Satu Guru Satu Ilmu, Jangan Ganggu!

reviewSuatu hari, ketika saya duduk di kelas tiga SMP, salah seorang guru menceritakan kisah seorang tukang bubur ayam. Entah apa yang mengaitkan pelajaran yang disampaikan beliau dengan tukang bubur ayam.

Beliau menceritakan salah satu trik yang digunakan oleh tukang bubur untuk menarik pembeli baru agar menjadi pelanggannya. Ketika ada pembeli baru, si tukang bubur langsung meracik bubur ayamnya. Mulai menungkan bubur ke dalam mangkok, menuangkan kecap, memasukkan kacang, dan sebagainya. Ketika memasukkan daging ayam yang ditelah disuwir ke dalam mangkok, tukang bubur tersebut mengambil seukuran dua sendok. Tak lama kemudian, tukang bubur tersebut mengambil lagi satu sendok daging ayam serasa berkata, “Nih, saya tambahin!”

Mendapatkan bonus tersebut, sudah pasti si pembeli merasa senang sekali. Karena senangnya, mungkin esok atau lusa dia akan kembali lagi karena dalam bayangannya, membeli bubur di tempat tersebut daging ayamnya banyak. Atau mungkin juga si pembeli tersebut akan mempromosikan kepada orang lain bahwa jika membeli bubur ayam di tempat itu akan mendapat tambahan daging ayam.

Trik tersebut bisa saja berhasil. Tapi tahukah si pembeli baru tersebut tentang apa di balik perbuatan si tukang bubur?

Tukang bubur tersebut sebenarnya sudah punya takaran sendiri tentang berapa banyak dagiang ayam yang akan dimasukkan ke dalam setiap mangkok bubur yang dijualnya. Dua sendok, itulah ukuran pas yang selama ini dilakukannya.

Namun, ketika ada pembeli baru dan dia ingin menjadikannya sebagai pelanggan tetap, maka dia melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dua sendok ayam yang diambilnya tidaklah sebanyak seperti biasa. Dia telah mengurangi banyaknya. Kemudian dia mengambilkan satu sendok lagi sambil berkata, “”Nih, saya tambahin!” di hadapan pembeli baru. Padahal jika ditotal, banyaknya jumlah daging ayam ke dalam mangkok tersebut adalah sama dengan jumlah daging ayam untuk setiap mangkok bubur yang dijualnya.

Suatu hari, sekitar belasan tahun kemudian, saya mendapatkan sebuah SMS dari sebuah provider internet langganan saya. Isi SMS tersebut kurang lebih berbunyi, “Paket berlangganan internet Anda diperpanjang lima hari lagi. Pastikan saldo Anda mencukupi, ata segera isi ulang.”

Hari ketika saya menerima SMS tersebut adalah tanggal sembilan, yang berarti, paket langganan internet saya akan mendapat perpanjangan sampai tanggal empat belas. Seperti itulah hitung-hitungan saya berdasarkan SMS tersebut.

Senangkah saya? Seharusnya. Siapa yang tidak senang mendapat bonus seperti itu. Tetapi nyatanya saya tidak senang. Kenapa? Karena tanggal empat belas bulan lalu, adalah tanggal saya memulai paket langganan bulanan internet. Yang artinya, masa berakhir langganan saya adalah kurang lebih akan jatuh pada tanggal tiga belas atau empat belas bulan ini. Sepertinya SMS tersebut hanya mengirimkan kesenangan yang semu.

Rupanya, trik yang dilakukan oleh tukang bubur dan provider tersbut berasal dari satu sumber karena terlihat jelas kemiripannya. Lantas, apakah trik yang dilakukan oleh tukang bubur dan provider tersebut dalam usaha menarik sejumlah pelanggan benar atau salah? Apakah perbuatan tersebut bisa dikategorikan sebagai suatu kebohongan atau tidak? Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

56 respons untuk ‘Satu Guru Satu Ilmu, Jangan Ganggu!’

  1. jampang Juli 13, 2011 / 00:00

    trewelu said: mungkin dianggap modelnya kedaluwarsa kali ya… soalnya emang turunnya bener2 turun sih… dan biasanya pada diborong orang2 buat dijual kembali. btw, model baju2 bermerk yang ada di indonesia biasanya out-dated kalo dibandingin yang di sini. dan harganya berkali2 lipatnya di sini. entah karena pajaknya, entah emang harganya mahal gitu aja udah banyak yang beli…

    untung saya gak mementingkan model dan merek kalau beli pakaian :)di sini kan apa aja yang dipasarkan bisa laku, mbak.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s