Seribu Cara Untuk Mati

Judul di atas merupakan terjemahan bebas dari “1000 Ways to Die”, sebuah acara televisi yang merekonstruksi berbagai kematian yang tidak biasa. Kematian yang tidak biasa di sini mungkin terjadi karena hal-hal yang sepele atau karena kebodohan si pelaku.

Di salah satu episodenya, diceritakan tentang sekelompok pemuda-pemudi yang berada di sebuah rumah lengkap dengan fasilitas kolam renang. Mereka melakukan pesta di samping kolam renang yang kebetulan sedang kosong, tak ada airnya. Salah seorang di antara mereka membawa semacam obat terlarang atau narkoba yang kemudian diminum oleh semua yang ada di situ.

Akibat meminum obat tersebut, para pemuda tersebut langsung ‘fly’ dan berhalusinasi bahwa mereka sedang berenang di kolam renang tersebut. Salah satu di antara mereka berhalusinasi lebih hebat lagi. Mungkin dia merasa sebagai atlit loncat indah, maka dia pun langsung terjun ke dalam kolam renang tanpa air tersebut. Dia pun mati seketika.

Di episode lainnya, diceritakan sekelompok remaja yang bermain “Truth or Dare?”, yaitu sebuah permainan pihak yang membutuhkan minimal dua pemain. Permainan dimulai ketika pemain pertama bertanya “Truth or Dare?” kepada pemain kedua. Jika pemain kedua menjawab “Truth”, maka pemain pertama akan mengajukan sebuah pertanyaan yang biasanya memalukan dan harus dijawab oleh pemain kedua. Jika pemain kedua menjawab “Dare”, maka pemain pertama akan menantang pemain kedua untuk melakukan sesuatu yang biasanya juga memalukan atau mengada-ada.

Remaja bertama bertanya kepada remaja kedua “Truth or Dare?” yang dijawab “Dare”. Remaja pertama meminta agar remaja kedua mengencingi kawat yang beraliran listrik. Entah bodoh atau gengsi untuk menolak, maka remaja kedua tersebut langsung mendekati kawat tersebut dan kemudian mengencinginya. Apa yang terjadi? Dia tersengat aliran listrik. Alat vitalnya gosong dan dia tewas seketika.

Jika hidup hanya sekali, maka mati pun hanya sekali. Jika dalam menempuh hidup banyak sekali pilihan yang dapat diambil, maka demikian pula halnya mati. Tapi, apakah cara mati di atas yang akan kita pilih?

Sesungguhnya, sebelum seseorang lahir ke alam dunia, ketika dia masih berada dalam alam rahim, umurnya sudah ditentukan. Hanya saja berapa panjang umur tersebut hanya Allah yang tahu. Sehingga kematian menjadi sebuah kepastian yang diselimuti dengan misteri. Ibarat dalam sebuah arisan, setiap nama peserta sudah ada dalam gelas yang tertutup. Namun siapa nama yang keluar ketika kocokan pertama, tak ada yang dapat memprediksi. Yang tua belum tentu mati lebih dahulu dibandingkan yang masih muda. Yang sakit belum pasti umurnya menjadi lebih pendek daripada yang sehat.

Karena tak seorang pun yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana dia akan mati, maka Islam mengajarkan untuk selalu bertaqwa dan berbuat kebaikan di mana saja dan kapan saja. Rasulullah saw bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di manapun kalian berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” [HR. Tirmidzi]

Jangan sampai kita menjadi seseorang yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara kita dengan surga hanya sehasta, lalu suratan takdir mendahului sehingga kita beramal dengan amalan neraka maka kita pun masuk neraka. Kita pernah mendengar seseorang yang tewas tertembak polisi karena merampok, over dosis meminum narkoba, bunuh diri, bahkan meninggal saat berhubungan badan dengan bukan pasangannya yang sah. Naudzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam.

*********

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang
Masih kudapatkan dan kurasakan
Curahan rahmat dan berbagai ni’mat
Yang kerap Kau berikan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Pantaskah kumemohon diri
Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu

Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku
Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai
Masih kudapatkan dan kurasakan
Keramaian suasana dan ketenangan jiwa
Tapi bila tiba waktu berpisah
Akankah kupergi seorang diri
Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani

Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku
Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti
Masih bisa kumenghibur diri
Tubuhku kan bersih dan esok kan lebih baik
Tanpa sebersit keraguan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Masih adakah kesempatan bagiku
Tuk membersihkan jiwa dan hatiku

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan
Masih kudengar dan kurasakan
Suara-suara yang menghibur
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal
Tapi bila tiba waktu berpisah
Adakah yang akan menghiburku
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan

gambar minjem di sini.

52 respons untuk ‘Seribu Cara Untuk Mati

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s