Lelaki yang Tak Melakukan Ijab Qabul di Hari Pernikahannya

two hearthsPagi itu sangat cerah, secerah hati Zul. Dengan setelan pakaian pengantin, Zul duduk di kursi tengah bersama ibunya. Sementara di kursi depan, ayah Zul duduk di samping Pak Sopir yang akan membawa mobil yang ditumpanginya ke kediaman Sali.

Hari itu adalah hari pernikahan Zul dan Sali. Sekitar pukul sembilan nanti, acara akad nikah akan dilangsungkan dan dilanjutkan dengan resepsi. Semuanya dilaksanakan di kediaman calon mempelai wanita, Salimah Qalbiyah.

Wajah Zul terlihat agak sedikit tegang, meskipun akad nikah kali ini bukanlah yang pertama kali dilakukannya.

“Saya terima nikah dan kawinnya, Salimah Qalbiyah binti Ahmad Husaini, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas sebanyak tiga puluh lima gram, dibayar tunai.”

Zul mengulangngulang kalimat qabul tersebut sejak awal perjalanan, disela-sela doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa.

“Rabbishrahlii shadrii wa yassrlii amrii wahlul ukdatan min lisaanii yafqahuu qawlii.”

Mobil yang ditumpangi Zul dan keluarga melaju cukup kencang. Jalan yang dilalui memang cukup lancar. Sepertinya, perjalanan menuju rumah Sali tidak akan menemui banyak halangan, sesuai yang diharapkan banyak pihak.

Namun harapan tinggal harapan. Semuanya tiba-tiba berubah dalam bilangan detik.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti mendadak bersamaan dengan suara benda bertabrakan. Pak Sopir di samping Zul tidak dapat menguasai keadaan. Dibantingnya setir ke arah kiri untuk menghindari mobil di depan. Tapi terlambat. Sisi kanan mobil yang ditumpangi Zul mengenai bada mobil yang berhenti mendadak. Kecepatan yang cukup tinggi mengakibatkan mobil itu berguling sekali ke sisi kiri jalan.

Sedetik kemudian, dunia Zul menjadi gelap.

Zul membuka kedua matanya. Ada bagian tubuhnya yang dirasakan sakit, tertutama di kakinya. Ingatan Zul kemudian tertuju pada kedua orang tuanya.

“Orang tua saya di mana?” Tanya Zul sambil menahan rasa sakit.

“Sudah dibawa ke rumah sakit. Keduanya selamat. Hanya terluka saja. Anda pun akan kami bawa ke sana.” Jawab lelaki yang duduk di sisi kanannya.

“Sali!” Teriak Zul tiba-tiba.

Zul berusaha mengambil handphone yang tersimpan di dalam saku baju pengantinnya. Kemudian menekan nomor telepon pamannya, Rizal, yang berangkat terlebih dahulu ke rumah Sali.

Di rumah Sali, tamu undangan sudah banyak yang datang. Sebagian mungkin ada yang bertanya-tanya di mana calon pengantin pria dan rombongan yang belum datang, padahal acara sebentar lagi akan segera dimulai. Kebingungan pun melanda Sali dan keluarganya.

Seorang laki-laki berpakaian batik terlihat berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam rumah Sali. Lelaki itu kemudian, mendekati Pak Ahmad Husaini.

“Pak Ahmad, baru saja saya mendapat kabar buruk tentang Zul dan rombongan,” ucap Pak Rizal, lelaki itu.

“Kabar buruk apa, Pak?” Tanya Pak Ahmad.

“Zul dan keluarga mendapat kecelakaan ketika sedang menuju ke sini. Sekarang semuanya dibawa ke rumah sakit,” jawab Pak Rizal.

“Innaalillahi wa innaa ilayhi rajiun,” ucap semua orang di ruangan itu.

—–ooo0ooo—–

Malam itu, di sebuah kamar rumah sakit, terlihat Zul sedang duduk di salah satu tempat tidur. Salah satu kakinya terluka cukup parah, namun demikian tidak ada tulang yang patah. Sementara kedua orang tuanya sudah bisa pulang terlebih dahulu, karena luka yang didrita keduanya tidak parah.

Mengingat kejadian di saat jam besuk tadi, ketika sebagian teman-temannya datang menjenguknya, membuat Zul senyum sendiri. Selain mendoakan agar dirinya lekas sembuh, teman-temannya juga mengucapkan doa untuk sepasang pengantin.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar rumah sakit. Rupanya Sali yang datang. Zul terkejut, karena sebelumnya Sali pamit kepadanya untuk pulang bersama kedua orang tuanya.

“Ada apa, Sal? Kok kembali lagi? Ada yang ketinggalan?” Tanya Zul.

Yang ditanya hanya menjawab dengan senyuman.

Sali kemudian menunju meja di samping tempat tidur Zul, mengambil gelas kosong yang ada di atasnya, kemudian menuangkan susu cair dari kemasan ke dalamnya hingga penuh.

“Aku sudah minta izin kepada Bapak dan Ibu untuk menemanimu di sini. Bagaimanapun juga, aku sudah menjadi istrimu. Dan malam ini adalah malam pertama kita berdua. Aku hanya berharap, semoga apa yang kulakukan ini bisa menjadi bukti di hadapan Allah sebagai bentuk baktiku kepada suami.” Ucap Sali.

Tangan Sali kemudian menyerahkan gelas berisi susu tersebut kepada Zul. “Minumlah, Zul!”

Zul kemudian menerima gelas susu dan kemudian meminumnya perlahan.

Setelah separuh susu dalam gelas tersebut diminumnya, Zul memberikan gelas susu tersebut kepada Sali.

“Sekarang giliranmu, minumlah!” Kali ini Zul yang mengajukan permintaan.

Dengan malu-malu, Sali menerimanya dan kemudian meminumnya hingga habis.

Zul meminta Sali untuk mendekat. Setelah jarak antara keduanya dirasa cukup, Zul meletakkan tangan kanannya di atas kepala Sali lalu mengucapkan sebuah doa, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah Engkau adakan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang Engkau adakan untuknya.”

Kemudian keduanya menghabiskan malam zafaf itu di kamar rumah sakit. Berbicara berbagai macam topik untuk lebih mengenal satu sama lain.

—–ooo0ooo—–

Di tengah kepanikan yang melanda di ruang itu, Pak Rizal mengeluarkan pertanyaan yang membuat suasan menjadi hening. “Jika Pak Ahmad sekeluarga, terutama Sali, bersedia, Zul meminta agar akad nikah tetap dilakukan sekarang, jangan ditunda.”

“Maksud Pak Rizal bagaimana?” Tanya Pak Ahmad kemudian.

“Setelah memberikan kabar kecelakaan itu, Zul kemudian berpesan kepada saya agar acara akad nikah tetap dilaksanakan. Zul menunjukka saya sebagai wakilnya dalam ijab qabul nanti.” Jawab Pak Rizal.

Setelah musyawarah singkat, akhirnya diputuskan bahwa acara akad nikah tetap dilaksanakan saat itu.

“Saya nikahkan putri saya yang bernama Salimah Qalbiyah binti Ahmad Husaini dengan Muhammad Zulham bin Zainal Abidin yang telah menunjuk wakilnya, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas sebanyak tiga puluh lima gram, dibayar tunai.” Pak Ahmad mengucapkan ijab.

Pak Rizal pun langsung mengucap qabul. “Saya, sebagai wakil dari Muhammad Zulham bin Zainal Abidin, telah menerima nikahnya, ySalimah Qalbiyah binti Ahmad Husaini, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” Tanya penghulu kepada para saksi.

“Sah!”

“Sah!”

“Alhamdulillah….!”


Tulisan Terkait Lainnya :

35 respons untuk ‘Lelaki yang Tak Melakukan Ijab Qabul di Hari Pernikahannya

  1. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    ceritanya memang sepotong2 mbak. tergantung mood. dan alurnya juga nggak kronologis… maju mundur, tergantung dapat idenya 🙂

  2. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    memang nggak nyebar undangan, kang xixixixixixi

  3. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    betul….. tapi juga lompat2 ceritanya, pak 🙂

  4. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    gak apa2…. yang penting amplopnya doanya 😛

  5. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    xixixixixi…. lega!

  6. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    dapat idenya lompat2 mbak… jadi ya gitu deh hasilnya 🙂

  7. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    yg kaya gimana tuh, mbak? yg jelas… di ceritanya…. org yg mengucapkan ijab dan qabul berada di satu tempat.

  8. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    kalau yg jauhanitu saya kurang tahu mbak.

  9. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    xixixixixi… ceritanya emang lompat2 mbak. nggak urut, tergantung ide…

  10. jampang Januari 10, 2012 / 00:00

    kan saya suka yg happy ending 🙂

  11. titintitan Januari 10, 2012 / 00:00

    wah, so roomantiiic ;d. sepertinya tin ketinggalan satu ato beberapa episode deh, tau2 udh mau nikah, gak ngeh kpn khitbahnya. hehe

  12. hwwibntato Januari 10, 2012 / 00:00

    kok saya tidak diundang? ha ha ha …

  13. fightforfreedom Januari 10, 2012 / 00:00

    kalau ketinggalan cerita, tinggal ikutin tags: seri lelaki. Disitu urut ceritanya 🙂

  14. grasakgrusuk Januari 10, 2012 / 00:00

    Maaf ya g bisa dateng.. Xixi

  15. pancaputri08 Januari 10, 2012 / 00:00

    kirain ceritanya zul wafat, trus sali jadi sendiri kayak lagu nya peter pan..sali sendiri 😉

  16. thetrueideas Januari 10, 2012 / 00:00

    alhamdulillah…akhirnya sah! 🙂

  17. museliem Januari 10, 2012 / 00:00

    Hehehehe…. Nice…. 🙂

  18. itsmearni Januari 10, 2012 / 00:00

    lho kok tau-tau zul n sali udah nikah aja sih terakhir baca yg ketemuan pas nunggu bis itu haduh ketinggalan jauh nih sayanya

  19. binarlangitbiru Januari 10, 2012 / 00:00

    emang bisa diwakili yah calon mempelai pria?? baru tahu

  20. tintin1868 Januari 10, 2012 / 00:00

    ini jadi kaya kawin internet juga ya.. diwakili..

  21. tintin1868 Januari 10, 2012 / 00:00

    ini juga saling ngecam.. ga satu tempat jauh2.. tapi bisa sah juga loh..

  22. utewae Januari 10, 2012 / 00:00

    Wah, barakallah, pak 🙂

  23. mywolly Januari 10, 2012 / 00:00

    Waduh… Udah nikah aja… Saya telat berkunjung nih 😀

  24. rahayuyoseph Januari 10, 2012 / 00:00

    Oooo…ketinggalan nih, udah nikah aja si zul nya 😀 Dramatis, tp akhirnya happy jg

    • jampang September 3, 2013 / 10:35

      iya …. begitu… xixixixixi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s