[Narsisku Bahagiamu] Nasi Uduk Po’ Edeh

narsisku bahagiamu nasi uduk
narsisku bahagiamu nasi uduk

“Assalaamu ‘alaikum!” Seseorang mengucapkan salam ke arah rumah bernomor 11B itu yang terletak di sebuah gang kecil yang dulu terkenal dengan sebutan MHT.

Meski matahari belum sempat menampakkan dirinya karena saat itu masih pukul lima pagi, tapi tak menghalangi orang tersebut dan beberapa orang lain di belakangnya untuk mendatangi rumah tersebut.Tak lama kemudian seorang Ibu keluar dari dalam rumah. Dengan sigap, ibu itu menyendokkan nasi uduk dan lauk yang diminta oleh para pembeli yang datang.

Ibu itu, Po’ Edeh, bahkan ada yang memanggilnya dengan sebutan “Bu Haji” meski belum pernah menunaikan ibadah haji, adalah seorang penjual nasi uduk dengan memanfaatkan ruang di teras rumah beliau. Mungkin sudah belasan tahun Po’ Edeh menjalani profesinya sebagai penjual nasi uduk. Sebelum menjual nasi uduk, Po’ Edeh pernah berjualan jajanan pasar seperti lontong, getuk, kue dadar, kue bola, kue gandasturi, dan sebagainya.

Di salah satu bagian teras rumah beliau, terdapat sebuah meja yang dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan benda kotak yang mirip dengan etalase berukuran kira-kira panjang 70 cm, lebar 30 cm, dan tinggi sekitar 50 cm.

Etalase itu adalah pemberian salah satu adik Po’ Edeh yang dikaruniai rezeki yang lebih banyak oleh Allah beberapa tahun lalu. Itu adalah modal utama Po’ Edeh ketika memulai usahanya berjualan.

Di dalam etalase tersebut Po’ Edeh menyediakan dagangannya berupa nasi uduk dan lauknya. Jangan berpikir bahwa lauknya komplit, mulai dari semur jengkol hingga ayam goreng dan dendeng. Karena yang tersedia hanya semur dan sayur tahu – tempe. Sesekali ada telur. Sebagai pelengkap ada sepiring gorengan, kadang bakwan atau tempe tepung. Yang ‘wajib’ ada untuk menemani nasi uduk adalah bawang goreng dan sambal kacang. Mantap!

Jika sekitar pukul lima pagi sudah ada pembeli yang datang, bisa dibayangkan, mulai jam berapa Po’ Edeh mulai mempersiapkan dagangannya. Bisa jadi, menjelang shubuh persiapan itu dimulai, atau bahkan di malam hari persiapannya sudah dicicil.

Sebungkus nasi uduk dengan lauk sepotong tahu atau tempe, baik semur atau sayur, dijual Po’ Edeh dengan harga tiga ribu rupiah. Jika mau tambah dengan sepotong gorengan, maka harganya menjadi tiga ribu lima ratus rupiah. Kalu pembeli menginginkan sebungkus nasi uduk dengan sepotong tahu dan sebutir telur, maka lima ribu rupiah adalah harga yang harus dibayar oleh pembeli tersebut.

Seperti pedagang lainnya, pendapatan yang di dapat oleh Po’ Edeh tidaklah tetap. Jika semua dagangan habis terjual, maka Po’ Edeh bisa mengantongi hampir seratus ribu. Jika dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan, mungkin penghasilan bersihnya sekitar 30.000 sampai dengan 50.000.

Begitulah keseharian Po’ Edeh di pagi hari, melayani para pembeli nasi uduk mulai dari selepas shubuh hingga sekitar pukul setengah delapan pagi, kecuali dagangannya sudah habis lebih cepat. Sedangkan jika dagangan tidak habis, maka nasi uduk dan lauknya dijadikan santapan untuk keluarga.

“Alhamdulillah, nggak pake masak lagi,” ucap Po’ Edeh.

Yup, Po’ Edeh atau “Bu haji” itu adalah ibu saya. Dan menjual nasi uduk adalah salah satu bentuk perjuangan beliau untuk membiayai kehidupan saya dan keempat adik-adik saya.

Duh, pas bagian akhir koq jadi pengen mewek.

link terkait :

108 respons untuk ‘[Narsisku Bahagiamu] Nasi Uduk Po’ Edeh

  1. nanazh Maret 7, 2012 / 00:01

    betul betul betul.. heheheh

  2. jampang Maret 7, 2012 / 00:01

    dan jangan lupa… vote.xixxixixixxi

  3. roelworks Maret 14, 2012 / 00:01

    nge-vote bang jampang malah dapet hadiah ..heheheh

  4. jampang Maret 14, 2012 / 00:01

    roelworks said: nge-vote bang jampang malah dapet hadiah ..heheheh

    alhamdulillah…. selamat ya, mas :)dapat buku yah?

  5. roelworks Maret 15, 2012 / 00:01

    jampang said: alhamdulillah…. selamat ya, mas :)dapat buku yah?

    Alhamdulillah dapat buku dan abon pedas, tapi ya gak dikirim ke sini..jadi ke rumah orang tua aja.

  6. jampang Maret 15, 2012 / 00:01

    roelworks said: Alhamdulillah dapat buku dan abon pedas, tapi ya gak dikirim ke sini..jadi ke rumah orang tua aja.

    harus alamat dalam negeri 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s