Lelaki dan Keinginan Sang Istri

ilustrasi : http://www.designbolts.com

“Bagaimana jika Mas menikah lagi?” Ucap perempuan tersebut kepada lelaki di hadapannya.

Sudah sekitar setengah jam pasangan suami-istri itu bicara dari hati ke hati. Akhirnya, topik pembicaraan pun mengerucut kepada satu masalah yang mengganggu keharmonisan rumah tangga keduanya sejak tahun lalu.

Lelaki itu hanya terdiam. Sementara tangannya masih terus mengucap kepala seorang balita perempuan yang sudah terpulas di atas sofa.

“Aku bersedia mencarikan perempuan yang tepat untuk, Mas.” Sambung perempuan itu lagi.

Lelaki itu masih terdiam. Jauh di dalam pikirannya, apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri adalah sesuatu yang sulit diwujudkan. Pasalnya, meski dirinya bukan seorang pemalas dalam mencari nafkah, tetapi pekerjaannya masih serabutan, tidak menentu. Selama berumah tangga, perekenomian rumah tangga lebih banyak ditopang sang istri yang memang memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup.

“Mas tak usah khawatir. Aku bersedia membantu secara ekonomi.”

Lelaki itu terkejut. Kalimat yang baru saja didengarnya seolah-olah mengisyaratkan sang istri bisa membaca apa yang menjadi pikirannya. Tapi lelaki itu tetap terdiam.

“Aku pikir, ini solusi yang terbaik bagi rumah tangga kita, Mas. Terutama dalam hal hubungan suami-istri. Aku tak mau terus-menerus mendapat laknat dari malaikat karena tak bisa lagi memenuhi hasrat biologismu.”

Kembali pikiran lelaki itu mengingat-ingat kejadian selama setahun terakhir ini dalam soal pemenuhan hasrat biologisnya. Selama setahun terakhir, dirinya tidak pernah menyalurkan hasrat biologis pada tempat yang semestinya. Setiap kali dirinya meminta untuk melakukan itu, sang istri selalu menolak. Sang istri hanya bersedia membantunya dengan cara yang lain.

Entah apa yang terjadi dengan sang istri. Yang jelas, selama melakukan itu, sang istri tak pernah terlihat menikmatinya. Adakah trauma? Ataukah kelainan yang diderita oleh sang istri? Pertanyaan itu yang selalu dicari jawabannya oleh lelaki itu. Tapi hingga saat ini belum ada. Sang istri pun selalu menolak jika diajak untuk konsultasi kepada dokter atau psikiater.

“Hanya satu permintaanku, Mas. Janganlah kamu menceraikan diriku!” Ucap perempuan itu lirih.

“Poligami?”

Hanya kata itu yang meluncur dari mulut si lelaki.

“Iya, Mas. Poligami.”

Mulut lelaki itu kembali terdiam. Namun jauh di dalam benaknya, terjadi gejolak pemikiran.

“Poligami. Mungkin itu bisa menjadi solusi bagi keluarga lain. Namun sepertinya solusi itu tidak cocok untukku. Bagaimana mungkin aku menghidupi istri keduaku kelak dengan uang pemberian dari istri pertamaku. Jika terjadi demikian, bagaimana keadilan bisa kuberikan kepada keduanya. Sedangkan keadilan adalah syarat utama untuk bisa melakukan poligami.” Pikiran lelaki itu berkelana jauh, sementara mulutnya tetap dalam bisu.

“Dinda!” Lelaki itu mulai angkat bicara.

“Jika Dinda punya permintaan, maka izinkan aku untuk mengajukan satu permintaan juga,” sambung lelaki itu.

“Apa itu, Mas?”

“Sebelum Dinda meminta Mas menikah dan mencarikan perempuan untuk menjadi istri kedua untukku, sudikah kiranya jika kita datang ke seorang psikolog?”

“Untuk apa, Mas?”

“Untuk memperbaiki rumah tangga ini yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah.” Jawab lelaki itu. “Aku rasa, usul Dinda agar aku melakukan poligami bukanlah solusi yang tepat, karena ada satu usaha yang belum kita coba sama sekali. Konsutasi ke orang yang tepat.” Sambung lelaki itu.

“Akan percuma, Mas!”

“Dinda jangan mengatakan bahwa usaha itu akan percuma jika kita belum melakukannya. Jika Dinda masih mencintai Mas sebagai lelaki yang menjadi suami Dinda, janganlah putus asa untuk berusaha. Mungkin Dinda takut menghadapinya jika sendiri, tapi ada Mas, lelaki yang akan selalu mecintai, meyanyangi, dan menjagamu. Mas akan selalu ada disisimu untuk memberi dukungan penuh.” Lelaki itu berusaha memberikan semangat kepada sang istri.

“Mas berharap Dinda bersedia. Semuanya akan terasa ringan jika kita hadapi berdua, bersama-sama.”

“Benarkah, Mas?” Perempuan itu bertanya dengan sepasang bola mata yang sudah basah.

“Tentu. Tidakkah Dinda ingat, bait-bait puisi yang pernah Mas buatkan khusus untukmu?”

Lelaki itu kemudian membacakan beberapa bait puisi istimewa itu.

“wahai bidadari
suatu ketika mungkin kau bergundah hati
lantas bersedih dan mengalirkan air mata di pipi
saat itu mungkin akan kau sadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena telah hadir seorang pendamping di sisi
yang akan menghapus duka tak terperi
dan menggantinya dengan senyum berseri

wahai bidadari
suatu masa mungkin kau diliputi awan mendung tak bertepi
lantas kau pun berdiam diri dan ingin menanggungnya sendiri
saat itu mungkin akan kau sadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena seseorang telah berdiri di sisi
yang siap meniup awan kelam itu pergi
dan menggantinya dengan ceria hari”

42 respons untuk ‘Lelaki dan Keinginan Sang Istri

  1. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    menurut mbak sebagai perempuan kira2 ada nggak? ya begitu kira2 🙂

  2. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    nanti kalau sudah tahu jawabannya…. kabari yah! 🙂

  3. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    yakin? duh saya lupa masukin unsur keadilan di ceritanya…. satu hal itu juga yang mebuat lelaki itu bingung

  4. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    mungkin si perempuan berpikir kalau itu masalah yang sangat pribadi, sehingga tidak pantas diinformasikan kepada pihak lain, termasuk dokter atau psikiater sekali pun.

  5. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    barusan saya googling dan mememukan istilah frigiditas. tapi kurang tahu apa cocok dan masuk dengan cerita di atas. berikut kutipannya : Banyak wanita yang mengalami frigiditas atau gangguan seksual yang membuat seorang wanita sulit terangsang atau tidak bisa menikmati hubungan seksual. Wanita yang mengalami frigiditas umumnya menyembunyikan masalahnya itu, dan tetap melayani suami sebatas karena tugas dan kewajiban seorang istri. Para pakar seksualitas setuju bahwa penyebab utama frigiditas adalah masalah psikologis. Jarang sekali ditemukan frigiditas yang disebabkan gangguan organ atau penyakit fisik. Maka dari itu, untuk menyembuhkan frigiditas, Anda sebaiknya menghubungi seseorang yang memahami pikiran dan bisa membantu menyelesaikan masalah psikologis.

  6. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    apa mungkin itu yang disebut frigid?

  7. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    semoga si istri baik-baik saja

  8. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    tapi kan ini belum jadi menikah lagi, mbak. suaminya masih bingung…. xixixixiixxi

  9. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    mudah2an keduanya menemukan solusi yang terbaik

  10. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    makanya si lelaki masih diam dan bingung. nggak langsung iya aja 🙂

  11. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    salah satu cara yang bisa dipilih ya, bu. hanya saja bagi sebagian orang, pengobatan seperti itu dianggap pengobatan yang tidak masuk akal.

  12. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    sudah diupdate ceritanya, mbak 😀

  13. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    wah kalau soal beginian, saya nggak tahu, mbak. yang pasti, beda kasus. karena di sini ceritanya mempertahankan rumah tangga, bukan berpisah.

  14. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    adakah kemungkinan adanya perubahan rasa yang dirasakan oleh kaum perempuan dalam berhubungan badan, antara sebelum mempunyai anak dengan setelah mempunyai anak?

  15. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    kemungkinan begitu, mbak

  16. jampang Januari 19, 2012 / 00:00

    beberapa komentar di atas ngasih masukan, mbak.

  17. grasakgrusuk Januari 19, 2012 / 00:00

    Ada yah perempuan kayak gitu? Maksudnya mau di polly gummy? 😀

  18. ikhwatiislam Januari 19, 2012 / 00:00

    heii,,,,masa sih, ada ya ke gitu? #mikir,,

  19. ipie Januari 19, 2012 / 00:00

    Lelaki juga semestinya sesekali berkaca donk… kenapa perempuan menjadi begitu. Ada sebab dan akibat. Gak adil itu! kan di cerita di atas ada kalimat : Adakah trauma? Ataukah kelainan yang diderita oleh sang istri? Pertanyaan itu yang selalu dicari jawabannya oleh lelaki itu. Tapi hingga saat ini belum ada. Sang istri pun selalu menolak jika diajak untuk konsultasi kepada dokter atau psikiater.

  20. eroza Januari 19, 2012 / 00:00

    tapi kok bisa punya anak ya? bingung..

  21. utewae Januari 19, 2012 / 00:00

    :sedih

  22. vivfee Januari 19, 2012 / 00:00

    wha wha whaaa…apakah kelainan itu?

  23. deikka Januari 19, 2012 / 00:00

    kasihan banget sama itu istri

  24. worotarie Januari 19, 2012 / 00:00

    sekilas seperti kisah novel Antara Ibuku dan Ibuku walau tidak sama persis. Kalau di novel itu, istri kedua yang menopang ekonomi seluruh keluarga.

  25. trewelu Januari 19, 2012 / 00:00

    pasti persoalannya sangat serius sampai2 rela berbagi hati.. Suami yang super tentunya akan berusaha maksimal mencari solusi yang lebih baik alih2 mengiyakan istrinya.

  26. trewelu Januari 19, 2012 / 00:00

    kalo emang masalahnya baru ada setelah ada anak, mungkin ada hubungannya dengan trauma saat kehamilan/melahirkan, kelelahan setelah ada anak, atau mungkin juga perubahan pola komunikasi suami istri. Seringkali wanita yang kecenderungannya lebih emosional daripada laki2, mencoba memancing respon dari suaminya dengan cara2 yang tidak rasional, seperti kasus di atas, untuk menyelesaikan problem rumah tangganya. Jadi imo, naif dan malah bodoh sekali kalau suaminya main iya2 saja, nggak mencari penyelesaian yang lebih baik dan rasional.

  27. drprita Januari 19, 2012 / 00:00

    diruqyah saja!

  28. wayanlessy Januari 19, 2012 / 00:00

    Mungkin suaminya bisa bilang juga: “Satu permintaanku, dinda….kita ke psikolog yuk? Jika dinda cinta mas, janganlah putus asa untuk berusaha. Mungkin dinda takut menghadapinya jika sendirian, tapi Mas kan ada disisimu memberi dukungan penuh kepada dinda. Dinda tidak sendirian. It takes two to Tango, darling.”

  29. binarlangitbiru Januari 19, 2012 / 00:00

    pernah dengar gossip 😀 kasus perceraian pasangan terkenal di Indonesia karena sang istri mengalami kasus dimana setelah melahirkan tidak bisa lagi menikmati hubungan suami istri lagi. beda kasus yah ^^

  30. onit Januari 19, 2012 / 00:00

    Pertanyaan yg sama juga: kok bisa punya anak?

  31. onit Januari 19, 2012 / 00:00

    ooo berubahnya setelah punya anak? kirain dari awal nikah..

  32. rahayuyoseph Januari 19, 2012 / 00:00

    kening berkerut, tangan didagu, nyimak cerita, sambil mikir “trus apa ya obatnya biar istrinya bs normal lagi?”

  33. fenny September 29, 2013 / 22:49

    cerita yg ini kok gantung ya?

    • jampang September 29, 2013 / 22:55

      Memang sengaja digantung

      • fenny September 30, 2013 / 04:54

        Ooo begitu … Kelanjutannya sdh ada blm?

      • jampang September 30, 2013 / 05:46

        belum ada. jadi cuma sampe segitu aja

      • fenny September 30, 2013 / 06:06

        Pembaca kecewa … 😦
        D cerita klo trnyt suami nya itu mapan n bs menghidupi istri satu nya lg kira2 tawaran sang istri ini d trm or d tolak jg sama sang suami? kan kebanyakan tuh klo d srh nikah lg pd mau aja … 🙂

      • jampang September 30, 2013 / 06:07

        ya kalau para suami itu sanggup berbuat adil, ya boleh-boleh aja. karena nggak dilarang

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s