[Syukur#7] : Jalan Lengang Itu Bukan Curang!

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Selama Ramadhan, jam pulang kantor berubah. Maju tiga puluh menit. Artinya saya bisa pulang pukul setengah lima sore. Seperti itulah yang saya lakukan Senin kemarin dan selama bulan Ramadhan, kecuali seminggu ke depan terhitung mulai hari ini karena saya tidak ngantor.Senin sore…Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima lewat beberepa menit, saya sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Begitu berada di lantai empat atau dua (saya lupa-lupa ingat), lift berhenti dan pintunya terbuka. Seorang rekan kerja yang beraktifitaa di beda lantai masuk ke dalam lift. Kemudian terjadilah pembicaraan di antara kami berdua.”Tinggal di mana?” Tanyanya mengawali pembicaraan kami.

“Di Kebon Jeruk,” jawab saya.

“Wah, curang!” Ucapnya dengan nada bercanda.

Kata “curang” di ini saya artikan bahwa jarak rumah saya dengan kantor lebih dekat dibandingkan jarak rumahnya ke kantor.

“Tapi nanti macet di Tomang, yah?” Tanya rekan saya lagi.

Sepertinya, di Jakarta ini semua jalan lebih banyak yang macet daripada yang lancar. Pertanyaan rekan saya itu juga mungkin ingin menggambarkan bahwa kemacetan yang dialaminya juga pasti saya alami.

“Tapi gue nggak lewat Tomang. Gue lewat senayan,” jawab Saya kemudian.

Jalur saya selepas keluar dari gedung kantor adalah ke arah Slipi. Namun sebelum Gedung DPR, saya sudah belok ke arah kiri, melewati Gelora Bung Karno dan jalan di depan TVRI.

“O, kalau lewat Senayan sih ngga macet,” responnya ketika mendengar jawaban saya tersebut.

“Tapi nanti di Jalan Panjang ketemu macet, kan?” Tanyanya lagi.

“Tapi rumah gue kan sebelum Jalan Panjang!” jawab saya.

“Curang!” Ucapnya lagi.

*******

Saya pernah tinggal di Depok yang berjarak sekitar tigapuluhan kilometer dari kantor. Selama sekian tahun saya mengukur jalan dengen mengendarai sepeda motor, lengkap dengan kemacetannya, banjirnya, dan tentu cape serta ngantuknya.

Menempati rumah sekarang, meski bukan milik pribadi, dengan jarak dan waktu tempuh yang tidak begitu jauh dan lama, adalah sesuatu yang harus saya syukuri. Sepertinya saya pernah membaca tulisan atau komentar MPers yang menyatakan bahwa “jarak rumah yang dekat dengan kantor adalah sebuah kemewahan di Jakarta.” Maaf, saya lupa pernah baca di mana.

Semoga saya bisa selalu menikmatinya, insya Allah, dan mensyukurinya, alhamdulillah.


Seri Syukur Sebelumnya :

[Syukur#6] Pindah Rute Tak Bikin Bete [Syukur#6] Pindah Rute Tak Bikin Bete
[Syukur#5] Isi Tangki Bisa Tiga Minggu Sekali [Syukur#5] Isi Tangki Bisa Tiga Minggu Sekali
[Syukur#4] Syaikhan dan Kebersamaan [Syukur#4] Syaikhan dan Kebersamaan
[Syukur#3] Abi...! Abi...! Tak Hanya Sekali [Syukur#3] Abi…! Abi…! Tak Hanya Sekali
[Syukur#2] Sudah Tak Perlu Terburu-buru, Karena Rasa Was-was Sudah Tuntas [Syukur#2] Sudah Tak Perlu Terburu-buru, Karena Rasa Was-was Sudah Tuntas
[Syukur#1] Tak Lagi Molor Di Atas Motor [Syukur#1] Tak Lagi Molor Di Atas Motor

55 respons untuk ‘[Syukur#7] : Jalan Lengang Itu Bukan Curang!

  1. jampang Juli 26, 2012 / 00:00

    iya… biar bisa menikmati 🙂

  2. jampang Juli 27, 2012 / 00:00

    ipie said: Aamiin YRA.

    aamiin

  3. thetrueideas Juli 24, 2012 / 00:00

    Dulu, musti spare 1.5jam utk ke kantor, sekarang berangkat 7.30 alhamdulillah, lancar jaya dan ndak telat…

  4. ipie Juli 26, 2012 / 00:00

    jampang said: semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur

    Aamiin YRA.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s