Lelaki dan Gerimis

hujan

Dipandanginya langit malam yang masih juga belum berubah sejak sore tadi. Mendung dan kelam. Rintik gerimis masih menghiasi. Dia alihkan pandangannya ke lelaki kecil di sampingnya. Sebuah keraguan muncul. Segera membawanya pulang dengan mengendarai motor di bawah siraman gerimis atau menunggu rintiknya berhenti. Jika dia pulang sekarang, sudah pasti dirinya dan lelaki kecilnya kan basah. Sementara jika menunggu gerimis berhenti, entah sampai kapan. Jika semakin larut, angin malam juga tak bagus untuk lelaki kecilnya. Apalagi dia mendengar salah seorang yang berdiri di belakangnya berujar bahwa gerimis seperti ini akan lama berhentinya.Setelah cukup lama pikirannya bergelayut dalam keraguan, akhirnya dia putuskan untuk pulang di bawah gerimis. Dia bungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki kecilnya.

“Kita pulang sekarang ya, Nak!” ucapnya.

Lelaki kecil itu hanya diam dan pasrah saja ketika sang Bapak mengenakan jaket ke tubuhnya. Selanjutnya, sehelai kain yang dijadikan sebagai pengaman pun ikut dililitkan ke tubuhnya. Lalu keduanya sudah berada di atas motor yang langsung melaju menembus gerimis.

Lelaki itu memacu motornya di sela-sela kendaraan lain. Sesekali dia menangkap pandangan mata yang seolah-olah berkata, “Kok tega membawa anak kecil saat gerimis seperti ini?” Namun dia coba mengacuhkan prasangka itu. Toh orang-orang tersebut tidak tahu dan tidak mengerti apa yang sedang bergejolak di hatinya. Dia tetap melaju.

Namun seiring semakin basah pakaiannya dan pakaian lelaki kecilnya, dia tak kuasa untuk menahan air matanya. Dia menangis mengiringi sang gerimis.

“Maafkan Bapak, ya Nak, karena mengajakmu menikmati gerimis ini. Doakan saja, semoga gerimisnya tidak menjadi besar!” pintanya.

Lelaki kecil itu menganggukkan kepalanya dua kali. Sementara wajahnya terbenam di dada sang Bapak.

“Doakan ya, Nak, semoga jalan yang kita lalui nanti tidak macet dan bisa cepat tiba di rumah!”

Lelaki kecil itu kembali mengangguk dua kali.

“Doakan ya, Nak, semoga Bapak dapat rezeki yang banyak supaya bisa beli mobil dan kita tidak akan hujan-hujanan kalau ingin jalan-jalan!” tangisnya tak tertahan.

Untuk kesekian kali, lelaki kecilnya menganggukkan kepalanya, mengamini doa sang Bapak.

Tak lama berselang, lelaki kecilnya tertidur pulas. Dia berharap, lelaki kecilnya bermimpi tentang kehangatan tempat tidur dan selimut tebalnya. Sementara dirinya masih berlinang air mata. Rupanya, gerimis itu adalah gerimis yang mengundang luka lamanya terkuak kembali.

Dua tahun yang lalu, saat gerimis membasahi bumi, dia mendapatkan berita bahwa seseorang yang dipercayainya dalam sebuah ikatan kerjasama membocorkan rahasia perusahaan dan mengakibatkan dirinya mengalami kerugian moril dan materil.

Setahun yang lalu, saat rintik gerimis membasahi dedaunan, dahan, ranting, dan rerumputan, dia mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya lebih bersimpati dan berempati kepada musuhnya dibandingkan kepada dirinya.

Beberapa bulan yang lalu, di malam dingin yang masih menyisakan irama rintik hujan di atap kamarnya, dia mendapati bahwa haknya telah diserahkan paksa kepada orang lain yang tidak dia dikenal. Padahal secara ketentuan hukum, dia adalah satu-satunya orang yang berhak.

Perjalanan malam itu sudah separuh jalan. Namun lelaki itu masih saja menangis.

“Sampai kapan tuan kan menangis?” sapa rintik gerimis mencoba menghibur hatinya.

“Jika masih ada dirimu di hari-hari kehidupanku, sepertinya aku akan menangis dan menangis,” jawabnya dengan terisak.


Baca Juga Cerpen Lainnya :

58 respons untuk ‘Lelaki dan Gerimis

  1. jampang Desember 10, 2010 / 00:00

    ipie said: *tangkep… dipelihara… :p

    *naganya gede… teh ipie dicaplok…. nyam…nyam

  2. ipie Desember 10, 2010 / 00:00

    jampang said: *naganya gede… teh ipie dicaplok…. nyam…nyam

    *pasrah… kitik2 hati naga…. biar geli trus ketawa…

  3. jampang Desember 10, 2010 / 00:00

    ipie said: *pasrah… kitik2 hati naga…. biar geli trus ketawa…

    *naga ketawa… jadi langsung nelen

  4. ipie Desember 10, 2010 / 00:00

    jampang said: *naga ketawa… jadi langsung nelen

    *pegangan di lidah naga

  5. jampang Desember 10, 2010 / 00:00

    ipie said: *pegangan di lidah naga

    *ngeloyor pergi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s