Catatan Akhir Pekan Bersama Syaikhan [05-02-2012]


Kampung Main Cipulir menjadi tempat tujuan saya mengajak Syaikhan di hari minggu. Sebenarnya saya sudah pernah mengajak Syaikhan ke KMC beberapa waktu yang lalu. Namun kunjungan saat itu mungkin mengecewakan bagi Syaikhan karena tak ada sesuatu yang menarik buatnya. Saya berharap, kunjungan kali ini ada sesuatu yang berkesan buat Syaikhan.”Syehan pernah ke sini, Bi!” Ucap Syaikhan ketika kami sudah memasuki kawasan KMP.

Saya berpikir kalau Syaikhan memang benar-benar ingat ketika saya mengajaknya pertama kali ke KMP.

“Kapan?” Tanya saya penasaran sekaligus ingin mengetes daya ingatnya.

“Dulu, waktu masih bayi!” Jawab Syaikhan.

Syaikhan sering kali menjawab atau bercerita dengan menggunakan kalimat “waktu masih bayi”. Saya tafsirkan kalimat tersebut sebagai sebuah keterangan waktu yang sudah lama, beberapa bulan yang lewat atau tahun yang sudah berlalu.

Setelah membayar tiket masuk, saya dan Syaikhan langsung memasuki KMP. Tujuan pertama adalah arena perahu, karena naik perahulah yang saya sebutkan pertama kali ketika bermaksud mengajak Syaikhan ke KMP.

Dalam perjalanan menuju arena perahu, Saya melewati sebuah bangunan beratap yang saya sebut saja sebagai aula besar dan terbuka, di mana sekelompok ibu-ibu pengajian sedang mengadakan acara. Mungkin ini acara yang disebut oleh Mbak Erie dalam komentarnya di salah satu postingan saya. Ternyata benar. Terbukti ketika melewati tempat tersebut, saya melihat seorang perempuan berjilbab hijau yang duduk di barisan belakang melambaikan tangannya kepada saya. *uhuk. serasa jadi selebritis*

Mbak Erie mengajak saya dan Syaikhan untuk singgah, tetapi Syaikhan tidak mau. Dengan alasan tersebut, saya dan Syaikhan terus melangkah menuju arena perahu.

Setelah tiba di arena perahu, ternyata kondisinya sama seperti kali pertama, perahunya tidak ada. Syaikhan sepertinya kecewa. Selanjutkan kami berjalan ke arah semula kami datang.

“Syaikhan mau naik itu?” Tanya saya kepada Syaikhan sambil menunjuk ke arah bola besar yang mengapung di atas sebuah kolam berisi air. “Kalau mau naik, Syaikhan naik sendiri. Nggak muat kalau sama Abi,” sambung saya.

“Liat dulu, Bi!” Pinta Syaikhan.

Rupanya Syaikhan ingin melihat penampakan permainan tersebut dari dekat. Kami pun melangkah menuju ke arena permainan yang terlihat sepi itu. Setelah melihat dengan jelas, Syaikhan menolak. Syaikhan lebih tertarik dengan beberapa perahu yang tertambat tak jauh dari arena permainan bola besar. Perahu tersebut terlihat terikat oleh rantai besi.

“Rusak, Bi!” Komentar Syaikhan selanjutnya.

Sepertinya Syaikhan melihat beberapa bagian perahu tersebut yang sudah tidak bagus lagi. Saya bersyukur Syaikhan tidak jadi meminta naik perahu karena membayangkan harus menggerakkan alat seperti pedal agar perahu bisa berjalan. Cuaca saat itu pun cukup terik. Awalnya saya berpikir bahwa perahu di KMP adalah perahu motor, sehingg pengunjung yang ingin naik perahu cukup duduk tenang saja. Ternyata saya salah.

Saya mengajak Syaikhan ke arah semula. Lalu dari arah belakang kami, terlihat seorang anak kecil menunggang kuda sambil dituntun oleh seorang bapak-bapak, mungkin si pemilik atau orang yang bertugas menangani kuda di KMP. Bapak itu menawarkan kami untuk naik kuda. Saya langsung bertanya kepada Syaikhan apakah mau naik kuda atau tidak. Syaikhan tidak mau.

Kami pun terus melangkah.

Suara air dan teriakan anak-anak dari arah kolam renang menarik perhatian Syaikhan. Ketika kami pertama kali datang ke KMP, sepertinya kolam renang itu belum ada.

“Syehan mau itu, Bi!”

“Syaikhan mau berenang? Tapi nggak bawa baju.”

“Nda, Bi. Syehan mau lihat aja,” ucap Syaikhan sambil kedua tangannya mengisyaratkan meminta untuk digendong.

Saya pun langsung menggendong Syaikhan, lalu melihat aktifitas yang ada di kolam renang.

Beberapa lama kemudian, pandangan Syaikhan beralih ke belakang di mana terdapat sebuah rumah balon yang sebenarnya sudah dilihatnya sejak kami berjalan menuju arena perahu.

Setelah menyampaikan keinginannya kepada saya untuk bermain di rumah balon, saya segera menuju tempat pembelian tiket. Tiketnya seharga sepuluh ribu rupiah untuk bermain selama lima belas menit. Selanjutnya, Syaikhan bermain di rumah balon tersebut. Rumah balon yang lebih kecil daripada yang pernah didatangi Syaikhan sebelumnya.

Selesai bermain di rumah balon, kami mencari tempat teduh untuk memakan buah jeruk dan rambutan yang sudah dipersiapkan dari rumah. Di salah satu bangunan yang disebut dengan istilah “gubug” kami beristirahat. Saya mengupaskan jeruk dan menyuapi Syaikhan.

Tak lama kemudian, ada rombongan yang datang yang rupanya sudah memesan “gubug” tersebut. Syaikhan yang menyadari keramaian tersebut, meminta saya untuk pindah tempat. Akhirnya kami pindah ke bangunan di belakang aula terbuka yang menjadi tempat acara ibu-ibu pengajian.

Dari tempat tersebut saya bisa melihat kegiatan ibu-ibu pengajian yang rata-rata sudah berumur itu sambil bermain dan menyuapi Syaikhan.

Ingin saya tertawa lepas, saat melihat aksi para nenek itu ketika berjoget diiringi lagu “alamat palsu” dengan ditemani alunan marawis. Terlihat begitu lincah dan tidak ada kesan malu-malu.

Saya dan Syaikhan melanjutkan dengan permainan menggunakan topi yang kami kenakan masing-masing. Rupanya dengan melempar, memasang topi dengan cara miring, sudah bisa membuat Syaikhan tertawa kegirangan.

Tak lama kemudian, Mbak Erie bersama keponakannya datang menyapa saya dan Syaikhan serta mengajak bergabung. Kedatangan orang yang belum dikenal, membuat Syaikhan menghentikan permainannya dan merapat ke dekat saya. Ketika ditanya, Syaikhan menjawab dengab malu-malu.

Kami ditawarkan untuk makan siang di tempat acara, tapi saya menolak. Saya bukan panitia, bukan pula peserta, masa mau enaknya doang. Begitu kira-kira alasan penolakan saya.

Setelah mempersilahkan Mbak Erie dengan tugasnya, Syaikhan mengajak saya untuk jalan-jalan lagi. Perjalanan kami di KMP diakhiri dengan membeli layang-layang seharga dua ribu rupiah dari pedagang yang berada di pintu gerbang.

Syaikhan senang sekali dengan layang-layang tersebut. Ketika di atas motor, Syaikhan tertawa-tawa ketika layang-layang tertiup angin dan mengenai wajah saya.

Mungkin karena letih dan waktunya tidur siang, Syaikhan terlihat mengantuk di atas motor. Tepat di depan rumah, matanya terpejam. Adik saya segera menggendongnya menuju kamar tidur. Tapi tak lama kemudian, Syaikhan bangun lagi dan bermain lagi dengab layang-layang barunya sambil ditunjukkannya kepada omnya.

Barulah sekitar aatu jam kemudian, Syaikhan benar-benar mengantuk dan tidur.


Catatan Akhir Pekan Bersama Syaikhan Lainnya :

17 respons untuk β€˜Catatan Akhir Pekan Bersama Syaikhan [05-02-2012]’

  1. hwwibntato Februari 6, 2012 / 00:00

    jampang said: “Dulu, waktu masih bayi!” Jawab Syaikhan.

    wah, ingatan Syaikhan sangat kuat … ha ha ha …

  2. deikka Februari 6, 2012 / 00:00

    Mas Fiqi pinjem layang-layangnya boleh gak Syaikhan ?

  3. binarlangitbiru Februari 6, 2012 / 00:00

    memang ngga bagus yah kmc, tempatnya kecil mainannya dikit, tiket masuk dan permainannya juga udah pada naik. Yang terutama jangan pernah beli makanan disana mengecewakan.Hahaha, pagi2 udah protes ditempat orang

  4. ipie Februari 6, 2012 / 00:00

    Udah ganti ya gak ke Ragiunan lagi, Syaikhan??

  5. trasyid Februari 6, 2012 / 00:00

    **towel-towel Syehan**

  6. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    thetrueideas said: dengaren, gak ada futu2nya? πŸ™‚

    ada cuma satu, mas. itu saya tambahin karena dari HP nggak bisa πŸ™‚

  7. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    hwwibntato said: wah, ingatan Syaikhan sangat kuat … ha ha ha …

    semuanya kalau pernah bilangnya begitu, kang…. waktu masih bayi

  8. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    deikka said: Mas Fiqi pinjem layang-layangnya boleh gak Syaikhan ?

    layang-layangnya udah digunting-gunting πŸ™‚

  9. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    binarlangitbiru said: memang ngga bagus yah kmc, tempatnya kecil mainannya dikit, tiket masuk dan permainannya juga udah pada naik. Yang terutama jangan pernah beli makanan disana mengecewakan.Hahaha, pagi2 udah protes ditempat orang

    pengalaman banget kayanya, mbak. saya baru dua kali ke situ.kemarin syaikhan masuk gratis… saya doank yg bayar.

  10. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    ipie said: Udah ganti ya gak ke Ragiunan lagi, Syaikhan??

    ya selang-seling aja, nggak ke satu tempat

  11. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    trasyid said: **towel-towel Syehan**

    jangan salah towel yah…. xixixixixixi

  12. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    titintitan said: ahaha.. waktu masih bayi -.-

    iya… waktu masih bayi… πŸ™‚

  13. anchaanwar Februari 6, 2012 / 00:00

    Itu videonya sengaja buat didokumentasiin ya mas?Buat koleksi pribadi gitu ya?

  14. jampang Februari 6, 2012 / 00:00

    anchaanwar said: Itu videonya sengaja buat didokumentasiin ya mas?Buat koleksi pribadi gitu ya?

    iya, mas. buat dokumentasi saya.salah satu alasan kenapa saya beli HP baru… ya untuk ngerekam syaikhan πŸ™‚

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s