Begini Rasanya Tertimpa Batang Pohon

pohon

Senja nan mendung. Langit berselubung awan hitam. Rintik-rintik gerimis mulai menyapa bumi Jakarta. Saya yang baru saja keluar dari areal parkir, langsung mempercepat laju motor. Saya berharap tiba di salah satu masjid untuk shalat Maghrib sebelum gerimis menjadi hujan.

Beberapa ratus meter sebelum Jalan Tendean, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Daun-daun kering dan layu berterbangan. Butiran-butiran debu pun sempat singgah di mata saya sehingga menggangu pemandangan untuk beberapa saat.Di hadapan saya, antrian mobil yang bergerak searah dengan tujuan saya sudah memanjang. Bersama motor yang saya kendarai, saya mencoba mencari ruang gerak. Alhamdulillah, saya tak terjebak di antara mobil-mobil tersebut.

Sekitar beberapa puluh meter lagi menuju Jalan Tendean, angin kencang bertiup kembali. Lebih hebat dari sebelumnya. Dedaunan, baik yang kering atau layu kembali berterbangan. Saya tetap melaju di atas motor meski dengan perlahan. Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, saya mendengar sesuatu.

“Kraak…Kraak… Kraak!”

Selanjutnya, saya terjatuh dari sepeda motor. Entah terkejut, entah terasa sakit, saya tidak bisa langung bangun. Beberapa orang datang sambil berlari. Satu orang mendirikan motor saya dan membawanya ke pinggir jalan. Satu orang lagi memapah saya ke pinggir jalan. Namun karena ada orang lain yang berteriak agar saya dibawa ke dalam warung, saya pun mengikuti kemana langkah orang yang memapah saya. Kaki saya terasa sakit. Saya melangkah dengan tertatih.

Di dalam sebuah warung, saya dipersilahkan duduk. Barulah di saat duduk itu saya merasakan sakit di pundak saya yang melebihi sakit di kaki saya. Saya tak bisa menggerakkan tangan kiri saya. Di bagian depan, agak ke bawah sedikit dari bahu, saya rasakan ada bagian yang menonjol. Patah? Saya tida tahu, tapi yang jelas terasa sakit.

Dari orang yang menolong, saya mendapat informasi bahwa saya tertimpa batang pohon yang patah. Dari tempat saya duduk, saya dapat melihat sebatang pohon yang mungkin seukuran betis orang dewasa tergeletak di seberang jalan. Untuk mengurangi kemacetan, beberapa orang mulai menyingkirkan dan memotong-motong batang pohon tumbang tersebut. Sementara yang lain, berteriak dan memerintahkan para pengendara untuk menghindari lokasi kejadian. Khawatir ada batang pohon yang akan patah lagi atau bahkan tumbang.

“Abang enggak apa-apa?” tanya lelaki muda pemilik warung.

“Pundak saya yang sakit,” jawab saya sambing memegangi pundak kiri saya.

“Untung tadi ada mobil di samping, Abang. Kalau enggak ada mobil, batang pohonnya langsung kena Abang,” ceritanya. “Motor Abang hanya spionnya yang pecah dan boxnya yang miring,” tambahnya lagi.

Akhirnya, saya putuskan untuk tidak pulang ke Depok karena jaraknya cukup jauh. Saya menelpon adik saya yang tinggal di Kebon Jeruk untuk menjemput saya dan meminta Ibu saya mencarikan tukang urut, sebagai pertolongan pertama. Biasanya, menurut orang tua-tua, jika tidak langsung diurut, uratnya akan tambah kaku dan akan lebih sakit nantinya.


Tulisan Terkait Lainnya :

54 thoughts on “Begini Rasanya Tertimpa Batang Pohon

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s