(Rumah Kenangan) Rumah Tiga Babak

My beautiful picture

Hingga saat ini, saya pernah tinggal di tiga buah rumah berbeda. Rumah pertama adalah rumah di mana saya dilahirkan dan dibesarkan. Rumah kedua adalah rumah yang dibeli oleh orang tua saya setelah rumah pertama dijual dan menjadi tempat tinggal saya kembali setelah lima tahun meninggalkan rumah tersebut. Rumah ketiga adalah rumah yang saya rintis dari bentuk mungil hingga menjadi bangunan yang cukup besar dengan bantuan pinjaman bank.

Saya paling lama tinggal di rumah pertama, karenanya saya bisa menyaksikan beberapa babak perubahan yang terjadi pada rumah itu.

Dahulunya, rumah itu sangat sederhana sekali. Temboknya terdiri dari dua bagian. Bagian bawah berupa bata, sedangkan bagian atasnya berupa papan. Langit-langitnya terbuat dari bilik bambu. Lantainya masih berupa tanah. Jumlah kamarnya hanya dua buah dengan sehelai kain gorden terpasang di setiap pintunya sebagai aling-aling, bukan sebuah pintu.

Tempat tidurnya masih menggunakan kelambu. Setiap malam, sebelum saya dan adik-adik tidur, ayah atau ibu akan mengusir nyamuk-nyamuk sebelum kelambu diturunkan.

Untuk menjaga lantai tanah agar tetap bagus dan bersih, secara rutin ibu saya menyapunya dan kemudian menyiramkan air ke atasnya, lalu meratakan air dengan sapu lidi sambil memukul-mukulkan sapu tersebut ke tanah. Selanjutnya, ibu menaburkan bubuk gergaji ke atas lantai tanah yang masih basah itu secara merata.

Jika lantai tanah sudah kering, maka akan terlihat tanah yang rata, halus, dan tidak pecah-pecah seperti tanah yang mengalami kekeringan.

Rumah tersebut masih memiliki ciri rumah tipe lama. Di antarnya adalah berupa ruang kecil yang berada di atas setiap pintu yang dalam bahasa betawi disebut “kelam”. Ruang itu biasanya digunakan untuk menyimpan aneka peralatan seperti obeng, martil, dan sebagainya.

Rumah tersebut memiliki dua kamar mandi, kamar mandi besar yang digunakan khusus untuk mandi dan mencuci dan kamar mandi kecil yang digunakan khusus untuk buang air, baik kecil maupun besar. Keduanya berada di luar, meski dindingnya tetap menyatu. Sehingga jika anggota keluarga mau mandi atau buang air harus keluar rumah. Untuk menuju kamar mandi, saya dan lainnya harus melewati pintu belakang rumah. Sedangkan untuk menuju kamar kecil untu buang air harus melewatu pintu depan rumah.

Karena letaknya demikian, maka jika saya ingin ke kamar mandi atau ke kamar kecil di malam hari, saya meminta ayah atau ibu untuk menemani karena ada masih merasa takut untuk pergi sendiri.

Pernah suatu ketika, ketika saya sedang BAB, terdengar orang memberi salam dari speaker masjid yang bermaksud menyampaikan sebuah berita duka cita. Secara spontan saya langsung menjawab salam tersebut. Ibu saya yang mendengar, langsung mengingatkan saya kalau di kamar mandi tidak boleh bicara.

Rumah yang saya tinggali kala itu hanya menempati sebagian dari luas tanah yang ada. Sebagiannya lagi yang berupa halaman, digunakan sebagai tempat bagi aneka tanaman hias yang merupakan barang dagangan seperti rumah-rumah di sekitar yang kebanyakan pemiliknya bermatapencaharian sebagai pedagang tanaman hias.

Di antara tanaman-tanaman hias di halaman tersebut tumbuh beberapa pohon besar sebagai pelindung. Di antaranya adalah pohon yang sekarang ini tidak pernah saya lihat lagi, yaitu Pohon Nusa Indah dan Pohon Jambu Mawar.

Pohon Nusa Indah bentuknya tinggi besar dan daunnya rindang. Bunganya berwarna kemerahan dengan sedikit variasi warna putih dan tidak mengeluarkan bau harum. Sedangkan Pohon Jambu Mawar hampir serupa tingginya dengan Pohon Nusa Indah. Namanya juga pohon jambu, otomatis akan berbuah. Buah jambu mawar yang masih mudah berwarna hijau, sedang yang masak berwarna kuning. Rasanya manis dan aromanya harum.

Bukti kenangan di rumah itu yang berwujud fisik yang masih ada hingga sekarang adalah foto saya satu-satunya ketika masih balita. Konon foto itu di ambil ketika saya berusia kurang dari satu tahun yang sedang duduk di atas meja dengan latar belakang dinding rumah.

Beberapa waktu kemudian, rumah tersebut mengalami renovasi meski tidak seratus persen. Temboknya yang semula sebagian bata dan sebagian lagi papan, berubah menjadi bata semua. Lantai yang semula berupa tanah, berubah menjadi lantai semen, namun tidak di semua ruangan.

Di ruang utama, seluruh lantai disemen dengan merata. Untuk memperindah tampilan, lantai semen tersebut akan ditutupi dengan karpet dari bahan plastik. Jika karpet tersebut sudah lama dan terdapat sobek di mana-mana, ibu saya akan mengganti karpet tersebut dengan yang baru dan model yang baru pula. Biasanya pergantian tersebut dilakukan ketika mendekati lebaran.

Sementara di ruangan lain semisal kamar tidur, lantai yang disemen hanya sebagian saja, yaitu bagian di dekat pintu dan di sekeliling tempat tidur. Sementara di bawah tempat tidur, lantainya masih tanah.

Di bagian lain juga masih terdapat komponen-komponen yang kurang, seperti jendela di ruang tamu yang belum dipasangi kaca. Jendela tersebut hanya dipasangi kawat selama beberapa waktu hingga akhirnya diganti dengan kaca. Langit-langit pun belum ada, sehingga bagian atap langsung terlihat. Aneka bentuk ‘lukisan’ yang tercipta di bagian bawah genting yang sudah tua menjadi hiasan alami rumah tersebut.

Akibat renovasi, luas rumah bertambah. Namun mengakibatkan Pohon Nusa Indah dan Pohon Jambu Mawar tergusur. Keduanya terpaksa ditumbangkan. Tanah tempat tumbuh keduanya dijadikan kamar tidur depan dan lubang sumur untuk mesin pompa air.

Ketika saya duduk di bangku SMA, ada seorang paman yang memberikan bantuan untuk melanjutkan renovasi rumah tersebut. Atas bantuan paman saya, rumah yang saya tempati akhirnya memiliki langit-langit. Paman saya yang membantu tersebut berkata kepada saya setelah renovasi langit-langit selesai, “Nah, sekarang Kiki kalau mau ngajak temen nggak bakalan malu.”

Mungkin itu sekedar ucapan bercanda, karena saya belum pernah berkata apa pun apalagi protes terkait dengan kondisi rumah saat itu.

Ketika saya duduk di bangku kuliah, saya baru tahu bahwa lahan di mana rumah itu berdiri adalah tanah warisan. Karena para ahli waris ingin segera membagi-bagikan harta warisan tersebut, maka tanah beserta rumah yang berdiri di atasnya harus dijual. Ayah saya yang menjadi salah satu ahli waris mendapat bagian yang kemudian digunakan untuk membeli rumah yang hingga sekarang masih ditempati ayah, ibu, dan adik-adik saya, termasuk saya yang disebut-sebut ‘kembalinya si anak yang hilang’.


Tulisan Terkait Lainnya :

66 thoughts on “(Rumah Kenangan) Rumah Tiga Babak

  1. bundanyarafi Oktober 3, 2011 / 00:00

    kenapa gitu? jarang ditelepon dan dikunjungi ya?

  2. drprita Oktober 3, 2011 / 00:00

    jampang said: Untuk menjaga lantai tanah agar tetap bagus dan bersih, secara rutin ibu saya menyapunya dan kemudian menyiramkan air ke atasnya, lalu meratakan air dengan sapu lidi sambil memukul-mukulkan sapu tersebut ke tanah. Selanjutnya, ibu menaburkan bubuk gergaji ke atas lantai tanah yang masih basah itu secara merata.

    baru tau cara merawat lantai tanah, seperti ini. Padahal dulu rumah nenek juga berlantai tanah

  3. jampang Oktober 4, 2011 / 00:00

    bundanyarafi said: kenapa gitu? jarang ditelepon dan dikunjungi ya?

    bukan itu.karena menurut encing-encing saya…. di antara para keponakan mereka, saya yg bisa dijadikan tempat bertanya atau berdiskusi, terutama soal agama… intinya saya sering nggak bisa hadir ketika diperlukan.

  4. jampang Oktober 4, 2011 / 00:00

    drprita said: baru tau cara merawat lantai tanah, seperti ini. Padahal dulu rumah nenek juga berlantai tanah

    itu yang saya lihat, mbak

  5. kakrahmah Oktober 12, 2011 / 00:00

    sekarang kayaknya udah jarang yang pake kelambu ya, dulu nemu kamar berkelambu juga di rumah paman :)nice story🙂

  6. jampang Oktober 12, 2011 / 00:00

    kakrahmah said: sekarang kayaknya udah jarang yang pake kelambu ya, dulu nemu kamar berkelambu juga di rumah paman :)nice story🙂

    iyah… sekarang tempat tidur bentuknya simple2 banget.makasih🙂

  7. intan0812 Oktober 13, 2011 / 00:00

    komen photo: mirip syaikhan… tp lebih montok :)makasih sudah partisipasi ya, langsung locked

  8. jampang Oktober 13, 2011 / 00:00

    intan0812 said: komen photo: mirip syaikhan… tp lebih montok :)makasih sudah partisipasi ya, langsung locked

    syaikhan lebih putih :-)sama-sama uni.

  9. dieend18 Oktober 13, 2011 / 00:00

    Dulu waktu msh kecil dan tinggal dirmh nenek, sy paling gak mau tidur pake kelambu… Pengap rasanya. Jd tiap kelambu dipasang, lgsg sy buka lg…🙂

  10. jampang Oktober 14, 2011 / 00:00

    dieend18 said: Dulu waktu msh kecil dan tinggal dirmh nenek, sy paling gak mau tidur pake kelambu… Pengap rasanya. Jd tiap kelambu dipasang, lgsg sy buka lg…🙂

    kalau nggak ada nyamuk ya nggak masalah, mbak

  11. qqcakep Oktober 17, 2011 / 00:01

    Rumahnya cakep🙂

  12. jampang Oktober 17, 2011 / 00:01

    qqcakep said: Rumahnya cakep🙂

    itu rumag mungil milik saya, yang sekarang udah berubah. hanya sebagai ilustrasi aja. mau tulisvtentang rumah itu…. cuma boleh satu aja tulisan yg diikutin lomba.

  13. bunda2f Oktober 23, 2011 / 00:01

    foto rumah yg di atas itu foto rumah siapa? rumah orang tua yg baru?

  14. jampang Oktober 24, 2011 / 00:01

    bunda2f said: foto rumah yg di atas itu foto rumah siapa? rumah orang tua yg baru?

    rumah saya pertama kali. tapi kemudian direnovasi karena syaikhan sudah besar dan butuh tempat main yg lebih luas

  15. arifah89 Oktober 29, 2011 / 00:01

    cerita ttg rumah mengasyikan jg ya… jd pingin ikutan..tp bs ga ya…

  16. jampang Oktober 29, 2011 / 00:01

    coba aja…. masih ada waktu koq.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s