Akasia : Kisah Tragis

Medio 1989

Akasia. Mulanya saya tidak tahu bahwa nama itu diambil dari nama sebuah pohon. Yang saya tahu kala itu, Akasia adalah sebuah bangunan super market berlantai tiga yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah saya. Memang jika saya perhatikan sekilas, di bagian depan super market tersebut terdapat tulisan “Akasia” dengan gambar beberapa helai daun berwarna hijau dan bunga berwarna kuning.

Tapi bukan nama atau pun logo supermarket tersebut yang menjadi pusat perhatian saya dan yang membuat saya selalu datang dan ingin datang lagi ke tempat tersebut. Satu-satunya hal yang membuat saya rela berjalan kaki atau pun bersepeda dari rumah saya ke tempat tersebut adalah arena bermain yang terdapat di lantai tiga Akasia, yang untuk sampai di lantai tersebut saya masih memilih untuk menaiki tangga yang tidak berjalan dibandingkan menggunakan ‘tangga berjalan’ karena saat itu saya belum memiliki keberanian.

Dingdong. Yup! Mesin permainan yang mungkin sangat ngetrend kala itulah yang membuat saya tertarik untuk datang dan datang lagi ke tempat tersebut. Untuk memulai satu kali permainan, setiap orang harus memiliki koin. Harga satu koin saat itu senilai dua ratus lima puluh rupiah. Jumlah demikian itu bagi saya cukup besar. Setiap datang ke situ mungkin saya hanya bermain dua kali saja, atau bahkan lebih seringnya hanya menonton orang-orang yang lebih mahir dan lebih beruang asyik bermain.

Permainan dingdong yang lihat sering dimainkan saat itu adalah skywolf yang musiknya sama persis dengan musik pengiring gil seri airwolf yang sempat ditayangkan satu pekan sekali di stasiun televisi satu-satunya saat itu. Selain itu ada juga permainan mobil balap yang mengumpulkan poin dan untuk mengalahkan mobil musuh dapat mengeluarkan gas atau asap sehingga mobil musuh tidak dapat bergerak. Adalagi permainan Galaga, di mana sebuah pesawat harus menghancurkan makhluk asing bernetuk aneka serangga. Street Fighter, Knight of Round Table, dan banyak lagi permainan yang saya hanya sempat menyaksikan orang-orang memainkannya, karena saat itu, bagi saya, menyaksikannya jauh lebih seru daripada memainkan sendiri.

Selepas SD, saya sudah jarang bermain ke Akasia. Mungkin sudah bosan, atau mungkin sayang dengan uang saku yang memang masih pas-pasan. jauh lebih pneting jika saya gunakan untuk ongkos ke sekolah dan jajan dibandingkan untuk bermain dingdong.

Mei 1998

Kerusuhan yang terjadi ternyata ikut menyebar ke super market Akasia. Penjarahan dan pembakaran juga terjadi di sana. Terhitung mulai saat itu, Akasia pun hilang. Mungkin bangkrut dan tidak dapat berdiri kembali.

Ternyata, sebuah kenangan tak kan hancur bersama bangunan.
Kenyataannya, sebuah pengalaman tak kan terhapus bersama perubahan zaman.
Semua masih tersimpan.

19 respons untuk β€˜Akasia : Kisah Tragis’

  1. nawhi Januari 6, 2011 / 00:00

    jampang said: sebuah pengalaman tak kan terhapus bersama perubahan zaman.Semua masih tersimpan.

    Yupe, apalagi kalau pengalaman yang indah n berkesan nggak akan bisa terlupakan πŸ™‚

  2. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    nawhi said: Yupe, apalagi kalau pengalaman yang indah n berkesan nggak akan bisa terlupakan πŸ™‚

    ho oh πŸ™‚

  3. miftamifta Januari 6, 2011 / 00:00

    jadi ingat pohon Akasia yang ada di kampung:)

  4. zaffara Januari 6, 2011 / 00:00

    Berarti main games bkn kenangan berkesan buat saya, krn tak ada satupun games masa lalu yg sy ingat.

  5. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    miftamifta said: jadi ingat pohon Akasia yang ada di kampung:)

    banyak bunganya ya mbak?

  6. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    zaffara said: Berarti main games bkn kenangan berkesan buat saya, krn tak ada satupun games masa lalu yg sy ingat.

    teteh bukan gamer kalau gitu πŸ™‚

  7. fightforfreedom Januari 6, 2011 / 00:00

    ada hubungannya ga dg Acacia Hotel yg berada di Jakarta?

  8. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    fightforfreedom said: ada hubungannya ga dg Acacia Hotel yg berada di Jakarta?

    wah, enggak tahu saya πŸ™‚

  9. hwwibntato Januari 6, 2011 / 00:00

    jampang said: Ternyata, sebuah kenangan tak kan hancur bersama bangunan.Kenyataannya, sebuah pengalaman tak kan terhapus bersama perubahan zaman.Semua masih tersimpan.

    asyik dan keren …!*jadi pengen main game … he he he …

  10. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    hwwibntato said: asyik dan keren …!*jadi pengen main game … he he he …

    game, apa mas?

  11. hwwibntato Januari 6, 2011 / 00:00

    jampang said: game, apa mas?

    game perang … ha ha ha …

  12. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    hwwibntato said: game perang … ha ha ha …

    weh…. saya juga suka game perang… kaya commandos, age of empire, dsbg

  13. hwwibntato Januari 6, 2011 / 00:00

    jampang said: weh…. saya juga suka game perang… kaya commandos, age of empire, dsbg

    seru ya, Mas … ha ha ha …*jadi bener-bener pengen main game …

  14. jampang Januari 6, 2011 / 00:00

    hwwibntato said: seru ya, Mas … ha ha ha …

    pastinya, sampe lupa waktu πŸ™‚

  15. tintin1868 Januari 6, 2011 / 00:00

    oh lagi nostalgia.. ku tahu akasia itu pohon, sering jalan2 sama eyangkung jadi belajar taneman.. dan lagi dulu punya temen namanya akasia, sering ku panggil kasian.. πŸ˜€ jadi ga enak hati..sampe sekarang toko akasia tetap belom berdiri lagi?

    • Mukai September 9, 2019 / 11:36

      Wah bener nih akasia memang andalan tempat hiburan untuk warga sekitar, dibuka sekitar tahun 86 kala itu saya masih kelas 4, benar Benar ramai dikunjungi lantai 1 berisi pakaian, kosmetik, tas dsb, lantai 2 mainan dan kebutuhan makanan, dan lantai 3 berisi kfc Dan dindong, untuk dingdong sekitar 2-3 tahun memakai koin seharga rp250, dan memang agak sepi peminat, tetapi setelah harganya diturun kan cukup memakai logam tipis seratusan penggemarnya menjadi penuh oleh anak anak kampung sekitaran akasia.
      Kfc sendiri bersebelahan dgn ruang dindong sangat harum wangi ayam dan kentang goreng bagi anak anak yg bermain, tapi apa daya harga 3000 untuk sepotong ayam, nasi, french fries dan pepsi cola dirasa masih terlalu mahal untuk seorang bocah kampung untuk membelinya, paling suasana lebaran yg bisa menyulap kfc di akasia ramai oleh bocah bocah kampung yg ingin menikmati gurihnya daging ayam dan kentang goreng yg di cocol ke saus sambal dan tomat termasuk diri saya sendiri.
      Dihalaman depan pintu masuk akasia jg ada beberapa usaha mikro makanan, salah sTu favorit saya adalah hamburger seharga 850, yg kala itu masih makanan wah jg buat bocah yg mesti ngumpulin uang jajan dulu untuk membelinya.
      15 Mei 98 akasia habis di jarah oleh orang orang dan dibakar gedungnya, saya sendiri kala itu sudah kuliah dan sudah jarang main kesana. Tapi akasia tetap selalu ada dalam kenangan.

  16. jampang Januari 7, 2011 / 00:00

    tintin1868 said: oh lagi nostalgia.. ku tahu akasia itu pohon, sering jalan2 sama eyangkung jadi belajar taneman.. dan lagi dulu punya temen namanya akasia, sering ku panggil kasian.. πŸ˜€ jadi ga enak hati..sampe sekarang toko akasia tetap belom berdiri lagi?

    iya mbak, sedang nostalgia.supermarketnya sampe sekarang belom berdiri lagi, udah dijual kali gedungnya, ganti fungsi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s