Telur Hari Ini Lebih Baik Daripada Anak Ayam Esok Hari

telurSuatu hari saya mengajak Syaikhan jalan-jalan dengan menggunakan motor. Tiba di suatu tempat, mata Syaikhan tertuju pada sebuah toko di pinggir jalan yang menjual aneka bentuk tas. Sejak saat itu, setiap kali melewati toko tersebut, Syaikhan selalu berkomentar.”Bi, tas!” Sambil wajahnya menengok ke arah toko.

“Bi, tasnya ana?” Tanyanya ketika melwati roko tersebut yang sudah tutup.

“Bi, tas… au!” Akhirnya Syaikhan mengucapkan keinginannya untuk memiliki sebuah tas.

“Iya, nanti yah, kalau Syaikhan mau sekolah, Abi beliin tas,” janji saya kepada Syaikhan.

Namun meski sudah saya janjikan, keinginan Syaikhan untuk memiliki tas tak pernah surut. Setiap kali melintas di depan toko itu, komentar-komentarnya muncul kembali dan saya pun menjanjikan dengan kalimat yang sama seperti waktu-waktu sebelumnya.

Sebuah rencana jangka panjang memang sudah ada untuk Syaikhan. Di ulang tahunnya yang pertama, sebuah asuransi pendidikan menjadi hadiah untuknya. Kini asuransi itu akan memasuki tahun ketiga. Sesuai dengan perencanaannya, maka di tahun Syaikhan masuk sekolah, dana itu akan diambil untuk memenuhi biaya pendidikan dengan segala pernak-perniknya, termasuk perlengkapan alat tulis. Di masa itulah saya akan memenuhi janji untuk Syaikhan. Demikianlah yang terbayang dalam benak saya kala itu.

Hingga suatu saat, ketika saya sedang mengaji selepas shalat Maghrib dan Syaikhan saya berikan buku iqra dan memintanya membaca, Syaikhan malas-malasan sambil menempelkan kepalanya di atas meja.

“Beli tas duyu!” Pintanya pelan.

Tak kuasa lagi saya menolak permintaannya. Akhirnya, di kesempatan berikutnya, saya ajak Syaikhan ke toko tersebut meski hari sudah malam. Mungkin sekitar pukul dua puluh lewat.

Tiba di depan toko tas yang sering kami lewati. Saya langsung bertanya kepada pemiliknya apakah ada tas untuk anak seumur Syaikha. Pemilik toko langsung menunjukkan tiga buah tas yang berada pada baris oaling bawah. Saya langsung mempersilahkan Syaikhan memilih tas mana yang dia suka. Pilihannya jatuh kepada tas berwarna biru dengan gambar Bernard. Beberapa kali saya tanyakan apakah pilihannya tak berubah. Jawabnya mantap, tidak.

Karena tak ada alat tulis dan buku yang dijual di toko tersebut, maka saya hanya membelikan tas dan sebuah tempat pensil untuk Syaikhan. Selanjutnya saya mencari toko yang menjual buku dan alat tulis.

Alhamdulillah, tak jauh dari toko tas, ada sebuah toko yang menjual buku dan alat tulis. Saya mengambilkan pensil, rautan, penghapus, dan penggaris masing-masing dua buah dan menyerahkan kepada Syaikhan mana yang akan dipilihnya. Dengan cepat kesemua barang-barang tersebut segera berpindah ke dalam tas Syaikhan.

Tiba di rumah, Syaikhan, langsung memperlihatkan tas beserta isinya kepada semua orang di rumah. Sejurus kemudian, Syaikhan langsung asyik dengan dunia coret-coretnya. Wajahnya penuh dengan kegembiraan.

Keesokan hari, nenek mengajak Syaikhan pergi ke sekolah yang letaknya hanya belasan meter dari rumah. Menurut cerita nenek, Syaikhan cukup menikmati suasana kelas meski belum memiliki rasa percaya diri yang penuh. Belajar bersosialisasi, itu mungkin langkah awal untuk Syaikhan.

Setelah saya berpikir-pikir lagi, mungkin apa yang saya lakukan untuk Syaikhan, adalah yang terbaik untuknya dan saya sendiri. Jika semuanya saya penuhi di masa dua atau tiga tahun lagi, sesuai dengan perencanaan asuransi pendidikan, mungkin tak akan saya dapat momen-momen indah seperti yang malam itu saya lihat. Syaikhan begitu senang dengan tas baru, buku tulis, pensil, rautan, penghapus, dan penggarisnya. Begitu juga ketika esoknya Syaikhan bercerita tentang teman-teman sekolahnya. Syaikhan menganggap mereka adalah temannya meski belum tahu siapa nama masing-masing.

Telur hari ini lebih baik daripada anak ayam esok hari. Kalimat itu saya dengar dari seseorang sebagai bentuk sebuah pribahasa yang mengisyaratkan bahwa hari ini lebih berharga daripada hari esok. Di hari ini kita hidup, esok pagi bisa saja kita sudah tiada. Jika ingin esok lebih baik, maka semuanya tergantung dengan usaha di hari ini. Memang bisa jadi, dua atau tiga tahun lagi, tas dan segala perlengkapannya lebih bagus, tapi belum tentu saya bisa melihat langsung ekspresi di wajahnya. Mungkin saya yang sudah pergi meninggalkan dunia ini, atau mungkin saya tidak menjalani hari-hari di mana Syaikhan tak ada di sisi saya karena kondisi seperti saat ini.

Wallahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

52 thoughts on “Telur Hari Ini Lebih Baik Daripada Anak Ayam Esok Hari

  1. Baginda Ratu Oktober 28, 2013 / 10:06

    Telur hari ini lebih baik daripada anak ayam esok hari. Quote yang bagus. Jadi kalo pengen belanja hari ini, ya belanja aja, ya. Jangan ditunda-tunda. Hahaha.. *kelakuan*
    Eh tapi bener ya. Kalo untuk anak, selagi kita masih bisa, nggak ada salahnya memenuhi permintaannya, apalagi kalo si bocah udah bolak2 bilang. Mana tegaaaa kalo nggak dikabulin juga.. 🙂

    • jampang Oktober 28, 2013 / 10:12

      tapi tetep, belanja harus pake perhitungan 😀

      ya, mungkin nanti (saat si anak sudah sekolah) kita bisa membelikannya yang lebih bagus. tapi senyumnya tentu beda. bahagianya beda. sekarang lebih terasa

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s