu mengajarkan soal moral tetap orangtua loh bukan sekolah..

    kepindahan tersbut juga ada kaitannya sama tingkat ekonomi, mbak. cuma saya tidak paparkan…. harusnya dijelaskan juga yah :)tanggung jawab utama memang tetap pada orang tua di rumah.*mudah2an bisa jadi ortu yang baik wat Syaikhan*

  3. ucixholic Oktober 18, 2010 / 00:00

    kesian …padahal guru di sekolah (harusnya) bisa jadi the second’s parent ;'(

  4. tintin1868 Oktober 18, 2010 / 00:00

    ucixholic said: kesian …padahal guru di sekolah (harusnya) bisa jadi the second’s parent ;'(

    artinya guru sekolah negri juga kudu ditatar nih ya.. 😦

  5. tintin1868 Oktober 18, 2010 / 00:00

    jampang said: kepindahan tersbut juga ada kaitannya sama tingkat ekonomi, mbak. cuma saya tidak paparkan…. harusnya dijelaskan juga yah :)tanggung jawab utama memang tetap pada orang tua di rumah.*mudah2an bisa jadi ortu yang baik wat Syaikhan*

    biar jelas gitu mas.. 😀 kalu jaoooh sih gapapa pindah ke priok misalnya..

  6. nawhi Oktober 18, 2010 / 00:00

    sekolah swasta emang biasanya lebih bagus tapi biayanya juga ‘bagus’ he he he

  7. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    ucixholic said: padahal guru di sekolah (harusnya) bisa jadi the second’s parent ;'(

    iya mbak… harus ada solusi.

  8. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: artinya guru sekolah negri juga kudu ditatar nih ya.. 😦

    mungkin belu jadi guru sebenar-benarnya guru, yang digugu dan ditiru

  9. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: biar jelas gitu mas.. 😀 kalu jaoooh sih gapapa pindah ke priok misalnya..

    hm… makasih mbak, masukannya.di lain waktu mudah2an bisa saya ingat kalau nulis harus detil 🙂

  10. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    nawhi said: sekolah swasta emang biasanya lebih bagus tapi biayanya juga ‘bagus’ he he he

    harga menentukan kwalitas 🙂

  11. ucixholic Oktober 19, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: artinya guru sekolah negri juga kudu ditatar nih ya.. 😦

    padahal bukannya mereka udah sering penataran ya…xixixiixixixixix

  12. ucixholic Oktober 19, 2010 / 00:00

    jampang said: iya mbak… harus ada solusi.

    bahkan sekolah yang bercover Islami pun gak selalu jaminan bang …*that’s what a mother for hihihihihi gak nyambung

  13. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    ucixholic said: padahal bukannya mereka udah sering penataran ya…xixixiixixixixix

    ikut penataran, cuma engak sampe ke hati 🙂

  14. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    ucixholic said: bahkan sekolah yang bercover Islami pun gak selalu jaminan bang …*that’s what a mother for hihihihihi gak nyambung

    ibu adalah sekolah pertama dan utama.*mohon banget kpada para wanita agar bisa menjadi ibu yang bak*

  15. niwanda Oktober 19, 2010 / 00:00

    Setuju bahwa tanggung jawab tetap ada di ortu, walaupun tantangan di luar begitu hebatnya.

  16. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    niwanda said: Setuju bahwa tanggung jawab tetap ada di ortu, walaupun tantangan di luar begitu hebatnya.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi .” (HR Bukhari 1296)

  17. anotherorion Oktober 19, 2010 / 00:00

    memang gitu mas menurutku pendidikan sekarang lebih fokus ke nilai, ujian pake UN ya model2 gitu mas, pemerintah cuma mikir standar nilai, meskipun saya sendiri ga yakin nilai diatas kertas bisa dijadikan representasi kemampuan anak.

  18. ucixholic Oktober 19, 2010 / 00:00

    jampang said: ibu adalah sekolah pertama dan utama.*mohon banget kpada para wanita agar bisa menjadi ibu yang bak*

    yup*baiklah ,,,, semoga nanti saya bisa jadi ibu yang baik xixixixixi

  19. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    anotherorion said: meskipun saya sendiri ga yakin nilai diatas kertas bisa dijadikan representasi kemampuan anak.

    saya juga, mas.karena pelajaran selama sekina tahun gak bisa diukur dalam waktu 1 – 2 jam ujian.

  20. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    ucixholic said: *baiklah ,,,, semoga nanti saya bisa jadi ibu yang baik xixixixixi

    aamiin…aamiiin

  21. fahranza Oktober 19, 2010 / 00:00

    Kalau begitu, udah waktunya “mas Dodi” dan istri yang melatih anaknya dirumah :)Kan ortu yang harusnya dominan dan bertanggung jawab mendidik putraputrinya, guru disekolah hanya membantu…

  22. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    fahranza said: Kalau begitu, udah waktunya “mas Dodi” dan istri yang melatih anaknya dirumah :)Kan ortu yang harusnya dominan dan bertanggung jawab mendidik putraputrinya, guru disekolah hanya membantu…

    yup, semua orang tua harusnya begitu…kalau pun ada pihak lain, mereka hanya membantu

  23. hwibntato Oktober 19, 2010 / 00:00

    wah, senang membaca tulisanmu, Mas …

  24. agustam Oktober 19, 2010 / 00:00

    Ya maaf kalo sekolah sekolah islam itu mahal..

  25. fightforfreedom Oktober 19, 2010 / 00:00

    “Maaf” adalah menempati urutan pertama di antara 10 Ucapan Dahsyat Orang-Orang Sukses. (di buku “Ten Powerful Phrases for Postive People”).wah, berarti anak sampeyan bakatnya udah tertanam untuk menjadi pribadi yang sukses. selamat.

  26. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    hwibntato said: wah, senang membaca tulisanmu, Mas …

    duh, terima kasih, mas 🙂

  27. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    agustam said: Ya maaf kalo sekolah sekolah islam itu mahal..

    mudah2an nanti bisa juga jadi gratis 🙂

  28. jampang Oktober 19, 2010 / 00:00

    fightforfreedom said: “Maaf” adalah menempati urutan pertama di antara 10 Ucapan Dahsyat Orang-Orang Sukses. (di buku “Ten Powerful Phrases for Postive People”).wah, berarti anak sampeyan bakatnya udah tertanam untuk menjadi pribadi yang sukses. selamat.

    yang diceritakan di atas bukan anak saya, mas :)tapi anak orang yang membeli laptop saya

  29. fightforfreedom Oktober 19, 2010 / 00:00

    waduh… salah nyimak.. ampun.. ampun.. maaf :)yaudah, jangan lupa anak mas jampang juga diajari kata “maaf” ya

  30. jampang Oktober 20, 2010 / 00:00

    fightforfreedom said: waduh… salah nyimak.. ampun.. ampun.. maaf :)yaudah, jangan lupa anak mas jampang juga diajari kata “maaf” ya

    gpp, mas :)insya Allah.

  31. sukmakutersenyum Desember 22, 2010 / 00:00

    jampang said: Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi .” (HR Bukhari 1296)

    betul betu betulorang tua yang “pegang kendali” utama…

  32. sukmakutersenyum Desember 22, 2010 / 00:00

    agustam said: Ya maaf kalo sekolah sekolah islam itu mahal..

    ono rego, ono rupo, kalo kata org Jawagimana ya caranya supaya sekolah islam bisa lebih murahdenger2 anak muslim yang sekolah di sekolah berbasis agama nonmuslim biayanya lebih murah lhoketerangan dari beberapa teman dan saudara yang sekolah di sana

  33. sukmakutersenyum Desember 22, 2010 / 00:00

    tapi, kasih sayang ortusemahal apapun pendidikan, demi melihat anak2nya “jadi orang”apapun dilakukan deh…hiks luv my mommy n my daddy

  34. jampang Desember 23, 2010 / 00:00

    sukmakutersenyum said: betul betu betulorang tua yang “pegang kendali” utama…

    mudah2an kelak kita semua bisa menjadi orang tua yang bisa mendidik anak-anak kita dengan sebaik2nya… aamiin

  35. jampang Desember 23, 2010 / 00:00

    sukmakutersenyum said: ono rego, ono rupo, kalo kata org Jawagimana ya caranya supaya sekolah islam bisa lebih murahdenger2 anak muslim yang sekolah di sekolah berbasis agama nonmuslim biayanya lebih murah lhoketerangan dari beberapa teman dan saudara yang sekolah di sana

    dulunya saya dapat info, sekolah islam mahal itu di awal-awal aja karena yang namanya investasi itu mahal, dengan harapan di kemudian hari kelak bisa jadi murah…. tapi sepertinya belum jadi kenyataan saat ini

  36. sukmakutersenyum Desember 23, 2010 / 00:00

    jampang said: mudah2an kelak kita semua bisa menjadi orang tua yang bisa mendidik anak-anak kita dengan sebaik2nya… aamiin

    amiiiiin 🙂

  37. sukmakutersenyum Desember 23, 2010 / 00:00

    jampang said: dulunya saya dapat info, sekolah islam mahal itu di awal-awal aja karena yang namanya investasi itu mahal, dengan harapan di kemudian hari kelak bisa jadi murah…. tapi sepertinya belum jadi kenyataan saat ini

    semoga kelak jadi nyata amiiin 🙂

  38. jampang Desember 23, 2010 / 00:00

    sukmakutersenyum said: semoga kelak jadi nyata amiiin 🙂

    mudah2n gak lama lagi, soalnya syaikhan sudah mau masuk usia sekolah 🙂

  39. orinkeren Desember 23, 2010 / 00:00

    ikut mengaminkan. amiiiiiiiin amiiiiiin

  40. jampang Desember 23, 2010 / 00:00

    orinkeren said: ikut mengaminkan. amiiiiiiiin amiiiiiin

    terima kasih

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s