Lelaki dan Segelas Susu

ilustrasi : sampulbaca.blogspot.com

Lelaki itu sudah berada di sebuah kamar yang baru pertama kali dia masuki. Harum aroma melati menyelimuti sekeliling kamar. Direbahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan seprei berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga di beberapa bagian.

Rasa lelahnya setelah menerima kehadiran para tamu dan undangan sudah mulai hilang. Ada rasa senang di hatinya. Ada rasa bahagia pula di sana. Namun seiring detik jarum jam dinding di kamar itu, degup jantungnya semakin cepat.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan dari luar. Lelaki itu, Zul, terbangun. Zul duduk di sisi tempat tidur. Kedua matanya tertuju ke arah pintu yang semakin lebar terbuka.

Seorang perempuan berjilbab kuning memasuki kamar sambil membawa segelas susu di tangannya. Setelah menutup pintu kembali, perempuan tersebut menghampiri si lelaki dengan wajah tertunduk. Malu.

“Minumlah, Kak!” Pinta Nisa dengan lemah lembut.

Zul kemudian menerima gelas susu dan kemudian meminumnya perlahan.

Setelah separuh susu dalam gelas tersebut diminumnya, Zul memberikan gelas susu tersebut kepada Nisa.

“Minumlah, Dik!” Kali ini Zul yang mengajukan permintaan.

Dengan malu-malu, Nisa menerimanya dan kemudian meminumnya hingga habis.

Tak lama kemudian, keduanya melaksanakan shalat sunnah bersama-sama.

Setelah selesai, Zul bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Nisa. Zul meletakkan tangan kanannya di atas kepala Nisa lalu mengucapkan sebuah doa, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah Engkau adakan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang Engkau adakan untuknya.”

Lalu keduanya duduk bersebelahan di atas tempat tidur.

Zul kemudian mengulurkan tangannya ke arah wajah Nisa, bermaksud menyentuhnya. Tapi Nisa menolaknya.

“Sabarlah, Kak! Sesungguhnya aku adalah perempuan yang asing bagimu. Engkau pun adalah lelaki asing bagiku. Aku belum mengenal perangaimu, maka ceritakanlah hal-hal yang engkau sukai untuk aku kerjakan dan hal-hal yang engkau benci untuk aku hindari,” ucap Nisa.

Zul pun menjawab, “Aku suka ini dan itu. Aku benci ini dan itu.”

Nisa mendengarkan perkataan Zul dengan penuh perhatian.

Akhirnya malam zafaf yang paling indah itupun mereka raih.

 

13 thoughts on “Lelaki dan Segelas Susu

    • jampang Juli 3, 2013 / 21:05

      karena romantis, adegannya saya masukkan ke dalam novel 😀

    • jampang Januari 28, 2016 / 20:55

      saya jarang banget minum susu, mas. dulu waktu kecil sih iyah

      • jampang Januari 28, 2016 / 21:05

        Enggak suka. Terakhir kali minum susu waktu syaikhan minum susu UHT nggak habis… Saya yg habisin.

      • wisnuwidiarta Januari 28, 2016 / 21:07

        Hahaha.. Susu soda juga enggak?

      • jampang Januari 29, 2016 / 05:27

        Susu soda sama soda gembira beda apa sama? Kalau soda gembira pernah minum, tp udah lama juga terakhir minun

      • wisnuwidiarta Januari 29, 2016 / 08:49

        Sama saja. Susu kental putih dicampur sirup dan es.

      • jampang Januari 29, 2016 / 09:46

        kalau gitu… saya juga jarang minumnya, mas 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s