148 Anak Tangga

 

tanggaCukup lelah juga saya menaiki satu persatu anak tangga mulai dari tempat parkir motor saya di basement hingga ruang kerja saya di lantai empat. Hasil perhitungan saya, jika tidak meleset, jumlah anak tangga yang saya naiki adalah 148 anak tangga. Biasanya, saya hanya menaiki anak tangga hanya dari basement sampai ke depan gedung saja. Selanjutnya dari loby saya akan memanfaatkan lift untuk tiba di lantai empat di mana ruang kerja saya berada.

Namun, untuk hari-hari berikutnya saya akan mencoba untuk konsisten menaiki anak-anak tangga tersebut dibandingkan menggunakan lift. Hal tersebut saya lakukan hanya di pgi hari ketika pertama kali tiba di kantor. Setelah itu, kembali saya akan menggunakan lift untuk naik dan turun.Tiba di anak tangga terakhir di lantai empat, kaki saya terasa gemetar. Napas saya pun terasa senin-kamis hingga kesulitan menjawab sapa dan senyum pak satpam yang bertugas ketika melihat kedatangan saya.

Menaiki sekian anak tangga tersebut saya lakukan dengan maksud berolahraga, maklum, saya termasuk orang yang malas berolahraga, sekaligus untuk mengurangi berat badan. Tadinya saya hampir tidak pernah ambil pusing dengan berat badan saya. Yang penting sehat. Tetapi lama-kelamaan kepikiran juga, apa lagi ketika merasakan celana sudah sempit karena perut yang bukan six pack tapi six months dan sempat ditegur sama ibu agar saya berolahraga. Ibu khawatir kalau saya kena sakit jantung. Sampai-sampai ibu sempat bertanya apakah di kantor saya ada yang lebih gemuk dari saya. Kontan saya bilang ada.

Karena saya termasuk orang yang malas berolahraga dan memiliki nafsu makan yang tinggi, maka berat badan saya bertambah dan bertambah tanpa terasa. Terakhir saya menaiki timbangan, angka yang terpampang adalah 70 kilogram. Berdasarkan perhitungan yang saya lakukan di sini dengan tinggi badan sekitar 165 cm, maka sebaiknya berat badan saya berada antara 51,8 sampai dengan 68,1 kg. Sementara yang ideal adalah 61,5 kg.

Ternyata, olahraga bisa menjadi suatu hal yang terasa berat jika tidak dibiasakan. Dan sepertinya bukan hanya dalam hal olahraga saja, dalam hal lain pun demikian, seperti disiplin menabung, datang tepat waktu, termasuk dalam hal ibadah. Seandainya semua itu telah dicicil sedikit demi sedikit di waktu yang telah lewat, maka bisa jadi tak kan lagi ada sesuatu yang berat untuk dilakukan. Apalagi jika di setiap prosesnya teriring sebuh keikhlasan.

Satu hal lagi mungkin yang tersirat dari cerita anak tangga ini adalah tentang cita-cita dan keinginan. Jika dulu mungkin yang ada dalam benak kita adalah melakukan sesuatu yang sederhana, bisa jadi sekarang semunya telah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi sederhana. Begitu pula dalam hal pencapaiannya.

Ibarat menaiki setiap anak tangga, maka anak tangga di awal adalah proses untuk menuju pencapaian atas sebuah keinginan yang kecil atau sederhana. Mudah, belum banyak tenaga yang terkuras, napas pun masih normal, begitu pula belum ada keringat yang keluar.

Namun begitu keinginan-keinginan kecil dan sederhana tercepai, dan seseorang akan melangkah lagi untuk mencapai cita-cita atau keinginan yang lebih besar, maka hal tersebut ibarat menaiki anak-anak tangga yang lebih tinggi di lantai yang lebih tinggi pula. Di mana untuk melewatinya, perlu lebih banyak tenaga, napas mulai terasa berat, keringat mulai menetes, kaki pun mulai terasa berat.

Satu hal yang pasti dan harus diyakini, bahwa semuanya bukanlah sesuatu yang tidak mungkin diraih, selama ada usaha dan Allah menghendaki. Wallahu a’lam.


Cerita Tangga Lainnya :

54 respons untuk ‘148 Anak Tangga’

    • jampang Januari 22, 2014 / 11:45

      karena nggak saya ambil fotonya 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s