Lelaki di Sudut Halte

lelakidisuduthalteMenunggu, adalah yang dilakukan oleh lelaki di sudut halte yang sepi itu. Pandangan matanya tertuju ke arah jalan di sebelah kanannya. Bis yang ditungg-tunggu sejak tadi, baik P.6 atau pun P.46, tidak kunjung datang.

Tiba-tiba datang seorang perempuan yang kemudian duduk di sudut halte yang berseberangan dengan dirinya. Perempuan itu mengenakan jilbab kuning, blouse batik dengan warna dan corak senada dengan jilbab, serta rok hitam. Sesaat kemudian, perempuan itu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Buku itu berwarna biru dan bertuliskan “Jejak-jejak yang Terserak”

di sampulnya. Perempuan itu kemudian larut dalam bacaannya.Dari jarak yang hanya terpisah dua atau tiga meter, lelaki itu bisa melihat dengan jelas wajah perempuan perempuan tersebut.

Cantik, pikir lelaki itu. Namun sesaat kemudian, penilaiannya itu langsung berubah. Manis, itulah yang ada di dalam benaknya sekarang. Dalam penilaiannya perempuan yang manis itu melebihi perempuan yang cantik. Secara sederhana, lelaki itu menilai perempuan yang cantik terkadang bisa membosankan, tapi perempuan yang manis tidak akan pernah membosankan.

Mungkin menyadari ada yang sedang memperhatikan dirinya, perempuan jilbab kuning tersebut menengok ke arah lelaki itu. Pandangan mata keduanya beradu beberapa saat. Namun keduanya tersadar, lalu memalingkan pandangan masing-masing. Si lelaki mengarahkan pandangan ke arah gedung berlantai dua puluh lima di seberang halte, sementara perempuan berjilbab kuning itu mengubah posisi duduknya agak miring ke kanan. Lalu dia melanjutkan membaca buku kembali.

Ada sesuatu yang dirasakan lelaki itu ketika melihat wajah perempuan berjilbab kuning di sampingnya. Dia merasa pernah melihat dan mengenal wajah itu. Memori di dalam otaknya langsung bekerja untuk menggali kenangan-kenangan di masa lalu terkait dengan wajah yang baru saja terlihat nyata di hadapannya.

“Mungkinkah dia itu Sali?” Sebuah nama muncul dalam pikiran lelaki itu.

Lelaki itu kemudian memberanikan diri untuk melihat kembali sosok perempuan berjilbab kuning. Meski tak bisa melihat wajah perempuan itu sejelas beberapa saat yang lalu karena posisi duduknya yang agak membelakanginya, lelaki itu mencoba membandingkan wajah nyata itu dengan wajah yang ada di dalam ingatannya.

“Benar! Itu Sali!” Teriak lelaki itu dalam hati.

Lelaki itu melangkah mendekati tempat duduk perempuan itu, kemudian memanggil nama yang sejak tadi bergelayut di dalam pikirannya, “Sali?”

Perempuan itu menoleh.

“Kamu Sali, kan? Salimah Qalbiyah?” Tanya lelaki itu kembali.

Meski merasa kaget, perempuan tersebut menjawab, “Iya.”

“Ternyata benar, kamu Sali,” lelaki itu merasa lega bahwa ingatannya tidak salah. “Masih ingat aku, nggak?” Tanyanya kemudian.

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Perempuan itu mungkin mencoba mengingat-ingat siapa lelaki yang saat itu sedang bicara dengannya. Dia mengernyitkan dahinya seperti berpikir keras. Lalu berkata dengan nada bertanya, “Zul?”

“ Betul! Aku Zul. Zulham.” Jawab lelaki itu tersenyum. “Nggak nyangka bisa ketemu lagi. Aku hampir nggak ngenalin kamu dengan penampilan seperti ini. Beda dengan penampilan kamu waktu di SMA dulu,” sambungnya.

“Alhamdulillah, aku mendapat hidayah untuk memperbaiki penampilan dan cara berpakaian. Aku juga nggak langsung bisa ngenalin kamu. Soalnya sekarang tambah subur. Sepertinya hidupmu makmur,” timpal Sali.

“Bisa aja. Kok kamu ada di sini?” Tanya Zul kemudian.

“Kantorku pindah ke Gedung Kembar itu sekitar sebulan yang lalu. Kamu sendiri?”

“Oh ya? Sama kalau begitu. Perusahaan tempat aku bekerja juga di Gedung Kembar itu. Kantorku di Tirtaloka I lantai lima. Aku sudah bekerja di sana sekitar lima tahun.” Jawab Zul.

“Kalau aku di Tirtaloka II lantai tiga.” Imbuh Sali.

“Sekarang tinggal di mana?” Tanya Zul selanjutnya.

Dahulu, rumah orang tua Zul dan Sali berada dalam satu kelurahan. Mungkin kalau mengikuti definisi tetangga yang mengatakan bahwa jarak empat puluh rumah dari rumah seseorangh, baik di depan, di belakang, di samping kiri, dan disamping kanan adalah tetangga, maka keluarga Zul dan Sali adalah tetangga.

“Aku tinggal di daerah Tanah Abang. Kamu masih di Kebon Jeruk?”

“Masih.”

“Kamu tiap hari naik angkot?”

“Biasanya sih, Aku naik motor ke kantor. Tapi karena luka di pundak kiriku belum sembuh akibat kecelakaan sebulan yang lalu, Aku belum bisa naik motor.”

“Kecelakaan? Tabrakan?” Tanya Sali kaget.

“Bukan. Tapi Aku tertimpa pohon yang tumbang karena tertiup angin besar waktu itu.”

“Innaalillaahi wa innaa ilayhi raji’un.. Parah?” Tanya Sali penasaran.

“Awalnya sih Aku pikir cuma keseleo aja, tetapi ternyata ada tulang yang patah.”

“Sekarang gimana? Sudah baikan?”

“Alhamdulillah. Sudah agak baikan.”

Dan pembicaraan antara kedua orang yang dipertemukan kembali oleh perjalanan waktu itu pun berlanjut ke berbagai topik. Hingga akhirnya keduanya dipisahkan oleh kedatangan Metromini 604 jurusan Tanah Abang yang ditunggu oleh Sali.

Setelah kepergian Sali, Zul menunggu kembali di halte. Kali ini dia bisa menunggu sambil duduk. Tak ada orang lain selain dirinya di halte tersebut.

Zul merasakan sesuatu yang tak biasa di halte tersebut. Sejak tadi dia tidak mendapati orang yang menunggu di halte kecuali dirinya dan Sali. Sejak tadi pula dia belum melihat bis yang menuju Slipi yang akan ditumpanginya.

Zul berusaha menangkap sesuautu di balik ketidakbiasaan itu. Sambil berpikir, dia memperhatikan tempat yang dituju oleh orang-orang yang baru saja melewati halte di mana dia berada. Dia arahkan pandangannya ke arah jembatan penyeberangan. Di tengah-tengah jembatan penyeberangan tersebut terlihat sebuah halte yang lebih besar daripada halte di mana dia sedang duduk sekarang. Itu adalah halte busway.

Akhirnya Zul tersadar. Hari itu adalah hari dimulainya penghentian operasi beberapa bis yang melewati Jalan Gatot Subroto seiring dioperasikannya busway koridor IX.

Zul bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju halte busway. Ada sedikit kekesalan dalam hatinya karena baru menyadari semuanya setelah hampir setengah jam menunggu di halte. Namun kemudian dia tersenyum karena akibat kesalahannya menunggu bis di tempat yang salah, dia bisa bertemu kembali dengan kawan lamanya semasa duduk di sekolah menengah atas, Salimah Qolbiyah.

*********

Tulisan di atas menjadi ide lahirnya novel “Perempuan Berjilbab Kuning”.

 

69 respons untuk ‘Lelaki di Sudut Halte

  1. trewelu Desember 21, 2011 / 00:00

    ehem, faksi kayaknya… 😀

  2. drprita Desember 21, 2011 / 00:00

    sepertrinya, pemeran Zulham adalah penulis jurnal ini, sekaligus penulis buku yg dibaca oleh Sali

  3. sumart74 Desember 21, 2011 / 00:00

    Dihalte biasanya ada kios rokok dan minuman teh botol,cocacola,dll.kok disitu gak ada?

  4. nanabiroe Desember 21, 2011 / 00:00

    Perempuan manis tidak membosankan…Awww.

  5. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    ipie said: 🙂

    xixixixi

  6. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    titintitan said: berjilbab kuning eung 😉

    kebetulan hari itu pake jilbab kuning….. ceritanya

  7. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    rahayuyoseph said: *senyum senyum sendiri

    kenapa, mbak?

  8. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    fightforfreedom said: Blessing in Disguise 🙂

    kira-kira begitulah, pak 🙂

  9. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    trewelu said: ehem, faksi kayaknya… 😀

    iyah…. bukan kisah nyata 🙂

  10. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    thetrueideas said: jilbab kuning is back…

    akan segera launching…… *kapan yah?

  11. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    drprita said: sepertrinya, pemeran Zulham adalah penulis jurnal ini, sekaligus penulis buku yg dibaca oleh Sali

    xixixixixixi…. diubah dari cerita aslinya demi kepentingan promosi, bu 🙂

  12. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    sumart74 said: Dihalte biasanya ada kios rokok dan minuman teh botol,cocacola,dll.kok disitu gak ada?

    karena haltenya bukan halte yang biasa….

  13. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    nanabiroe said: Perempuan manis tidak membosankan…Awww.

    ewww…… 🙂

  14. ipie Desember 21, 2011 / 00:00

    jampang said: xixixixi

    halte

  15. jandra22 Desember 21, 2011 / 00:00

    Eng………ing………eng…….. :Episode Jilbab Kuning di Saku Juragan Syaikhan telah kembali! Saksikanlah beramai-ramai. Setiap hari mulai pukul satu siang hanya di : Jampang.multiply.com.

  16. tintin1868 Desember 21, 2011 / 00:00

    pelupa ya.. tapi ada berkahnya juga ketemu sali.. ehtapi pake iklan juga.. jadi si sali baca bukunya nih.. tapi ga tahu itu yang ngarang zul?

  17. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    ipie said: halte

    iya… halte

  18. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    penasulung said: kuning uhuy 😀

    ceritanya kan kuning 🙂

  19. hwwibntato Desember 21, 2011 / 00:00

    sepertinya jatuh cinta pada pandangan yang dipalingkan … he he he …

  20. takedisaja Desember 21, 2011 / 00:00

    jampang said: “Mungkinkah dia itu Sali?” Sebuah nama muncul dalam pikiran lelaki itu.Lelaki itu kemudian memberanikan diri untuk melihat kembali sosok perempuan berjilbab kuning.

    jangan-jangan Sali cuma punya jilbab kuning & turunannya?

  21. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    jandra22 said: Eng………ing………eng…….. :Episode Jilbab Kuning di Saku Juragan Syaikhan telah kembali! Saksikanlah beramai-ramai. Setiap hari mulai pukul satu siang hanya di : Jampang.multiply.com.

    menampilkan…. fery fadli sebagai brama kumbaraeli ermawati sebagai mantiliitu mah saur sepuh yah…. xixixixixixi

  22. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    tintin1868 said: pelupa ya.. tapi ada berkahnya juga ketemu sali.. ehtapi pake iklan juga.. jadi si sali baca bukunya nih.. tapi ga tahu itu yang ngarang zul?

    cerita aslinya nggak begitu mbak. diubah untuk keperluan iklan aja 🙂

  23. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    jejak2mimpi said: teteeup yeeh…iklan 😀

    iya donk…. kan sekarang sudah tahap pemasaran :)dan akhir tahun lagi ada promo tuh…. year end sale… xixixixixixi

  24. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    hwwibntato said: sepertinya jatuh cinta pada pandangan yang dipalingkan … he he he …

    xixixixixi…. jarang-jarang yg kaya gitu mas 🙂

  25. takedisaja Desember 21, 2011 / 00:00

    jampang said: menampilkan…. fery fadli sebagai brama kumbaraeli ermawati sebagai mantili

    ups, jd ketahuan zamannya deh.

  26. itsmearni Desember 21, 2011 / 00:00

    teteup ya, ada iklannya hahaha

  27. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    takedisaja said: jangan-jangan Sali cuma punya jilbab kuning & turunannya?

    mungkin begitu… mungkin tidak…. entahlah*halah

  28. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    takedisaja said: ups, jd ketahuan zamannya deh.

    emang sengaja… diumumin tapi tidak secara vulgar.xixixixixixixi*apa coba

  29. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    itsmearni said: uhuuuuuuuyyyyyyyyyy

    yyyuuuuuuuuhhu

  30. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    itsmearni said: teteup ya, ada iklannya hahaha

    emang itu tujuannya, mbak 🙂

  31. onit Desember 21, 2011 / 00:00

    jampang said: dia bisa bertemu kembali dengan kawan lamanya semasa duduk di sekolah menengah atas, Salimah Qolbiyah.

    sali dah nikah belon? 😀

  32. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    onit said: sali dah nikah belon? 😀

    nah….. jawaban itu yang harus dicari…. xixixixixi

  33. rahayuyoseph Desember 21, 2011 / 00:00

    Gpp, ga  boleh ya numpang senyum disini 😀 Mosok fiksi sih? *ngga percaya

  34. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    rahayuyoseph said: Mosok fiksi sih? *ngga percaya

    nyatanya emang fiksi. tapi kalau dianggap bukan fiksi, berarti bagus donk?*GR

  35. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    moestoain said: Lanjutkan hehehe

    :)mudah2an bisa dilanjutkan

  36. rahayuyoseph Desember 21, 2011 / 00:00

    Yaah, sayang sekali fiksi, coba kl beneran, seru *senyum senyum lg ǨίίίǨ::·. ǨίίίǨ::·. ǨίίίǨ::·.

  37. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    ya kalau nyata berarti sudah kejadian donk 🙂

  38. utewae Desember 21, 2011 / 00:00

    Kalo laki2, si mbak jilbab kuning, kira2 bakalan bernama ‘Qalbun saliim…’

  39. jampang Desember 21, 2011 / 00:00

    xixixixixixi…. bisa… bisa….

  40. debapirez Desember 22, 2011 / 00:00

    ditunggu kisah selanjutnya. semoga tentang kisah cinta mereka 😉

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s