Lelaki dan Ruang Sidang (III)

court“Aku benci dengan orang yang berselingkuh kemudian menikah dengan selingkuhannya.”Aku mendengar kalimat itu dari istriku. Beberapa tahun yang lalu sesaat setelah melihat tayangan infotainment tentang pernikahan pasangan selebriti di televisi.

******

“Kenapa harus ada tuntutan seperti ini? Kalian berdua pasangan yang serasi. Yang suami ganteng, yang istri cantik,” ucap sang hakim setelah membaca berkas permohonan gugatan istriku.

“Sudah tidak ada kecocokan, Pak Hakim!” Jawab istriku.

“Yang namanya berumah tangga itu pasti ada yang namanya perselisihan atau pertengkaran kecil. Wajar-wajar saja. Jadi dicabut aja tuntutannya yah?”

“Sudah tidak bisa lagi dipertahankan, Pak!” Jawab istriku.

“Iya, Pak. Seperti yang tertulis di dalam surat gugatan itu,” jawabku ketika sebuah pertanyaan ditujukan kepadaku.

******

“Kenapa nama kita tidak dipanggil-panggil?” Tanyanya setelah menunggu sekian jam di depan ruang sidang.

Ada kekecewaan besar terpancar di raut wajahnya.

“Sabar aja, masih nunggu giliran!” Jawabku sekenanya karena berapapun lamanya proses hari ini, aku sudah menjatahkan bahwa hari ini adalah untuk proses persidangan kali kedua ini.

Menurutnya, dia sudah mendaftar sejak pukul delapan pagi dan mendapat nomor antrian awal, tetapi kenapa masih belum terdengar panggilan atas nama kami berdua, sementara waktu istirahat siang hampir menjelang. Itulah alasan kenapa dirinya terlihat gusar, kecewa, dan mungkin marah. Tapi aku tak sudi jika harus menjadi tempat pelampiasan kekecewaan dan kemarahannya lagi.

“Kalau selepas istirahat nanti belum ada panggilan, aku akan cabut gugatan cerai ini!” Ucapnya dengan nada mengancam.

Mendengar kalimat itu dari mulutnya, membuatku semakin mantap untuk melanjutkan proses perceraian ini yang sudah separuh jalan. Menyaksikan dirinya yang hanya untuk menunggu waktu dalam bilangan jam saja sudah tidak sabar dan membuatnya berkeinginan untuk mengubah apa yang telah diputuskannya, bagaimana dengan kesabaran dalam berumah tangga yang bisa jadi harus dilalui sepanjang hidup. Aku hanya tersenyum sinis. Entah dia bisa melihat senyumku itu atau diriku yang hanya tersenyum demikian di dalam hati

******

Kutatap perempuan yang duduk sekitar dua meter di samping kiriku. Ada sungai yang mengalir di kedua sudut matanya. Ada isak tangis yang kudengar tatkala hakim mengetuk palu sebagai pertanda keputusan sudah ditetapkan. Kami berpisah.

“Kenapa dirinya menangis? Bukankah ini yang sudah lama diinginkannya?” Hatiku bertanya-tanya.

“Ah, sudah lah. Itu bukan urusanku lagi. Bukankah di antara kami sudah tidak ada hubungan lagi?” Bantahan itu datang kemudian.

Tak lama kemudian, kami melangkah ke luar ruang sidang untuk kemudian berpisah, memilih jalan pulang masing-masing.

Namun demikian, ada satu pikiranku yang masih menyangkut di dalam dirinya. Sebuah pertanyaan, akankah dia menikahi lelaki itu?

Jika dirinya menikah dengan lelaki itu, maka dia termasuk orang yang membenciri dirinya sendiri. Jika tidak, maka penilaian dirinya akan lelaki itu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Apa pun yang akan terjadi, yang aku rasakan saat ini adalah sebuah kebebasan, ya kebebasan.

THE END


Tulisan Terkait Lainnya :

73 respons untuk β€˜Lelaki dan Ruang Sidang (III)’

  1. cambai Juli 11, 2012 / 00:00

    bundel said: Perpisahan begini nggak usah ditangisi. Saya malah senyum kok dulu itu, sementara mengucapkan terima kasih. Lha dia malah bingung, menundukkan muka, nggak jelas gimana perasaannya setelah melaksanakan niatannya. :-PHidup itu indah, jalani aja lanjutannya dengan senang hati.

    errr..maksudnya bundel? *eh saya belum kontak bundel ya..?:(

  2. eroza Juli 11, 2012 / 00:00

    masih kurang panjang Ki, hehehe

  3. jampang Juli 11, 2012 / 00:00

    mahasiswidudul said: kalo jodoh gak kemana.. kalo udah gak sama2.. yo wis… heheee..

    iya… nanti dibuat cerita yang berjodohxixixixixixi

  4. jampang Juli 11, 2012 / 00:00

    eroza said: masih kurang panjang Ki, hehehe

    haduuuuuuh….

  5. penasulung Juli 11, 2012 / 00:00

    T______Tsgt sedih rasanya mendengar yg seperti ini 😦

  6. mahasiswidudul Juli 11, 2012 / 00:00

    aaaaaaammmmmiiiinn… sama mbak jilbab kuning yg aseli ye om.. hehe

  7. hanifahnunk Juli 11, 2012 / 00:00

    mahasiswidudul said: aaaaaaammmmmiiiinn… sama mbak jilbab kuning yg aseli ye om.. hehe

    kan udah muncul tuh ;))

  8. debapirez Juli 12, 2012 / 00:00

    semoga semua sudah digarikan oleh-Nya. dan om Jampang akan mendapatkan yg lbh baik…

  9. ipie Juli 12, 2012 / 00:01

    Bebas tp berbatas…

  10. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    penasulung said: T______Tsgt sedih rasanya mendengar yg seperti ini 😦

    semoga kita semua terlindung dari yang demikian, aamiin

  11. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    mahasiswidudul said: aaaaaaammmmmiiiinn… sama mbak jilbab kuning yg aseli ye om.. hehe

    xixixixixixi….. bisa digabung seh, cerita ini sama seri jilbab kuning πŸ˜€

  12. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    hanifahnunk said: kan udah muncul tuh ;))

    *celingukan nyari

  13. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    debapirez said: semoga semua sudah digarikan oleh-Nya. dan om Jampang akan mendapatkan yg lbh baik…

    lho…. kenapa saya?tokoh di cerita kan bukan saya…. pasti nggak merhatiin tag postingan ini.

  14. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    ipie said: Bebas tp berbatas…

    karena memang tidak ada kebebasan mutlak

  15. deikka Juli 12, 2012 / 00:01

    saya padahal perempuan tapi bingung dengan yg ada dlm pikiran perempuan yg dimaksud dlm postingan tsb hahaha…..

  16. jampang Juli 12, 2012 / 00:01

    deikka said: saya padahal perempuan tapi bingung dengan yg ada dlm pikiran perempuan yg dimaksud dlm postingan tsb hahaha…..

    sebagai yang nulis, saya juga bingung, mbakxixixixixi

  17. jaraway Juli 13, 2012 / 00:01

    =)*lagi2 kenapa saya yang sedih ya.. hehehe

  18. jampang Juli 13, 2012 / 00:01

    jaraway said: *lagi2 kenapa saya yang sedih ya.. hehehe

    sedihnya bisa ketawa… xixixixi

  19. thetrueideas Juli 11, 2012 / 00:00

    jampang said: Apa pun yang akan terjadi, yang aku rasakan saat ini adalah sebuah kebebasan, ya kebebasan.

    jadi…selama ini terkekang? πŸ™‚

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s