[Love Journey] Medan : Romansa, Perjuangan, Ukhuwah, dan Sejarah

tempat menginap di medan
tempat menginap di medan

Maret 2007

Sekitar pukul lima pagi, kumandang adzan sudah terdengar dari pengeras suara masjid-masjid di sekeliling tempat kos. Tapi itu bukan adzan sebagai tanda masuknya waktu shubuh. Adzan shubuh yang sebenarnya baru terdengar ketika waktu menujukkan hampir pukul setengah enam pagi. Waktu sholat di Medan lebih lambat sekitar 30-40 menit bila dibandingkan Jakarta. Inilah kali pertama saya mendengar lantunan adzan sebanyak dua kali di waktu menjelang shubuh.

Matahari mulai menampakkan wajahnya yang masih lembut di ufuk timur ketika saya keluar kamar menuju balkon di lantai dua tempat saya dan tim menginap. Sejuk udara pagi masih begitu terasa. Saya pandangi sekeliling. Beberapa burung gereja terlihat beterbangan untuk mengisi perut mereka yang kosong. Kicau mereka mungkin menjadi penyemangat satu sama lain dalam mencari rezeki yang sudah dihamparkan oleh Ar-Rozzaq, Sang Maha Pemberi Rizki.

Tiga Penginapan Yang Berbeda

Beberapa malam sebelumnya, alhamdulillah, sekitar pukul dua puluh malam, saya dan rekan-rekan satu tim mendarat dengan selamat di Bandara Polonia Medan. Setelah mengambil barang-barang dair bagasi, kami segera menuju Hotel Polonia untuk bermalam di sana. Hanya satu malam kami menginap. Paginya setelah sarapan, kami segera membawa semua barang bawaan kami keluar dari hotel tersebut. Check out!

Kenapa kami memilih check out dari hotel? Pilihan tersebut dikarenakan sistem pembayaran untuk setiap penugasan yang bersifat lump sum, di mana jumlah yang diterima oleh setiap anggota tim sudah ditentukan berapa jumlahnya. Selanjutnya terserah masing-masing anggota tim untuk membelanjakan uang perjalanan dinas tersebut. Beberapa tahun kemudian, sistem ini kemudian diubah.

Dengan ketentuan yang berlaku saat itu, maka saya dan semua anggota tim sepakat untuk mencari penginapan yang lebih murah. Dengan harapan, masing-masing dari kami bisa menyimpan kelebihan uang dari sisa penugasan tersebut.

Salah seorang anggota tim memiliki teman yang tinggal di Medan. Kebetulan rumah yang ditinggalinya kosong, dan dia menawarkan kepada kami untuk tinggal di rumah tersebut. Berdasarkan info yang kami dapat, lokasi rumah tersebut tidak jauh dari kantor di mana kami ditugaskan. Akhirnya, pulang dari kantor, dengan membawa semua barang bawaan, kami menuju tempat penginapan baru kami.

Ternyata, jarak dekat yang dimaksud teman kami tidak sedekat yang kami bayangkan. Perjalanan yang semula diperkirakan kurang lebih 30 menit, ternyata memakan waktu lebih lama, ditambah lagi dengan kemacetan yang sebenarnya tidak separah di Jakarta.

Setelah tiba di rumah tujuan, sebuah kenyataan yang tidak begitu mengenakkan harus kami terima. Secara pribadi, saya melihat kondisi rumah tersebut kurang terawat dengan baik, sehingga terkesan kotor, beratakan, dan sumpek. Selain itu, kami merasa tidak enak dengan temanya teman kami yang tinggal di situ karena ia harus tidur di luar kamar karena dua kamar sudah terisi semua anggota tim. Dengan keadaan tersebut, keesokan harinya kami sepakat untuk pindah tempat penginapan. Lagi.

Alhamdulillah, di hari ke dua di Medan, kami mendapatkan tempat penginapan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kami mendapat rumah penginapan yang direkomendasikan oleh salah seorang staf kantor di mana tim kami bertugas. Kebetulan, beliau juga menginap di tempat tersebut.

Selepas jam kantor, kami segera menuju rumah penginapan yang dimaksud. Ternyata letaknya tidak jauh dari kantor, tepatnya di Jalan Mustafa Gang Mandor.

Kami diberikan sebuah kamar kosong yang cukup luas. Mungkin bisa menampung sekitar sepuluh orang lebih. Pemilik rumah, Pak Haji Jamal, memberikan kami alas tidur berupa kasur dan karpet. Biaya yang harus kami keluarkan untuk menyewa kamar tersebut adalah empat ratus ribu rupiah. Jumlah tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan menginap di hotel. Apalagi jumlah tersebut akan dibagi rata dengan jumlah anggota tim yang berjumlah lima orang.

Dan terhitung mulai malam itulah, saya dan teman-teman seperti memiliki keluarga baru. Pak Jamal, yang ternyata adalah mantan pemain PSMS Medan era tahun 60-an beserta ibu, memperlakukan kami seperti anak-anak beliau. Kami mendapat pelayanan dan perhatian yang tak mungkin kami dapatkan di hotel berbintang berapa pun. Hampir setiap pagi, Ibu Jamal menyediakan kami sarapan. Beberapa kali kami sempat diajak makan malam bersama. Lauk-pauk yang pernah saya dan tim cicipi antara lain ayam bakar, kerang, dan ikan tenggiri. Ditambah lagi, hampir setiap pagi pula, Pak Haji Jamal mengantarkan kami ke kantor. Menurut beliau, jalan menuju kantor kami searah dengan kantor beliau.


Danau Toba dan Pulau Samosir

Tugas selama dua minggu, artinya ada dua hari libur yang bisa kami nikmati. Ada dua tempat yang diberikan oleh Pak Haji Jamal, Brastagi dan Danau Toba. Setelah mengingat dan menimbang, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menuju Danau Toba.

Dari kos kami menggunakan angkutan umum menuju Danau Toba. Naik angkot apa dan jurusan mana, semuanya diarahkan oleh Pak Haji Jamal. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat atau lima jam, akhirnya kami tiba di Danau Toba menjelang sore hari.

Langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan. Mencari penginapan yang murah di hari libur tidaklah mudah. Kebanyakan sudah penuh. Setelah mencari-cari ke beberapa lokasi
, akhirnya kami menemukan sebuah kamar dengan fasilitas terbatas sebagai tempat menginap. Biaya penginapan untuk satu malam sebesar seratus lima puluh ribu.

Keesokan paginya, kami pergi ke Pulau Samosir. Awalnya kami menemukan lokasi perahu dengan sistem sewa satu kapal. Berapapun jumlah penumpangnya, biayanya sama, sekitar seratusan ribu rupiah. Biaya tersebut cukup mahal untuk ukuran kantong kami, meskipun ada beberapa lokasi yang akan disinggahi sebelum tiba di Pulau Samosir. Akhirnya kami mencari lokasi penyewaan perahu yang sistem sewanya per penumpang. Setiap satu jam, ada perahu tersebut berangkat ke Pulau Samosir dan ada pula yang kembali.

Setelah beberapa menit berada di kapal penyeberangan, akhirnya kami tiba di Pulau Samosir. Ada beberapa obyek wisata di Pulau Samosir yang sempat kami singgahi. Di antaranya :

batak's house - samosir island
batak’s house – samosir island

Masjid Raya dan Istana Maimun

Tak hanya ke Danau Toba dan Pulau Samosir, kami pun sempat menjejakkan kaki di Masjid Raya Al-mashun dan Istana Maimun. Istana Maimun adalah Istana kebesaran Kesultanan Deli dengan warna kuningnya (kuning merupakan warna kerajaan Melayu) dan khas gaya seni bangunan Melayu di pesisir timur. Di istana Kerajaan Deli tersebut saya dan tim sempat berfoto-foto dengan mengenakan pakaian kebesaran Istana.

Betawi Adalah Orang Melayu Dari Sumatera?

Dahulu, saya beranggapan bahwa Orang Batak adalah mereka yang berasal dari Kota Medan. Ternyata anggapan saya itu keliru. Mayoritas penduduk Kota Medan adalah orang melayu, bukan orang Batak.

Beberapa tahun sebelumnya, dari artikel dalam sebuah majalah yang pernah saya baca ketika mengikuti program pesantren kilat semasa SMA, saya mendapat informasi sejarah bahwa orang Betawi sebenarnya berasal dari Pulau Sumatera yang pindah ke Tanah Jawa. Benarkah informasi tersebut? Wallahu a’lam.

Yang jelas, saya sudah merasakan keramah-tamahan, ikatan persaudaraan, kehangatan, dan juga cinta dari keluarga Pak Haji Jamal. Semoga Allah memberikan kebaikan yang berlipat ganda atas apa yang telah Bapak dan Ibu Haji Jamal berikan kepada saya dan semua anggota tim.

 


Tulisan Terkait Lainnya :

51 thoughts on “[Love Journey] Medan : Romansa, Perjuangan, Ukhuwah, dan Sejarah

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s