Tiga Buah Teko : Yang Terkenang Dari Malang

sumber

Sambil menyelam minum air, mungkin itulah yang saya lakukan selama beberapa hari yang lalu di Malang. Selain melaksanakan tugas atau pekerjaan kantor, saya mendapat kesempatan untuk bertemu alias kopdar dengan salah satu MPers yang sebenarnya sudah cukup lama jadi kontak saya, Ihwan. Dan sepertinya, ini adalah kopdar pertama kali sepanjang sejarah hidup saya dengan anggota MP.Dari bandara, pesawat yang saya tumpangi berangkat sekitar pukul dua siang. Tiba di Surabaya sekitar pukul setengah empat. Konfirmasi dengan travel yang sudah menunggu di tempat, berangkat ke Malang sekitar lima belas menit lagi. Tapi, ternyata molor hampir satu setengah jam.

Sekitar dua jam yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari Surabaya Ke Malang. Niat semula ingin mengecek kondisi jaringan di ruang dan kantor yang akan digunakan untuk acara keesokan harinya. Tapi karena saat tiba ditempat, tuan rumahnya belum datang dan perut sudah lapar, akhirnya saya makan malam dulu di Warung Tenda Biru yang letaknya persis di depan kantor.

Saya sempatkan untuk mengirim SMS kepada Ihwan mengirim kabar. Kesepakat saat itu, kami akan bertemu di hotel. Tapi karena saya belum dapat hotel untuk menginap, waktu pertemuan diundur.

Ternyata, malam itu hotel-hotel yang mimiliki bintang sudah full semua. Ada yang tersisa tapi hanya untuk satu malam saja. Ada juga yang tersisa berupa kamar untuk keluarga. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya ada juga hotel yang kosong meski bukan yang berbintang.

Saya kirim SMS kembali ke Ihwan. Tak lama kemudian, Ihwan sudah tiba di hotel.

Singkat kata kami pun mulai bertukar cerita. Dari sinilah kisah ketiga teko bermula.

Teko Pertama : Setiap Ide Ada Sumbernya

Teko yang ini milik Ihwan, karena dia sendiri yang langsung bercerita tentang kondisi tulis-menulis yang dianalogikan seperti sebuah teko.

Menurutnya, proses tulis-menulis itu ibarat teko. Hasil yang keluar dalam bentuk tulisan adalah isi teko yang dituangkan ke dalam cangkir atau gelas. Jika semua isi teko sudah dituangkan dan di dalamnya kosong, maka perlu dilakukan pengisian ulang. Menurutnya lagi, cara mengisi ulang itu adalah dengan membaca.

Ungkapan tersebut mengingatkan saya dengan dua orang yang hanya saya kenal dari tulisan-tulisannya.

Orang pertama adalah seorang rekan kerja dalam satu instansi tapi hingga detik ini saya belum pernah bertemu muka dengan beliau. “Kemampuan menulis itu berbanding lurus dengan ketekunan kita membaca.” Begitulah kira-kira kalimat yang diucapkan beliau.

Orang kedua adalah seorang penulis yang sering saya ‘ambil’ artikel di blognya pernah menceritakan dalam salah satu tulisannya, bahwa ketika beliau pindah rumah, sebagian besar kardus yang dibawa penuh berisi dengan buku-buku. Maka tak heran jika beliau begitu produktif dalam membuat artikel-artikel penuh dengan nasihat-nasihat dan petuah-petuah bijak.

Rupanya, kawan saya dari Malang yang berbicara dengan saya malam itu memiliki pandangan yang sama dan mereka. Tak heran jika dia sudah menghasilkan dua novel sebagai hasil karyanya. Sementara saya, membaca bukan hobi saya. Selain buku pelajaran semasa sekolah dan kuliah, hanya beberapa buku saja yang pernah saya baca sampai habis. Kado Pernikahan Untuk Istriku dan Di Jalan Dakwah Aku Menikah, itu mungkin salah dua buku yang saya baca tuntas. Itu pun saya baca dalam rangka persiapan menikah. Novel Wiro Sableng (kalau ini dikategorikan sebagai buku) juga pernah saya baca sekian episode saat SMP dan SMA.

Teko Kedua : Biarkan Rezeki Itu Mengalir

Karena hotel yang saya tempati bukan hotel berbintang, maka tak ada minuman ringan atau air mineral dalam botol. Yang ada hanyalah air putih dalam sebuah teko dengan dua gelas di atas nampan yang diletakkan di sebelah tempat tidur. Teko itulah mengingatkan saya tentang rezeki.

Setiap orang sudah ada jatah rezeki yang Allah berikan. Sebanyak dan selapang apa, itu sudah jadi hak prerogatif Allah. Tugas seorang hamba hanyalah sebatas bekerja dan berusaha serta berdoa.

Mungkin suatu ketika kita merasa rezeki (yang biasanya diukur dalam bentuk uang, padahal tidak selalu demikian) yang ada tidak bertambah-tambah. Apa yang sudah di depan mata, lenyap begitu saja. Mungkin teko yang menjadi takaran rezeki kita memang sudah penuh. Rezeki yang mau datang tidak bisa lagi ditampung dan akhirnya tumpah. Ada baiknya kita menuangkan sebagian dari rezeki dari teko yang kita miliki ke dalam cangkir atau gelas. Sehingga bila ada ruang kosong dalam teko tersebut, rezeki yang baru bisa mengisi kekosongan tersbut.

Teko Ketiga : Gold In Gold Out

Apa yang keluar dari dalam sebuah teko adalah apa yang ada di dalamnya. Jika di dalamnya teh, maka yang keluar dari teko tersebut adalah teh. Jika kopi yang tersedia di dalamnya, maka yang keluar saat mulut teko tersebut dimiringkan ke dalam cangkir, sudah pasti yang keluar adalah kopi. Seperti itulah diri kita.

Apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, bisa jadi suatu pencerminan dari apa yang tersembunyi dari dalam diri kita. Jika kondisi jiwa dan hati kita baik maka apa yang kita keluarkan insya Allah akan baik. Sebaliknya, jika kondisi hati dan jiwa kita tidak baik, maka apa yang kita ucapkan dan kita lakukan menjadi tidak baik.

Namun demikian, tak layak dan tak pantas bagi kita untuk menilai bahwa seseorang itu hati dan jiwanya jelek karena melihat apa yang dia lakukan atau mendengar apa yang dia ucapkan pada suatu waktu. Karena masalah hati termasuk dalam kelompok sesuatu yang ‘ghaib’ di mana hanya Allah dan orang tersebut saja yang tahu, tak patut kita menilai sebuah buku hanya dari tampilan sampulnya saja. Namun demikian, yang paling utama adalah baik di hati dan baik diperbuatan.

Wallahu a’lam.

—ooo000ooo—

dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
lukislah sebuah senyuman di bibirmu
karena itu indah
bak mentari pagi yang memberikan keceriaan hari
laksana langit senja yang pamit menghdirkan ketenangan angkasa dengan bulan dan gemintang
bagi yang memandang

dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
rangkailah kata bijak di setiap kalimatmu
karena itu indah
seperti nyanyian burung yang berterbangan di sela dahan
bagaikan kidung serangga pengisi taman malam
bagi yang mendengar

dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
eratkanlah sesama di hatimu
karena itu indah
bak tali pemersatu
laksana titian penghubung
bagi sebuah ukhuwah

dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
bacalah bentangan semesta raya
karena itu indah
ketika deru ombak berpadu dengan awan berarak
di saat alam bersatu dari kemajemukan raga
bagi yang berpikir

dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
satukanlah niat dan kata dalam nyata
karena itu indah
bila lisan sejalan hati
jika hati seiring perbuatan
bagi yang merasa

36 respons untuk ‘Tiga Buah Teko : Yang Terkenang Dari Malang’

  1. anotherorion November 14, 2010 / 00:00

    eh penggemar novel wiro sableng juga yah mas, dulu aku juga sering pinjem punya temen hihihi

  2. thetrueideas November 14, 2010 / 00:00

    masih sama jarak tempuhnya ya, 2 jam, kirain gegara lumpur lapindo, jadi semakin lama jarak tempuhnya…baidewai, memang, salah satu inspirasi yang bisa muncul, karena rajin membaca…

  3. jampang November 14, 2010 / 00:00

    anotherorion said: eh penggemar novel wiro sableng juga yah mas, dulu aku juga sering pinjem punya temen hihihi

    iyah, dulu mas. minjam juga.

  4. jampang November 14, 2010 / 00:00

    thetrueideas said: masih sama jarak tempuhnya ya, 2 jam, kirain gegara lumpur lapindo, jadi semakin lama jarak tempuhnya…baidewai, memang, salah satu inspirasi yang bisa muncul, karena rajin membaca…

    di kawasan lumpurnya, alhamdulillah, lancar mas. katanya seh emang sering macet 🙂

  5. jampang November 14, 2010 / 00:00

    anotherorion said: tos atuh nek gitu

    dan waktu ngeliat sinetronnya…. gak seseru novelnya 🙂

  6. hwibntato November 14, 2010 / 00:00

    tulisan ini juga isi yang mengucur dari teko …isi yang baik insya Allah …

  7. jampang November 14, 2010 / 00:00

    hwibntato said: isi yang baik insya Allah …

    aamiin. semoga bermanfaat…. terutama wat diri sendiri

  8. miftamifta November 14, 2010 / 00:00

    *OOT*poto kopdarnya mana pak:D

  9. jampang November 14, 2010 / 00:00

    miftamifta said: *OOT*poto kopdarnya mana pak:D

    sebentar lagi….

  10. nawhi November 14, 2010 / 00:00

    jampang said: Namun demikian, tak layak dan tak pantas bagi kita untuk menilai bahwa seseorang itu hati dan jiwanya jelek karena melihat apa yang dia lakukan atau mendengar apa yang dia ucapkan pada suatu waktu.

    jadi menilainya nggak bisa hanya sekali aja ya Mas.seperti yang kemarin itu, saya sih melihat orang yang mengeluarkan statement itu aslinya baik, hanya saja mungkin pas lagi baca blog saya kondisi hatinya lagi ga baik. demikian juga saya, pas kemarin itu lagi agak sensi jadi kesenggol dikit langsung main ‘hantam’ he he he

  11. tintin1868 November 14, 2010 / 00:00

    kisah tiga teko.. ga ikutan lomba teman maya sekalian mas..

  12. tintin1868 November 14, 2010 / 00:00

    nawhi said: jadi menilainya nggak bisa hanya sekali aja ya Mas.seperti yang kemarin itu, saya sih melihat orang yang mengeluarkan statement itu aslinya baik, hanya saja mungkin pas lagi baca blog saya kondisi hatinya lagi ga baik. demikian juga saya, pas kemarin itu lagi agak sensi jadi kesenggol dikit langsung main ‘hantam’ he he he

    oh kopdar pertama sama ini ya mas..

  13. jampang November 14, 2010 / 00:00

    nawhi said: jadi menilainya nggak bisa hanya sekali aja ya Mas.seperti yang kemarin itu, saya sih melihat orang yang mengeluarkan statement itu aslinya baik, hanya saja mungkin pas lagi baca blog saya kondisi hatinya lagi ga baik. demikian juga saya, pas kemarin itu lagi agak sensi jadi kesenggol dikit langsung main ‘hantam’ he he he

    ya begitulah kira2.yang baik ada kalanya tersandung,yang buruk ada kalanya tersadar….mudah2an kita bisa selalu dalam keadaan baik selamanya, aamiin

  14. jampang November 14, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: kisah tiga teko.. ga ikutan lomba teman maya sekalian mas..

    hmm… belum diputusin mbak.

  15. jampang November 14, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: oh kopdar pertama sama ini ya mas..

    iya mbak :)kopdar pertama kali

  16. nawhi November 15, 2010 / 00:00

    tintin1868 said: oh kopdar pertama sama ini ya mas..

    Ihwan Mbak nama saya, bukan ini wekekeke.

  17. nawhi November 15, 2010 / 00:00

    jampang said: hmm… belum diputusin mbak.

    wah siap-siap saingan lagi neh 😛

  18. nawhi November 15, 2010 / 00:00

    Wah beruntung banget aku ya jadi kopdar pertama kalinya Bang Jampang. ayo siapa mau menyusul??

  19. tusanda November 15, 2010 / 00:00

    tulisan yang bagus massalam kenal,yamawww.meluya.com

  20. fightforfreedom November 15, 2010 / 00:00

    perumpamaan yg sangat bagus, mas, sangat bermanfaat 🙂

  21. jampang November 15, 2010 / 00:00

    nawhi said: wah siap-siap saingan lagi neh 😛

    xixixixi…nunggu deti2 terakhir 🙂

  22. jampang November 15, 2010 / 00:00

    nawhi said: Wah beruntung banget aku ya jadi kopdar pertama kalinya Bang Jampang. ayo siapa mau menyusul??

    siapin catetan dan nyamain dengan kalender tugas luar daerah lagi… (kalau dapat lgi…. xixixixixixixi)

  23. jampang November 15, 2010 / 00:00

    tusanda said: tulisan yang bagus massalam kenal,yamawww.meluya.com

    terima kasih. salam kenal juga

  24. jampang November 15, 2010 / 00:00

    fightforfreedom said: perumpamaan yg sangat bagus, mas, sangat bermanfaat 🙂

    alhamdulillah ….

  25. cawah Juni 22, 2011 / 00:00

    wah semakin menguatkan bab TEKO :)jd teringat pesan n tausiah ust @aagym_dt terus nih

  26. jampang Juni 23, 2011 / 00:00

    cawah said: wah semakin menguatkan bab TEKO :)jd teringat pesan n tausiah ust @aagym_dt terus nih

    inget yg baik2 🙂

  27. herma1206 Desember 21, 2012 / 10:20

    Filosofi teko..maknanya bisa bermacam2..jazakallah mas rifki, terutama utk point terakhir..:)

    Oh iya…sy juga tdk terlalu gemar membaca, jenis buku yg suka sy baca hanya novel,hehe…plus segala sesuatu yg berkaitan dgn sejarah..

    • jampang Desember 21, 2012 / 13:33

      sama-sama, mbak

      sejarah secara umum atau sejarah tertentu. masa lalu juga sejarah. 🙂

  28. herma Desember 21, 2012 / 22:01

    apapun…yg penting segala sesuatu yg berkaitan dgn cerita2 nyata di masa lalu…

    • jampang Desember 24, 2012 / 20:27

      kalau begitu buku saya yang jejak2 terserak itu masuk kategori mbak 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s