Meraih Pahala Sebesar Dosa Zina


Di salah satu adegan dalam film “Emak Ingin Naik Haji” ditampilkan seorang anak yang bertanya kepada bapaknya tentang hukuman di dunia bagi orang yang berzina. Sang anak kebingungan karena mendapatkan jenis hukuman yang berbeda bagi pelaku zina di dalam Al-quran dan Al-hadits.

Di dalam Al-quran surat An-nur diterangkan bahwan hukuman bagi pelaku zina adalah dicambuk sebanyak seratus kali. Sedangkan dalam hadits didapati bahwa hukuman bagi pezina adalah dirajam sampai mati.

Manakah yang benar? Begitulah pertanyaan sang anak yang sedang kebingungan. Mendengar pertanyaan sang anak, sang bapak pun tak kalah bingung dan tak mampu memberi jawaban.

Zina merupakan salah satu dari jenis dosa besar. Dan hukuman di dunia bagi pelakunya sangatlah berat. Kedua jenis hukuman yang didapati sang anak dalam adegan tersebut adalah benar.

Hukuman seratus kali cambukan yang terdapat dalam Al-quran Surat An-Nuur ayat 2 dijatuhkan kepada para pelaku zina yang belum menikah.

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.[QS. An-Nuur : 2]

Sedangkan hukuman rajam di dalam Al-hadits adalah hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku zina yang sudah pernah menikah.

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Umar bin al-Khattab berkhutbah, “Sesungguhnya Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW dengan haq dan juga menurunkan kepadanya Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan di antara ayat yang turun kepadanya adalah ayat rajam. Kami telah membacanya dan memahaminya. Dan Rasulullah telah merajam dan kami pun juga telah merajam. Sungguh aku khawatir setelah masa yang panjang nanti akan ada seorang yang berkata, “Kita tidak mendapati keterangan tentang rajam di dalam Qur’an.” Maka orang itu telah menyesatkan dengan meninggalkan faridhah (kewajiban) yang telah Allah turunkan. Hukum rajam adalah benar bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yang muhshan, yaitu bila telah ditegakkan bayyinah (saksi) atau pengakuan. Demi Allah, jangan sampai ada orang yang mengatakan bahwa Umar telah menambahi ayat Al-Qur’an. (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizy dan An-Nasai)

Dalam hadits lain, “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.” (HR Muttaq ‘alaih)

Namun demikian, hukuman cambuk atau pun rajam tidaklah mudah dijatuhkan. Harus ada syarat utama supaya hukuman rersebut dijatuhkan. Syarat tersebut adalah adanya empat orang saksi yang menyaksikan langsung terjadinya hubungan badan antara lelaki dan perempuan yang berzinah tersebut termasuk melihat penetrasi antara dua kemaluan masing-masing dengan jelas seperti masuknya pedang ke dalam sarungnya.

Hal tersebut di dasari pendapat para ulama yang mensyaratkan adanya ghiyabul hasyafah (hilangnya/masuknya) bagian dari kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita sebagaimana pertanyaan Rasulullah kepada Maiz yang mengaku berzina: ”Barangkali kamu hanya memegang atau hanya melihat?”. Maiz menjawab,”Tidak hanya itu ya Rasulullah”. Rasulullah SAW bertanya lagi secara detail, ”Seperti masuknya almurud ke dalam mikhalah? Dan seperti masuknya ember ke dalam sumur?’. Maiz menjawab dengan mantap, ”Benar!!!”.

Mikhalah adalah tempat menyimpan celak mata yang biasanya berupa wadah dan almurud adalah semacam batangan yang bisa masuk ke dalam wadah itu.

Bahkan, hukuman rajam yang sedang dilakukan bisa saja dibatalkan. Itulah yang terjadi di masa Rasulullah saat Maiz si terhukum kabur dari lemparan batu saat dirajam. Oleh para eksekutornya, Maiz kemudian dikejar-kejar hingga kemudian eksekusi itu berakhir dengan meninggalnya Maiz. Saat mendengar hal itu, betapa sedih hati Rasulullah SAW dan berkata, “Mengapa kalian teruskan eksekusi itu, mungkin saja dia ingin mencabut pengakuannya.”

Karenanya tidak tepat jika ada orang yang memandang hukum Islam itu kejam. Hukum rajam sebagai salah satunya. Dalam sejarahnya, ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, pelaksanaan hukuman rajam hanya dilakukan dua atau tiga kali saja. Itu pun bukan karena adanya tuduhan dengan menghadirkan empat orang saksi, karena yang demikian amatlah sulit, melainkan kesadaran dari pelakunya sendiri seperti kisah Maiz di atas dan pengakuan seorang perempuan di zaman itu.

Zina tak hanya memberikan dosa yang besar kepada pelakunya, tapi juga penyakit yang sepertinya belum ada penawarnya. Lebih parahnya lagi, penyebaran penyakit tersebut tak hanya menjangkiti para pelakunya. Orang-orang yang mungkin tidak bersalah pun bisa juga terkena getahnya. Kiranya seperti itulah hukuman yang Allah jatuhkan kepada manusia-manusia yang membangkang. Tak hanya mereka yang berbuat saja yang terkena, tapi orang-orang yang tak tahu-menahu pun bisa terkena imbasnya. Karena itulah, di dalam Islam, amar ma’ruf dan nahi munkar tidak bisa dipisahkan.

Nyatanya, di antara kedua hal tersebut, yang kedua jelas lebih berat. Apalagi di zaman sekarang, di mana ketika seaeorang diingatkan, maka kebanyakan akan berkilah dan berdalih di balik hak asasi manusia.

“Yang ngelakuin gue. Yang bayar gue, pake duit gue. Yang ngerasaian enak atau sakit, gue. Kenapa loe yang pada ribut?”

Kira-kira itulah kalimat yang digunakan oleh orang-orang yang tidak mau diingatkan. Kalimat tersebut saya kutip dari ceramah terakhir almarhum KH. Zainuddin MZ.

Untuk menghindari perbuatan zina tersebut, Islam telah memberikan larangan untuk mendekatinya. Mendekatinya saja sudah tidak boleh, apalagi melakukannya. Karenanya,Islam telah memberikan sebuah pintu yang indah dan terhormat bagi orang-orang yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya. Pintu itu adalah menikah.

Dengan menikah atau menikah lagi, apa yang semula terlarang menjadi dibolehkan. Dengan menikah, apa yang semula diharamkan untuk dilakukan oleh seorang lelaki dan wanita menjadi halal. Demikian juga halnya dengan pintu rezeki yang akan bertambah lebar terbuka dan bertambah berkah.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)

Tak hanya itu, jika zina adalah perbuatan keji, maka menikah merupakan sunnah Nabi. Jika kita mengaku sebagai ummatnya, maka salah satu cara untuk membuktikannya adalah dengan menikah.

“Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun Aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut di antara kalian dan juga paling bertaqwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shakat dan juga tidur seta menikahi wanita. Barang siapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku. [Shahih Nukahari 4675]

Jika sudah pasti bahwa berzina adalah salah satu dosa besar karena memasukkan pedang bukan ke dalam sarungnya yang sah, maka secara logika, jika seseorang meletakkan pedangnya ke dalam sarungnya yang sah, maka pahala besar akan diberikan kepada pelakunya. Percaya?

Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa, bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah, (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah, pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah, pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah), memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah, mencegah perbuatan munkar adalah sedekah, dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?”

Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda, “Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” [Shahih Muslim 1674]

Wallahu a’lam.

*ditulis dan diposting dengan rasa iri

85 respons untuk ‘Meraih Pahala Sebesar Dosa Zina

  1. jampang Juli 18, 2011 / 00:00

    onit said: sependapat lagi :)manusia sangat mungkin sekali salah mengutip, salah mendengar, salah paham. apalagi dgn perkembangan peradaban manusia yg sungguh sangat berbeda sekali dibanding 1500 tahun yg lalu.kalau saya memilih belajar lewat mereka yg mempelajari sejarah agama benar2, mas. yg melakukan penelitian secara menyeluruh. bukan yg cuma copy paste 🙂 karena isi kitab2 agama gak bisa dipelajari dgn copy paste, melainkan perlu diterjemahkan oleh mereka yg mengerti apa yg terjadi pada saat ayat itu turun.

    untuk Al-quran, sudah pasti tidak ada keraguan di dalamnya.Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. [QS. Al-baqarah : 2]dan kemurniannya serta kesuciannya tetap dijaga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaSesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [QS. Al-Hijr : 9]sedangkan Al-hadits, para ulama khususnya para ahli hadits seperti Bukhari dan Muslim sudah membantu manusia setelah zamannya beliau dalam meneliti dan mengecek keshahihan hadits, baik matan (isi) atau pun sanad (perawi).

  2. jampang Juli 18, 2011 / 00:00

    onit said: melainkan perlu diterjemahkan oleh mereka yg mengerti apa yg terjadi pada saat ayat itu turun.

    ya… untuk al-quran memang ada asbabun nuzulnya, sebab-musabab diturunkannya sebuah ayat.sementara untuk al-hadits ada asbabul wurudnya.

  3. jampang Juli 18, 2011 / 00:00

    roelworks said: itu yang anaknya salah seorang sahabat dihukum dera sampai meninggal juga ada bukannya …?

    saya juga pernah denger, mas.makanya di tulisan saya menyebut dua atau tiga, dan baru ketemu kisah Maiz dan perempuan ghamidiyah. satunya lagi belum nemu.

  4. deikka Juli 18, 2011 / 00:00

    nabung pahala yuk

  5. roelworks Juli 18, 2011 / 00:00

    Hadits Riwayat Imam at-Turmudzi :“Ada seorang perempuan yang diperkosa pada masa Rasulullah Saw, maka ia dilepaskan dari ancaman hukuman perzinahan, sementara pelakunya dikenakan hukuman had”. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Malik (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/269, no. hadits:1822) :Dari Nafi’ mawla Ibn ‘Umar ra, berkata: “Bahwa Shafiyyah bin Abi Ubaid mengkhabarkan: “Bahwa seorang budak laki-laki berjumpa dengan seorang budak perempuan, dan memaksanya berhubungan intim, maka Khalifah ‘Umar menghukumnya dengan cambukan, dan tidak menghukum si perempuan”..dari sini: http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=127158697350436

  6. jampang Juli 18, 2011 / 00:00

    deikka said: nabung pahala yuk

    silahkan….tambahan : bagi yang menginginkan anak, sebaiknya proses usahanya dilakukan empat hari sekali. mengingat masa 3-4 hari sperma berada dalam kualitas terbaiknya 🙂

  7. jampang Juli 18, 2011 / 00:00

    roelworks said: Hadits Riwayat Imam at-Turmudzi :“Ada seorang perempuan yang diperkosa pada masa Rasulullah Saw, maka ia dilepaskan dari ancaman hukuman perzinahan, sementara pelakunya dikenakan hukuman had”. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Malik (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/269, no. hadits:1822) :Dari Nafi’ mawla Ibn ‘Umar ra, berkata: “Bahwa Shafiyyah bin Abi Ubaid mengkhabarkan: “Bahwa seorang budak laki-laki berjumpa dengan seorang budak perempuan, dan memaksanya berhubungan intim, maka Khalifah ‘Umar menghukumnya dengan cambukan, dan tidak menghukum si perempuan”..dari sini: http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=127158697350436

    terima kasih atas tambahannya, masalhamdulillah… dapat ilmu lagi

  8. deikka Juli 18, 2011 / 00:00

    jampang said: silahkan….tambahan : bagi yang menginginkan anak, sebaiknya proses usahanya dilakukan empat hari sekali. mengingat masa 3-4 hari sperma berada dalam kualitas terbaiknya 🙂

    hua ha ha ha ha ………………… sssssssssssssssttttttttttt yang begini bisik2 aja ngomongnya

  9. nanazh Juli 18, 2011 / 00:00

    ngikut ngiri dulu aja deh*emang bisanya juga sedang gini~_~

  10. takedisaja Juli 18, 2011 / 00:00

    semoga irinya segera berakhir. 🙂

  11. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    deikka said: hua ha ha ha ha ………………… sssssssssssssssttttttttttt yang begini bisik2 aja ngomongnya

    upppsssss 🙂

  12. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    nanazh said: ngikut ngiri dulu aja deh*emang bisanya juga sedang gini~_~

    idem aja deh 🙂

  13. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    takedisaja said: semoga irinya segera berakhir. 🙂

    aamiiin. makasih, mbak

  14. kopiradix Juli 18, 2011 / 00:01

    jampang said: Bila zina itu dilakukan di luar wilayah hukum yang memberlakukan hukum hudud, maka pelakunya tidak bisa dipaksa untuk dihukum sesuai hukum hudud, baik cambuk atau pun rajam.

    jika di wilayah itu hukum rajam dan cambuk tidak diberlakukan, apakah si pezina masih bisa diampuni dosanya? maksudnya, masihkah ada peluang bagi si pelaku zina tuk memberishkan dirinya dari segala dosa

  15. kopiradix Juli 18, 2011 / 00:01

    dari riwayat yang pernah saya baca, 1x berzina dosanya jauh lebih besar daripada pahala 70 ibadah full .. mohon dikoreksi jika salah

  16. roelworks Juli 18, 2011 / 00:01

    kopiradix said: masihkah ada peluang bagi si pelaku zina tuk memberishkan dirinya dari segala dosa

    tobat nasuha …harusnya bisa 😀

  17. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    kopiradix said: masihkah ada peluang bagi si pelaku zina tuk memberishkan dirinya dari segala dosa

    insya Allah ada…”Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa 48).

  18. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    kopiradix said: dari riwayat yang pernah saya baca, 1x berzina dosanya jauh lebih besar daripada pahala 70 ibadah full .. mohon dikoreksi jika salah

    belum tahu. mas. maaf

  19. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    roelworks said: tobat nasuha …harusnya bisa 😀

    insya Allah…

  20. inimona Juli 18, 2011 / 00:01

    setelah membaca isinya, tetap tidak mengerti dengan maksud judulnya…

  21. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    @mbak mona : inti dari tulisan ini di bagian akhir yang berupa kutipan hadits. jika dua org lelaki dan perempuan yg bukan pasangan yg sah berhubungan badan, dosanya besar. sedang jika dilakukan oleh pasangan yg sah alias suami istri dapat pahala yg besar pula. insya Allah 🙂

  22. hwwibntato Juli 18, 2011 / 00:01

    ikut menyimak, Mas Rifki …ngeri sekali, ya …

  23. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    @mas nahar : terima kasih infonya. saya baru tahu kalau ada yang seperti itu.

  24. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    @mas hendra : supaya gak ngeri, baca judulnya dan hadits yg terakhir aja mas 🙂

  25. hwwibntato Juli 18, 2011 / 00:01

    jampang said: @mas hendra : supaya gak ngeri, baca judulnya dan hadits yg terakhir aja mas 🙂

    betul, betul … he he he …

  26. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    xixixixixixi….siiiip lah. karena poin tulisan saya sebenarnya di situ cuma banyak ngalor ngidulnya 🙂

  27. inimona Juli 18, 2011 / 00:01

    relevan kah perbandingan ‘sebesar’ antara pahala dan dosa yang dimaksud? hehehe… saya hanya ga sepakat aja dengan analogi perbandingannya

  28. jampang Juli 18, 2011 / 00:01

    inimona said: relevan kah perbandingan ‘sebesar’ antara pahala dan dosa yang dimaksud? hehehe… saya hanya ga sepakat aja dengan analogi perbandingannya

    kalau besarnya seh hak prerogatif Allah. cuma menyimpulkan hadits di bagian akhir. kalau berzina berdosa, kalau berhubungan suami istri berpahala.wallahu a’lam.

  29. Anisha DiNozzo Mei 27, 2015 / 08:45

    saya suka….saya suka…. nice post!
    Ya Allah betapa penyayangnya Rasulullah dg umatnya. Bahkan yg sudah mengaku berbuat zina sekalipun seperti Maiz.
    *ngetik komen sambil sesenggukan

    • jampang Mei 27, 2015 / 10:50

      begitulah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s