Lelaki dan Gunung

gunungLelaki itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan teman-teman sesama relawan yang sedang bekerja keras membantu para pengungsi. Entah keputusan itu benar atau tidak, dia pun tak tahu. Yang pasti, hatinya berpikir, bukan hanya para korban yang perlu diselamatkan, Gunung yang meletus pun perlu diselamatkan.

“Aku mungkin tak bisa mengambalikan dirinya seperti semula, tapi aku mungkin bisa sedikit menghiburnya. Setidaknya aku bisa menyapanya,” pikir lelaki itu sambil melangkah mendekati Gunung yang puncaknya masih mengeluarkan asap.

Di salah satu tempat yang dirasa cukup nyaman, lelaki itu duduk kemudian bersandar.

“Hai, apa kabar?” Sapanya.

Di dahului dengan tarikan napas panjang, Gunung menjawab, “Lumayan lega. Seperti yang kau lihat, aku telah mengeluarkan unek-unek dan kekesalan dalam hatiku.”

“Kenapa kau melakukannya? Ada sesuatu yang mengganggu ketenanganmu selama ini?” Tanya lelaki lagi.

“Sebenarnya, selama ini aku hanya menjalankan tugas yang diamanahkan kepadaku sebagai pasak untuk menjaga bumi agar tidak beroyang dan bergoncang ketika ia berotasi atau pun berevolusi. Setidaknya itu yang kau bisa baca di dalam sebuah kitab yang aku sendiri tak sanggup jika diturunkan kepadaku. Diriku akan hancur lebur.”

Lelaki itu diam menyimak.

“Maka aku pun menahan sakit setiap kali tubuhku diinjak, dipahat, atau pun digali oleh manusia di sekelilingku. Aku tidak ambil pusing jika ada yang mengotoriku dengan air seni dan kotoran mereka. Aku masih mampu bertahan.”

“Lalu apa yang membuatmu tidak sanggup lagi bertahan?” Tanya lelaki itu dengan penuh rasa penasaran.

“Ketika kulihat ada perbuatan mereka yang telah melanggar fitrah mereka sebagai manusia dan juga fitrahku sebagai makhluk, aku marah. Tapi gemeretak gigiku tak mereka dengar. Maka ketika amarahku sudah ke ubun-ubun, kutumpahkan apa yang ada di dalam perutku, sambil berharap mereka yang tergeletak di bawah dan mereka yang duduk di singgasana tersadar akan kelalaian yang bisa menyeret mereka semua ke neraka,” Gunung itu menjawab dengan nada sedih.

“Sepertinya aku mengalami hal yang serupa, hanya saja kadarnya yang berbeda,” lelaki itu menimpali.

“Apa maksudmu?” Tanya Gunung Penasaran.

“Ketika aku disamakan dengan binatang, aku tetap diam. Ketika aku dipaksa untuk meninggalkan prinsip yang selama ini telah kupegang, aku masih bersedia. Aku berharap, di kemudian hari ada simpati yang mengalir dan pengorbananku tidak menjadi sebuah kesia-siaan.”

Lelaki itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tapi, ketika aku dihadapi pilihan, antara cinta manusia dan bau surga, maka aku memilih bau surga dan pergi meninggalkan cinta yang berduri.”

“Lalu, bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Gunung kembali.

“Sama seperti yang kau rasakan. Lumayan lega. Apalagi setelah membandingkan antara apa yang telah terjadi dengan apa yang sekarang kujalani. Ada banyak hikmah yang kurasakan, begitu juga bagi orang-orang di sekelilingku.”

“Kau tahu?” Tanya Gunung.

“Tahu apa?” Lelaki itu balik bertanya.

“Bahwa tak layak menagih simpati dari manusia,” jawab Gunung.

Lalu keduanya terdiam. Menikmati suasana yang ada.


Baca Juga Seri Lelaki Lainnya :

34 respons untuk ‘Lelaki dan Gunung’

  1. cawah Juli 20, 2011 / 00:00

    wah cerita tentang lelaki dan gunung yang penuh makna. memang kita ini mustinya harus berharap byk pada Rabb kita, bukan sesama makhluk. mengemis kasih aku sukaaaa……..

  2. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    ah… teteh tahu aja 🙂

  3. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    iya mbak… sedalam hati ini… *apa coba*

  4. friewan Juli 20, 2011 / 00:00

    selalu takjub dengan analoginya..

  5. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    idenya mah dari orang lain, mas. cuma bisa modifikasi aja

  6. itsmearni Juli 20, 2011 / 00:00

    wah penuh makna. menyadarkan akan banyak hal. manusia dengan manusia. manusia dengan lingkungan. manusia dengan Tuhan 🙂

  7. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    begitulah kira2, mbak. tapi intinya seh…. curhat…. xixixixixi

  8. ydiani Juli 20, 2011 / 00:00

    tak layak menaruh simpati siapapun 😀

  9. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    tapi… di sisi lain kadang mengharap, mbak 🙂

  10. hwwibntato Juli 20, 2011 / 00:00

    perbincangannya asyik sekali … he he he …

  11. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    tapi susah mo nyaingin gaya bahasa kang hendra 🙂

  12. onit Juli 20, 2011 / 00:00

    “Bahwa tak layak menagih simpati dari manusia,” jawab Gunung. –> manteb!. ps: tapi cewe yg seperti gunung juga banyak mas 🙂

  13. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    ooo… banyak juga yg gitu yah. kirain ceew lebih mudah memaafkan.

  14. takedisaja Juli 20, 2011 / 00:00

    sayangnya sang gunung menumpahkan kesalnya. pun pada manusia yang tak menyumbang salah. dan sang lelaki belum kah cukup waktu tuk obati luka hati? daripada lelah mencari simpati segeralah mencari pengganti haha…:))

  15. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    ketika Allah memberikan peringatan atas kesalahan manusia, misalnya melalui perantara gunung, maka peringatan tersebut tidak memandang bulu, siapapun bisa kena. hanya saja mungkin tujuannya bukan menegur atau mengingatkan tapi menguji.weks…. akan tiba waktunya…. xixixixixixi

  16. melatidesa Juli 20, 2011 / 00:00

    aku suka tulisan nya…bahasanya simple dan lancar, enak d baca 🙂

  17. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    duh jadi nggak enak body dibilang gitu. makasih, mbak 🙂

  18. trewelu Juli 20, 2011 / 00:00

    di akhir zaman yang menyesatkan ini, bagaimana caranya membedakan bau surga dengan hawa nafsu?

  19. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    bau surga di dalam tulisan di atas adalah yang tidak diperoleh bagi laki-laki dayyus, mbak. yaitu laki-laki yang tidak merasa cemburu atas istrinya dlm bergaul dengan lelaki lain. kalau hawa nafsu, umumnya kan ke arah yg buruk… dan nafsu pun ada macam dan tingkatannya. yang tertinggi dan terbaik adalah nafsul muthmainnah. CMIIW

  20. trewelu Juli 20, 2011 / 00:00

    maaf mas, saya tetep susah ngerti, bagaimana bisa membedakan cemburu buta dengan cemburu normal di tatanan masyarakat indonesia yang memang pergaulan dengan berbaurnya laki2 dan wanita itu wajar? kecuali yang memang keterlaluan. ataukah ini lebih ke arah nusyuz?

  21. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    Nusyuz adalah pelanggaran istri terhadap perintah dan larangan suami secara mutlak. Jika seorang istri tidak melakukan kewajiban semisal shalat, atau melakukan keharaman seperti tabarruj (berpenampilan yang menarik perhatian lelaki lain), maka seorang suami wajib memerintahkan istrinya untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman tersebut. Jika tidak mau, berarti dia telah melakukan tindakan nusyuz.sedangkan pergaulan laki-laki dan perempuan di Indonesia, saya juga agak bingung mbak. jadi mungkin dikembalikan kepada aturan bakunya menurut Islam.sedangkan dalam cerita di atas, mungkin lebih dekat dayyus. contohnya, jika dalam hal ini seorang istri bergaul dengan laki-laki lain di luar batas, seperti menelpon dan SMS tentang perasaan cinta. Jika suami tidak cemburu, maka menurut saya itu masuk ke dalam dayyus. makanya suami yang mempunyai istri seorang aktris yg dalam aktingnya dipeluk, dipegang, dan dicium lawan mainnya, jika dia tidak cemburu, maka bisa terjatuh dalam dayyus. wallahu a’lam.

  22. trewelu Juli 20, 2011 / 00:00

    nah, kalau dalam pergaulan istri yang berlebihan lantas si suami tidak melakukan tindakan apa2 untuk memperbaikinya meskipun cemburu, termasuk dayyus, bukan? sementara kalau dia sudah melakukan pelarangan, lantas istrinya melanggar, masuk nusyuz, bukan? tapi kalau si lelaki cemburu lantas muntab kayak gunung, mungkin sebenarnya hawa nafsunya yang perlu dikaji ulang. cmiiw. oh ya, rosul juga nggak langsung menerapkan hukum islam di lingkungan jahiliyah, bukan?

  23. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    nah, kalau dalam pergaulan istri yang berlebihan lantas si suami tidak melakukan tindakan apa2 untuk memperbaikinya meskipun cemburu, termasuk dayyus, bukan?menurut saya iya.sementara kalau dia sudah melakukan pelarangan, lantas istrinya melanggar, masuk nusyuz, bukan?menurut saya iya juga.tapi kalau si lelaki cemburu lantas muntab kayak gunung, mungkin sebenarnya hawa nafsunya yang perlu dikaji ulang. cmiiw.kalau tanpa mengingatkan dengan menegur dan sebagainya… tentunya salahoh ya, rosul juga nggak langsung menerapkan hukum islam di lingkungan jahiliyah, bukan?sependek pengetahuan saya… hukum Islam juga diturunkan bertahap, gak sekaligus. dan masing-masing ayat yang dijadikan dasar hukum diturunkan dengan suatu sebab tertentu.wallahu a’lam.

  24. ipie Juli 20, 2011 / 00:00

    Cowo hatinya ky gunung.. Biasanya krn dya setia. Tp kalau udah kecewa.. Sulit didaki hatinya. Musti alon2 dicari alur jalan hatinya. Pada dasarnya sifat cowo ama cewe ampir sama. Bedanya cowo lbh keras kepala, cewe lbh sensitif.

  25. jampang Juli 20, 2011 / 00:00

    kayanya pengalaman banget 😛

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s