Pikir-pikir Singkir

Sinar matahari mulai terasa panas. Panasnya terasa bertambah saya rasakan di tubuh saya ketika memasuki kawasan padat lalu-lintas di Jalan TB Simatupang. Keringat mulai membasahi wajah saya. Untuk menguranginya, saya buka kaca helm saya untuk membiarkan wajah saya disapa angin yang bertiup perlahan. Lumayan.

Di saat semua kendaraan melaju lambat, saya alihkan pandangan saya ke kiri dan ke kanan. Aneka mobil dan motor dengan aneka merek berjalan searah beriringan. Di antara banyak kendaraan bermotor yang berjalan perlahan tersebut, mata saya menangkap sebuah gerobak berisi sayur-mayur. Ketika gerobak tersebut berjalan tepat di samping kiri, saya bisa melihat isi gerobak yang masih penuh dengan aneka sayur-sayuran. Mulai dari kangkung, bayam, jagung, sampai cabe.

Melihat gerobak yang masih penuh tersebut sementara waktu sudah mendekati tengah hari, terlintas sebuah pikiran di otak saya. “Si Bapak ini koq tengah hari gini baru keluar bawa sayuran. Apa gak takut kalau gak ada pembeli. Jam segini kan biasanya ibu-ibu sudah masak sayuran yang dibelinya di pagi hari.”

Sesaat kemudian, pikiran lain muncul, “Buat apa mikirin rezeki si tukang sayur? Emangnya kalau dia rugi kamu ikutan rugi? Rezeki dia sudah ada yang beri. Daripada ngomel-ngomel sendiri lebih baik kirim doa aja, supaya dagangannya laku. Dia senang, kamu pun gak sewot. Mikirin tukang sayur gak bikin jalanan jadi lancar, fokus aja supaya selamat sampai tujuan.”

Ya, terkadang, baik sengaja atau tidak sengaja, sebuah persoalan masuk ke dalam pikiran dan langsung menjadi beban. Padahal kalau diteliti, persoalan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan diri dan aktifitas kita. Persoalan itu ada atau tidak, selesai atau tidak selesai, tidak menambah atau mengurangi nilai kehidupan kita. Bahkan yang ada hanya akan menguras tenaga dan pikiran saja. Bukankah Islam mengajarkan bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meinggalkan perkara yang tak berguna baginya?

Sebuah analogi ada dalam sebuah kisah keluarga tukang kunci. Sang Bapak yang merupakan ahli kunci terkemuka di daerah tempatnya tinggal, ingin menyerahkan usaha yang dia miliki kepada salah satu anaknya. Tetapi dia merasa bingung memilih di antara kedua anaknya, karena Keduanya memiliki kemampuan yang sama bagus. Dalam kebingungan dan kebimbangan tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk mengadakan lomba. Siapa pun yang menjadi pemenang di dalam lomba tersebut maka dia lah yang akan menjadi penerus usaha keluarga.

Pada hari lomba diadakan, Sang Bapak memanggil kedua anaknya dan menyampaikan segala ketentuan lomba.

“Tujuan kalian berdua adalah membuka kotak yang berisi benda berharga yang ada di dalam kamar masing-masing. Yang menjadi pemenang adalah siapa yang paling cepat membuka kotak tersebut dan kembali ke tempat ini. Mengerti?”

“Mengerti, Pak!” Jawab keduanya serempak.

Setelah Sang Bapak memberi aba-aba sebagai tanda dimulainya lomba, maka kedua anak tersebut segera berlari menuju masing-masing kamar dan melakukan apa yang menjadi tujuan lomba. Selama beberapa saat keduanya berusaha membuka kotak di hadapan masing-masing. Sementara Sang Bapak hanya menunggu di luar kamar sambil berharap siapa pun yang menjadi penerus usahanya adalah yang terbaik di antara kedua anaknya.

Tiba-tiba, Sang Bapak melihat pintu kamar anak bungsunya terbuka disusul dengan keluarnya sang anak yang kemudian berlari ke hadapannya. Beberapa saat kemudian, giliran pintu kamar anak sulungnya. Keluar dari kamar, anak sulungnya juga berlari-lari menuju tempat semula di hadapan sang Bapak.

“Sesuai dengan ketentuan lomba di awal tadi, pemenangnya adalah siapa yang paling cepat membuka peti di dalam kamar dan kembali ke tempat ini. Dengan ini saya menyatakan bahwa pemenang di antara kalian berdua adalah kamu, Amir. Kaulah yang berhak meneruskan usaha keluarga ini. Sedangkan kamu, Amar, bantulah adikmu dalam mengembangkan usaha keluarga ini,” pesan sang Bapak.

“Tapi aku punya satu pertanyaan kepadamu, Amar. Aku tahu, kemampuanmu tidak berbeda dengan adikmu. Aku yakin kamu bisa membuka peti di dalam kamarmu secepat yang adikmu lakukan. Tetapi kenapa kamu keluar kamar lebih lambat dari adikmu? Apakah kamu mengalami kesulitan membuka peti itu?”

Mendengar pertanyaan itu, Amar menjawab, “Sebenarnya aku telah berhasil membuka dengan cepat. Tetapi aku tidak langsung keluar kamar. Aku penasaran dengan benda yang ada di dalam peti tersebut, maka aku pun membuka peti dan melihat isinya. Padahal perbuatan tersebut tidak ada dalam ketentuan lomba dan akibatnya aku kalah dalam lomba ini.”

Wallahu a’lam.

30 respons untuk ‘Pikir-pikir Singkir

  1. renypayus Februari 22, 2011 / 00:00

    waaaah merinding bacanya. lagi lagi tertampar sekaligus tersadar. *ealaah bahasane* thank you for sharing, Pak’e

  2. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    seperti HSnya ya mbak ren? 🙂 tapi yang jelas, adakalanya juga kita ikut memikirkan sesuatu untuk menghindarkan orang lain dari keburukan…. seperti yang barusan mbak posting 🙂

  3. znrock Februari 22, 2011 / 00:00

    Berarti si Amar kalah karna tak tahan dengan godaan. Mengikuti perasaan melanggar aturan/mengadakan sesuatu diluar ketentuan *tidak patuh, tapi jujur [?]

  4. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    hmm… mungkin melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan karena berakibat kerugian untuk dirinya.

  5. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    sempet panas kupingnya yah? bukan berarti gak boleh mikirin orang lain, tapi hanya memikirkan sesuatu yang menjadikan kondisi jadi lebih baik. bukan hanya bikin ruwet saja. kan ada juga hadits yang menyatakan kira-kira, bukan termasuk umatku orang yang tidak memikirkan masalah orang lain.

  6. hwwibntato Februari 22, 2011 / 00:00

    jadi harus menyingkirkan pikiran-pikiran yang tak perlu ya, Mas Rifki?

  7. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    yup… yg gak perlu dibuang aja, daripada nambah beban masalah. sementara yang perlu dipikirkan ya dicarikan solusi supaya selesai dan menjadikannya lebih baik. wallahu a’lam.

  8. anotherorion Februari 22, 2011 / 00:00

    bingung jawabnya 🙂 yang baik buat kita ya ambil, yang buruk, tinggalkan. wallahu a’lam

  9. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    topenkkeren said: Jadi sudah ketemu nih, Bang? Nyonya Rifki. #eh

    emang ada nyebut nama? enggak kan? jadi berlaku umum 😛

  10. zaffara Februari 22, 2011 / 00:00

    si bungsu patuh, tp yg sulung kreatif hehe

  11. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    selama perintah itu baik (sejalan dengan perintah Allah), jika dipatuhi, insya Allah hasilnya baik. Kreatifitas juga bisa memberikan hasil yang baik asal sesuai dengan tempat dan waktunya. wallahu a’lam.

  12. tintin1868 Februari 22, 2011 / 00:00

    rasa penasaran bikin kalah ya.. bapak yang bijaksana… eh soal penjual sayur yang kesiangan.. soale kalu pagi2 emak2nya sibuk siap2 sama suami dan anak.. jadi kalu mo belanja saat habis baberes pun sambil nungguin anak sekolah toh? ku juga pernah tanya sama tukang sayur kog pada siang sih jualan, ternyata langganannya juga ada yang siang2 loh, malah sore juga ada..

  13. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    begitulah kira-kira, mbak tin 🙂 sudah tentu saya yang salah mikirnya jelek aja sama rezeki si tukang sayur itu

  14. melatidesa Februari 22, 2011 / 00:00

    Penasaran bikin macet yah, jalan gak lancar, malah bikin kalah lomba 🙂 So, moral of the story: Jgn penasaran. Padahal hidup ini adalah combination dari semua itu.

  15. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    jika hidup penuh dengan kombinasi…. maka sebisa mungkin kita mencari kombinasi yang terbaik 🙂

  16. aishachan Februari 22, 2011 / 00:00

    kerjakan sesuai yang diperintahkan jadi inget hudzaifah 😀

  17. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    boleh disharing di sini…. sedikit aja 🙂

  18. aishachan Februari 22, 2011 / 00:00

    aku ga pinter cerita shiroh. waktu itu umat muslim sedang dikepung pasukan quraisy. Rasul memerintahkan beliau untuk memata-matai, lalu kembali untuk menyampaikan hasilnya. Hudzaifah berhasil masuk ke dalam tentara quraisy. ada abu sufyan juga. seandainya mau, hudzaifah bisa aja membunuh abu sufyan saat itu. tapi karena perintah Rasul cuma memata-matai dan kembali, jadi Hudzaifah ga membunuh abu sufyan. cmiiw 😀

  19. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    terima kasih, mbak

  20. rirhikyu Februari 22, 2011 / 00:00

    mikir lagi. memang bener siy, tapi…. benarkan kita tak perlu memikirkannya? hmmm individual banget ya kesannya?

  21. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    memikirkan yang perlu dipikirkan, yang ada manfaatnya jika kita bisa memberi solusi buat diri kita sendiri atau orang lain. yang gak perlu dipikirkan jika gak ada manfaatnya buat diri sendiri atau orang lain. bukan individualis seh… hanya memilah mana yang perlu dan mana yang tidak. oh, iyah. nambahin satu lagi, kenapa judulnya pikir pikir singkir… ya karena saya beranggapan bahwa lebih banyak hal yang harud dipikirkan daripada disingkirkan. karena kita diberi akal kan untuk berpikir 🙂

  22. rirhikyu Februari 22, 2011 / 00:00

    hmmmm soalnya td prolognya kayaknya gak perlu mikirin nasib sang tukang sayur. dia khan org lain mas?

  23. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    ya soalnya… kalau dipikir nanti laku apa enggak, si tukang sayur enggak akan dapat apa2 sama juga saya yang pikir. tapi kalau saya doakan supaya dagangannya laku, kan bisa jadi kenyataan. perjalanan saya juga lebih enak karena enggak mikirin dagangan laku atau tidak karena semuanya diserahkan kepada Allah Yang Maha Pemberi Rizki

  24. onit Februari 22, 2011 / 00:00

    Buat apa mikirin rezeki si tukang sayur? Emangnya kalau dia rugi kamu ikutan rugi? Rezeki dia sudah ada yang beri. Daripada ngomel-ngomel sendiri lebih baik kirim doa aja, supaya dagangannya laku. Dia senang, kamu pun gak sewot. Mikirin tukang sayur gak bikin jalanan jadi lancar, fokus aja supaya selamat sampai tujuan. ini yg aku gak nangkep.. mikirin tukang sayur bakal dapet rejeki sampe ngomel/sewot, atau mikirin tukang sayur menghalangi jalan kah yg bikin ngomel/sewot?

  25. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    mikirin tukang sayur yang jualan siang hari, takut daganganya enggak laku. tapi seperti jawaban mbak tin di atas, rezeki tukang sayur insya Allah ada. daganganya bakal ada yang beli

  26. nieuwverhaal Februari 22, 2011 / 00:00

    awalnya , tentang macet yg akhirnya membawa pikiran Bang Jampang menelaah apa yg ada di pikiran ya ? manusiawi koq.. karena otak yg kecil ini sebenarnya sangatlah besar muatannya hingga apapun yg terlihat bisa berkembang menjadi sebuah pemikiran.. penting atau tidaknya , yaaaah .. hehehe .. nice post ..

  27. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    kira-kira begitu, mbak 🙂 terima kasih.

  28. jampang Februari 22, 2011 / 00:00

    terima kasih, mbak. semoga bermanfaat. aamiin

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s