Syaikhan : Ayam Yang Ada Garing-garingnya

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Minggu pagi, sekitar pukul lima lewat sekian menit, Syaikhan sudah bangun. Selama beberapa saat saya memangkunya. Setelah ‘mengembalikan’ kesadarannya, Syaikhan mulai mengajak main ini dan itu. Lalu mengajak saya dan neneknya bermain ke rumah nenek Wawa dan kakek Didi. Di sana Syaikhan main cukup lama, terutama menggambar dengan spidol warna yang saya belikan di hari sebelumnya dan memetik bunga. Bahkan mandi pun di sana.Selanjutnya, Syaikhan mengajak ke ITC. Ingin bermain dan makan ayam yang garing-garing di sana, katanya. Permintaan tersebut sebenarnya juga sebagai sarana saya untuk memenuhi janji membelikan permen lolipop untuk Syaikhan di hari Jum’at melalui tetelpon. Sekitar pukul sepuluh kami berangkat menuju ITC.

Kali ini Syaikhan tidak ingin bermain di tempat yang biasanya di lantai empat. Alasannya, terakhir pergi ke sana sepi. Akhirnya Syaikhan meminta main di tempat yang ada mobil-mobilan dan rumah-rumahan, arena bermain yang pertama kali dikunjunginya di ITC.

Ternyata, di tempat tersebut juga sepi. Hanya sendiri. Syaikhan tak bersemangat. Hanya bermain beberapa menit, Syaikhan langsung meminta makan karena merasa lapar. Maka kami keluar menuju tempat makan yang menyediakan ayam yang garing-garing (fried chicken) yang dipilih Syaikhan, sebuah restoran fast food dengan mainan perosotan.

Ketika saya tanya mau pesan apa, Syaikhan langsung menjawab, nasi, ayam, dan kentang. Ketika ditanya minumnya apa, Syaikhan langsung menjawab susu, padahal biasanya Syaikhan meminta air mineral yang dingin.

Setelah pesanan siap, saya mulai menyuapi Syaikhan. Sesuap demi sesuap, nasi dan ayam masuk ke mulut Syaikhan. Mungkin Syaikhan benar-benar lapar atau bisa juga karena sambil bermain dengan anak-anak lain yang sedang bermain perosotan, meskipun awal-awalnya Syaikhan tidak mau bermain, hanya melihat saja. Tetapi begitu sekali mencoba, Syaikhan tak mau berhenti. Ternyata pilihan Syaikhan tepat. Syaikhan senang, saya pun mudah menyuapi Syaikhan, bahkan susunya pun diminum dengan sukarela, tidak seperti biasanya.

Setelah nasinya habis, saya tidak langsung keluar dari restoran tersebut, saya biarkan Syaikhan bermain bersama teman-temannya. Saya sendiri asyik dengan menulis cerita tentang Syaikhan yang di malam sebelumnya ikut tarawih bersama saya.

Ketika waktu Zhuhur tiba, saya mengajak Syaikhan untuk shalat. Tapi Syaikhan tidak langsung mau. Setelah beberapa kali saya ajak, Syaikhan meminta untuk bermain tiga kali lagi sambil menunjukkan tiga jari tangan kanannya ke arah saya. Saya setujui.

Tapi ketika tiga kali putaran, Syaikhan tetap tidak mau meninggalkan arena permainan. Akhirnya saya bujuk untuk membeli permen lolipop, baru Syaikhan mau berhenti.

Dua buah permen lolipop saya belikan untuk Syaikhan. Lalu kami menuju musholla untuk shalat zhuhur.

“Syaikhan jangan bobo yah!” pinta saya ketika kami sudah duduk di atas motor.

“Nggak bobo, Bi. Tu…tu…” jawabnya sambil memperlihatkan kedua matanya yang masih terbuka.

“Ya sekarang, nanti kalau di atas motor, Syaikhan pasti bobo.”

“Nggak, Bi!”

Selama perjalanan, saya coba memanggil namanya dan mengajak bicara. Awalnya berhasil. Tetapi ketika sekitar seratus meter lagi tiba di rumah, Syaikhan sudah mulai tertidur. Tubuhnya mulai goyang-goyang tidak stabil.

Tiba di pintu rumah, Syaikhan sudah tertidur pulas, sehingga tidak protes ketika adik saya menggendongnya dan meletakkannya di tempat tidur.


Postingan Terkait :

Celoteh Syaikhan [12] : Permohonan Maaf dan Jangan Menangis Celoteh Syaikhan [12] : Permohonan Maaf dan Jangan Menangis
Celoteh Syaikhan [11]: Buat Nenek Belum, Bi! Celoteh Syaikhan [11]: Buat Nenek Belum, Bi!
Celoteh Syaikhan [10] : Bercanda, Bi! Celoteh Syaikhan [10] : Bercanda, Bi!
Celoteh Syaikhan [9] : Selamanya Celoteh Syaikhan [9] : Selamanya
Celoteh Syaikhan [8] : Nenek Berdoa, Dong! Celoteh Syaikhan [8] : Nenek Berdoa, Dong!
Celoteh Syaikhan [7] : Ada Hadiah! Celoteh Syaikhan [7] : Ada Hadiah!
Celoteh Syaikhan [6] : Perutnya Nanti Pecah Celoteh Syaikhan [6] : Perutnya Nanti Pecah
Celoteh Syaikhan [5] Celoteh Syaikhan [5] : Baju Basah, Mi Rebus, dan Jelly
Syaikhan : Celoteh [4] Di Telepon Celoteh Syaikhan [4] Di Telepon
Celoteh Syaikhan [3] : Waktu Masih Bayi Celoteh Syaikhan [3] : Waktu Masih Bayi

59 respons untuk ‘Syaikhan : Ayam Yang Ada Garing-garingnya

  1. dieend18 Agustus 22, 2011 / 00:00

    Syaikhan.. Tante jg mau donk ayam garing2nya 🙂

  2. melatidesa Agustus 22, 2011 / 00:00

    jampang said: wah……pake susu nggak?

    hahaha hanya nasi, ayam, dan kentang nya yg sama 🙂

  3. jampang Agustus 22, 2011 / 00:00

    dieend18 said: Syaikhan.. Tante jg mau donk ayam garing2nya 🙂

    suka juga yah?

  4. jampang Agustus 22, 2011 / 00:00

    melatidesa said: hahaha hanya nasi, ayam, dan kentang nya yg sama 🙂

    kirain sama semuanya 🙂

  5. cawah Agustus 23, 2011 / 00:00

    syaikhan tau aja ya makanan enak hehhe…

  6. jampang Agustus 23, 2011 / 00:00

    ya karena pernah nyoba jadi ketagihan… udah gitu sering liat iklannya di tv 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s