Bolehkah Shalat Sambil Memegang Mushaf atau Handphone?

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Dahulu, karena adanya keinginan seseorang, saya ‘terpaksa’ menjadi imam shalat tarawih. Karena bermaksud sambil menyelam minum air, saya memgang Al-quran kecil dalam shalat tarawih yang kemudian saya buka dan baca pada waktunya di dalam shalat. Dengan demikian, saya bisa melanjutkan bacaan Al-quran di bulan Ramadhan sekaligus memberikan variasi bacaan ayat saat tarawih.

Al-quran kecil itu saya masukkan ke dalam saku baju kemudian saya keluarkan, lalu membuka dan membacanya selepas membaca surat Al-fatihah. Setelah selesai membaca dua halaman, Al-quran kecil itu kemudian saya tutup dan saya masukkan kembali ke dalam saku, lalu saya sujud. Begitu di setiap rakaat tarawih hingga selesai.

Saat ini, saya mempunyai handphone yang di dalamnya sudah terinstall aplikasi Al-quran. Seandainya saya menggunakan handphone tersebut sebagai pengganti Al-quran kecil yang dulu saya pakai ketika melaksanakan shalat tarawih, tentunya akan lebih mudah dan simple di bandingkan ketika menggunakan Al-quran kecil.

Jika ketika menggunakan Al-quran kecil saya harus menggunakan kedua tangan untuk membuka, menandai bacaan, dan menutupnya, maka dengan handphone yang saya miliki sekarang, saya cukup menggunakan satu tangan untuk melakukan itu semua.

Tapi kemudian, saya teringat dengan sebuah ayat Al-quran yang memerintahkan agar membaca ayat-ayat Al-quran yang paling mudah saja, yang mungkin sudah dihapal luar kepala.

Jika demikian, apakah yang dulu saya lakukan, yaitu memegang dan membaca Al-quran di saat tarawih tau shalat lainnya atau kemudian menggunakan handphone dengan aplikasi Al-quran di dalamnya, bertentangan dengan ayat tersebut?

Ditunggu pencerahannya… 🙂

Terima kasih….

*

*

*

Update jawaban bisa dilihat di bagian komentar.

90 thoughts on “Bolehkah Shalat Sambil Memegang Mushaf atau Handphone?

  1. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    cawah said: naaah..mohon penjelasannya pak syamsul 🙂

    *nunggu juga

  2. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    drprita said: kalau yang ini bisa merujuk apa yang dilakukan oleh Rasulullah, saat itu beliau sholat sambil menggendong cucunya. Saat beliau ruku’, cucunya diturunkan dari gendongan. Ada haditsnya tapi lupa, mohon maaf. Kalau sholat sambil membaca mushaf, beberapa kali menjumpainya waktu di tanah suci dulu. Wallahua’lam

    saya perah baca hadits tentang Nabi yang menggendong di saat shalat, bu.makasih atas sharing pengalamannya, bu

  3. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    hwwibntato said: izin ikut menunggu, Bang …menunggu pencerahan … he he he …

    silahkan, kang 🙂

  4. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    mylathief said: Nah, untk kasus menjadi imam, ini kurang tw..

    berarti beda kasus antara menjadi imam dan ma’mum ya, mas?

  5. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    makhayr said: shaft belakang

    karena untuk perempuan, shaft yang terbelakang tang paling utama. kalau2 laki2 yang terdepan yang paling utama 🙂

  6. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    indev said: Waktu itikaf di alhikmah, makmumnya pada buka mushaf saat shalat tarawih.Soalnya disana bacaan sholat tarawihnya 1jus. Imam nya hafidz.Klo cuma ngedengerin bacaan imam aja, bisa ngantuk. -.-

    makasih sharingnya, mbak 🙂

  7. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    nanazh said: saya pernahnya di Jakarta itu ada imam yang di depannya sudah dipasang al Quran seperti konduktor pada pagelaran musik gitu…tapi ya semua memang kembali pada dalihnya…handphone? hohoho kok saya lebih ke arah konvensional aja ya… memakai mushaf lebih kerasa syahdunya… opini pribadi deng

    di masjd mana, mas?kan lebih simple, mas…. *opini pribadi juga

  8. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    moestoain said: Boleh aja.. Gerakan yg membatalkan sholat dalam madhab syafi’i adalah 3x gerakan disetiap rukun sholat. Sedangkan gerakan jemari tidak termasuk gerakan tersebut.Kalau ada yg lebih hafal lebih dianjurkan dialah imamnya, namun bila tidak ada lagi yg ingin jadi imam ya silahkan. Boleh kok pak.

    terima kasih, moes 🙂

  9. jampang Juli 29, 2012 / 00:00

    trewelu said: Asal jangan lupa diofflinekan dulu hpnya. Gak lucu banget lagi ngimamin sholat eh ada yang nelpon.. 😀

    iya, mbak 😀

  10. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    moestoain said: Adoh adoh maaf salah ketik hahaha… Membatalkan sholat maksudnya. Terima kasih koreksinya

    xixixixixi…. gpp

  11. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    lailatulqadr said: ato ada notifikasi gtalk dan whatsApp

    kan bisa disetting “flight mode”, mbak 🙂

  12. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    nanabiroe said: Di mesjid sekarang byk yg megang henpon… Bukan buat ngaji tp online 😀

    naaah…. ini…..:D

  13. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    rivenskyatwinda said: ‘afwan, ikut komen pak.boleh lihat mushaf, apalagi jika bacaannya belum hafal. Tapi lebih baik yang jd imam yang sudah hafidz.kalau yg pakai hp, ‘afwan jika sholat sambil pegang hp itu tidak ahsan, sekalipun ada bacaan Qur’an. Di zaman Rasulullah juga dulu nggak ada hp. gimanapun juga kesakralan ayatNya, nggak bisa diganti dgn teknologi. makanya ayat yg pertama kali turun adalah Iqro, padahal waktu itu Rasulullah nggak bisa baca.Allahu a’lam.

    makasih, sharingnya, mbak

  14. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    moestoain said: Quran dulu juga gak tertulis.. Adanya quran juga inisiatif sahabat abu bakar dan umar. Akhirnya quran dikumpulkan dan dibukukan..

    *sepakat

  15. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    rivenskyatwinda said: Intinya tetap menjaga kesakralan.

    yang lebih penting lagi…. mengamalkan isi dan kandungannya 🙂

  16. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    prajuritkecil said: Kalo pake hp, ga tau ya…Kalo pake mushaf, lah liat aja siaran live tarawih di sana. Banyak yg pegang mushaf, gede2 pula..pake tangan dua. Ga diusir askar kan..? 😉

    belum pernah lihat siaran tarawih yg live:(

  17. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    roelworks said: nggak usahd dipaksain pak …tidak dipaksakan kan ?

    sekarang sih kebanyakan jadi ma’mum yang cuma ngikutin imam aja 🙂

  18. jampang Juli 29, 2012 / 00:01

    Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah membuat satu bab dalam kitab Shahih-nya berjudul :“Keimaman seorang budak dan maulaa – ‘Aaisyah pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwaan dengan membaca mushhaf” [Mukhtashar Shahih Al-Bukhaariy oleh Al-Albaaniy, 1/224; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. Thn. 1422 H].

    Al-Bukhaariy membawakan atsar di atas secara mu’allaq, namun di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Daawud sebagai berikut :Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idriis, dari Syu’bah, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, dari ayahnya, dari ‘Aaisyah : Bahwasannya ia pernah diimami oleh budaknya dengan membaca mushhaf [Al-Mashaahif, hal. 656 no. 791, tahqiq : Dr. Muhibbudiin bin ‘Abdis-Sabhaan Waa’idh; Daarul-Basyaair, Cet. 2/1423 H – shahih].

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, dari ayahnya, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya ia pernah diimami budaknya dengan membaca mushhaf” [idem, hal. 656-657 no. 792 – shahih].

    Juga Ibnu Abi Syaibah rahimahullah :Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Urwah, dari Abu Bakr bin Abi Mulaikah : Bahwasannya ‘Aaisyah pernah membebaskan budaknya jika ia (‘Aaisyah) meninggal, dimana budak tersebut mengimaminya di bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/86 (2/338) no. 7294, tahqiq : Muhammad ‘Awwamah; Daarul-Qiblah, Cet. 1/1427 H – shahih].

    Selain riwayat di atas, ada riwayat-riwayat lain dari kalangan salaf yang menyatakan pembolehannya, antara lain :

    1. ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin ‘Umar : Telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus, dari Az-Zuhiy, dari Al-Qaasim : Bahwasannya ‘Aaisyah pernah shalat pada bulan Ramadlaan atau yang lainnya dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 657 no. 793 – shahih].

    2. Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Thahmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Tsaabit Al-Bunaaniy, ia berkata : “Adalah Anas shalat sedangkan budaknya memegang mushhaf di belakangnya. Apabila ia ragu/lupa pada satu ayat, maka budaknya membukakan mushhaf untuknya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87 (2/338) no. 7300 – shahih].

    3. Muhammad bin Siiriin rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Ibnu Siiriin : Bahwasannya ia pernah shalat sedangkan mushhaf ada di sisinya. Apabila ia ragu-ragu (dalam bacaannya), ia melihat mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 662-663 no. 813 – shahih].

    4. Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’iid Al-Hamdaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb : Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy, ia berkata : “Aku memandang tidak mengapa membaca mushhaf di bulan Ramadlaan (ketika shalat) – maksudnya adalah Al-Qur’an – [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 660 no. 805 – hasan].

    5. Al-Hakam bin ‘Utaibah rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud, dari Syu’bah, dari Al-Hakam tentang laki-laki yang mengimami pada bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf : Ia memberikan keringanan padanya [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87 (2/338) no. 7296 – shahih].

    6. Al-Hasan Al-Bashriy dan Az-Zuhriy rahimahumallah.Abu Daawud Ath-Thayaalisiy, dari Syu’bah, dari Manshuur, dari Al-Hasan dan Muhammad, mereka berdua berkata : “Tidak mengapa dengannya (membaca mushhaf ketika shalat)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87 (2/338) no. 7297 – shahih].Catatan : Ada riwayat lain dari Al-Hasan yang menyatakan kebenciannya sebagaimana akan dibawakan di bawah.

    7. Maalik bin Anas rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Aku mendengar Maalik, dan ia pernah ditanya tentang orang yang mengimami orang-orang di bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf ?. Maka ia berkata : “Tidak mengapa dengan hal itu jika ia terpaksa melakukannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 661 no. 808 – shahih].

    An-Nawawiy rahimahullah berkata :“Meskipun ia membaca Al-Qur’an dari mushhaf, maka tidak membatalkan shalatnya, sama saja apakah ia menghapalnya ataukah tidak. Bahkan wajib baginya jika tidak hapal Al-Faatihah…. dan inilah yang telah kami sebutkan dari madzhab kami (Syaafi’iyyah), Maalik, Abu Yuusuf, Muhammad, dan Ahmad bahwa membaca mushhaf tidak membatalkan shalat” [Al-Majmu’, 4/27].

    Namun pembolehan Maalik bin Anas rahimahulah ini adalah untuk shalat sunnah, dan ia membencinya jika dilakukan pada shalat fardlu, sebagaimana dikatakan Ibnul-Qaasim rahimahullah :“Dan Maalik berkata : ‘Tidak mengapa seorang mengimami manusia dengan membaca mushhaf di bulan Ramdlan pada shalat sunnah”. Ibnul-Qaasim berkata : “Dan ia membenci hal tersebut pada shalat fardlu” [Al-Mudawwanah, 1/283].

    Kontradiktif dengan pendapat di atas yang membolehkan, ada sebagian salaf yang membencinya sebagaimana ada dalam beberapa riwayat berikut :

    1. Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Athaa’, dari Abu ‘Abdirrahmaan : Bahwasannya ia membenci mengimami dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/338) no. 7302 – shahih].

    2. Ibraahiim An-Nakhaa’iy rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim : Bahwasannya ia membenci seorang laki-laki yang mengimami dengan membaca mushhaf, dengan kebencian bahwasannya hal itu menyerupai Ahlul-Kitab [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/338) no. 7303 – shahih].

    3. Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah.Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad-Dastuwaaiy, dari Qataadah, dari Al-Hasan : Bahwasannya ia membenci hal tersebut, dan berkata : “Begitulah yang dilakukan oleh orang Nashara” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/339) no. 7307 – shahih].

    4. Hammaad bin Abi Sulaimaan dan Qataadah rahimahumallah.Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud, dari Syu’bah, dari Hammaad dan Qataadah tentang laki-laki yang mengimami satu kaum di bulan Ramdlaan dengan membaca mushhaf, maka mereka berdua membencinya [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/339) no. 7307 – shahih].

    5. Mujaahid rahimahullah.Dari Ats-Tsauriy, dari Manshuur, dari Mujaahid : Bahwasannya ia membencinya [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq, 2/419 no. 3928, tahqiq : Habiiburrahmaan Al-A’dhamiy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 1/1390 H – shahih].Adapun Abu Haniifah rahimahullah, maka ia melarang membaca mushhaf baik dalam shalat fardlu ataupun shalat nafilah karena dapat membatalkan shalat, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Kaasaaniy dalam Badaa’ish-Shanaai’ (2/611) – lihat pula Mukhtashar Ikhtilaafil-‘Ulamaa lith-Thahawiy oleh Al-Jashshash, 1/207 no. 145, tahqiq : ‘Abdullah Nadziir Ahmad; Daarul-Basyaair, Cet. 1/1416 H.

    Melihat riwayat dan penjelasan ulama yang ada, maka yang raajih – wallaahu a’lam – adalah diperbolehkan melakukannya baik dalam shalat sunnah ataupun wajib jika memang diperlukan/dibutuhkan. Inilah yang difatwakan oleh para ulama Al-Lajnah Ad-Daaimah :

    “Diperbolehkan membaca Al-Qur’an dari mushhaf dalam shalat pada bulan Ramadlaan atau yang lainnya, baik shalat fardlu atau shalat sunnah dalam jenis shalat jahriyyah (yang dikeraskan suaranya) apabila ada keperluan/kebutuhan akan hal itu” [sumber : sini].

    Ibnu Baaz rahimahullah ketika ditanya apakah boleh membaca mushhaf ketika shalat fardlu yang lima, khususnya shalat fajar, beliau menjawab :“Hal itu diperbolehkan jika ada keperluan/kebutuhan sebagaimana diperbolehkan membaca mushhaf pada shalat tarawih bagi orang yang tidak hapal Al-Qur’an. Dzakwaan maulaa ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa pernah shalat mengimaminya (‘Aaisyah) di bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf. Al-Bukhaariy menyebutkannya dalam kitab Shahih-nya secara mu’allaq dengan bentuk jazm (pasti). Dan memanjang bacaan dalam shalat Fajr (Shubuh) adalah sunnah. Apabila imam tidak menghapal surat mufashshal atau yang lainnya dari Al-Qur’an Al-Kariim, diperbolehkan baginya membaca dari mushhaf. Dan disyari’atkan baginya menyibukkan diri dan bersungguh-sungguh untuk menghapal Al-Qur’an, atau menghapal minimal surat-surat al-mufashshal hingga ia tidak lagi perlu membaca dari mushhaf (ketika shalat)….” [Kitaabud-Da’wah, 2/116].

    Membedakan antara shalat sunnah dengan shalat wajib perlu dalil, karena apa saja yang berlaku pada shalat wajib, berlaku juga untuk shalat sunnah, kecuali ada dalil yang memang membedakannya. Dan di sini tidak ada.Jika dikatakan ia dilarang karena akan terjadi banyak gerakan (di luar shalat) sehingga dapat membatalkan shalat, maka telah shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan di luar shalat karena ada kebutuhan.Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Utsmaan bin Abi Sulaimaan dan Ibnu ‘Ajlaan, keduanya mendengar ‘Aamir bin ‘Abdillah bin Az-Zubair menceritakan hadits dari ‘Amru bin Sulaim Az-Zuraqiy, dari Qataadah Al-Anshaariy, ia berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam sedang mengimami manusia dan Umamah binti Abil-’Ash – ia adalah anak dari Zainab bintu Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam – (digendong) di atas pundakya. Apabila beliau rukuk, maka beliau meletakkannya, dan apabila beliau akan berdiri dari sujud, maka beliau kembali (menggendongnya)” [Diriwayatkan Muslim no. 543].

    Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Musaddad – dan ini adalah lafadhnya – , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bisyr, yaitu Ibnul-Mufadldlal : Telah menceritakan kepada kami Burd, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sedangkan pintu yang ada di dekatnya dalam keadaan tertutup. Lalu aku datang, dan minta dibukakan. Beliau berjalan, lalu membukakan pintu untukku, kemudian kembali ke shalatnya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 922; hasan – lihat Shahih Sunan Abi Daawud, 1/257; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1419 H].

    Sudah sepatutnya kaum muslimin, terlebih lagi mereka yang dipercaya menjadi imam shalat berjama’ah, bersemangat menghapalkan Al-Qur’an, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah di atas. Bagaimanapun juga, berdiri membaca Al-Qur’an dengan hapalan di dada adalah lebih baik, lebih khusyu’, dan lebih sempurna daripada membaca dengan melihat dan/atau memegang mushhaf.Jika hal itu dilakukan tanpa ada keperluan/kebutuhan, maka makruh karena Allah ta’ala berfirman :“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya…” [QS. Al-Mukminuun : 1-2].

    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, dari Bakr, yaitu Ibnu Mudlar, dari Ibnu ‘Ajlaa, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari ‘Umar bin Al-Hakam, dari ‘Abdullah bin ‘Anamah Al-Muzanniy, dari ‘Ammaar bin Yaaisr, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya seseorang menyelesaikan shalatnya, dan tidak dituliskan baginya (pahala) kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya dari shalatnya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 796; hasan – lihat Shahiihul-Jaami’, hal. 335 no. 1626; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 3/1408 H].

    Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.Wallaahu a’lam.

    ———-

    sumber :http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/shalat-dengan-memegang-danatau-membaca.html

  19. 0cta Juli 30, 2012 / 00:01

    apa dgn sambil membuka mushaf tdk dikhawatirkan bisa berlebihan dalam bergerak apalagi HP, gmn pas mbaca tau2 msk sms…apa ga buyar konsetrasinya?*koment dr yg miskin ilmu*

  20. jampang Juli 30, 2012 / 00:01

    0cta said: apa dgn sambil membuka mushaf tdk dikhawatirkan bisa berlebihan dalam bergerak apalagi HP, gmn pas mbaca tau2 msk sms…apa ga buyar konsetrasinya?*koment dr yg miskin ilmu*

    kalau di hadits ada kisah Nabi shalat sambil menggendong, kak.kalau pake HP, kan fitur HPnya bisa dihilangkan “flight mode” jad ya nggak aktif semua fitur HP.kalau yg HP saya belum nemu keterangan jelas, kak.tapi, sesuai dengan keterangan di atas….. menambah hafalan itu lebih baik 🙂

  21. 0cta Juli 31, 2012 / 00:01

    klo menggendong siy saia n suami jg sering sholat sambil nggendong nisa, tp emg menambah hafalan lebih baik krn selain bacaan dpt lbh khusuk jg akan bisa menambah amalan akhirat qt…

  22. jampang Juli 31, 2012 / 00:01

    0cta said: klo menggendong siy saia n suami jg sering sholat sambil nggendong nisa, tp emg menambah hafalan lebih baik krn selain bacaan dpt lbh khusuk jg akan bisa menambah amalan akhirat qt…

    iya, kak

  23. roelworks Agustus 2, 2012 / 00:01

    kalau gak salah boleh gendong…tapi yang digendong gak boleh pake popok…

  24. jampang Agustus 2, 2012 / 00:01

    roelworks said: kalau gak salah boleh gendong…tapi yang digendong gak boleh pake popok…

    kalau pipis… langsung basah… kena najis… batal yah?

  25. roelworks Agustus 3, 2012 / 00:01

    ya begitulah …

  26. chiemayindah Agustus 2, 2013 / 04:24

    Kalau sholat sambil buka mushaf Al-Qur’an sering saya lakukan mas. pernah nanya ke teman yang ilmunya insya Allah lebih dari saya, katanya tidak apa-apa dan gerakan membuka dan menutup Al-Qur’an itu tidak dilarang dalam sholat, karena memang dibutuhkan.. Wallahualam..

    tentang henpon.. saya kayaknya harus nanya lagi sama dia..
    atau kalao mas Rifki udah dapat jawabannya, tolong dishare lagi ya mas 🙂

    • jampang Agustus 2, 2013 / 09:02

      untuk yang mushaf, ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan seperti komentar di atas komentar mbak. kalau handphone saya belum dapat jawaban pastinya

  27. Lutfi Nugroho Mei 11, 2014 / 23:25

    Maaf saya mau nanya, apa boleh pada saat selesai sholat saya mau berdoa menggunakan handphone ?

    • jampang Mei 12, 2014 / 08:42

      sebaiknya ditanyakan ke yang lebih mengerti, mas. saya bukan ahlinya. cuma kalau saya pribadi, berdoa sebaiknya tanpa handphone. berdoa dengan kalimat-kalimat yang kita mengerti maksud dan tujuannya

      wallaahu a’lam

  28. rahasia Juni 28, 2014 / 11:39

    Assalamuallaikum
    Saya mau nanya kalau tidak sengaja hp ada didpn saat sedang sholat dosa tidak?

    • jampang Juni 29, 2014 / 06:43

      wa ‘alaikumus salaam. kalau tidak sengaja ya tidak dosa. pertanyaannya, kenapa bisa ada HP di depan saat sednag shalat? apakah terjatuh?

  29. arip Juni 18, 2015 / 17:23

    Ayatnya anjuran, bukan kewajiban, jadi nggak bertentangan sih.
    Saya juga sering kalau tahajud baca suratnya lewat app Quran di ponsel, kalau untuk sholat berjamaah kayak tarawih ini ga tau sih.

    • jampang Juni 18, 2015 / 20:39

      mungkin diambil sisi baiknya…. baca dari hapalan yang sudah kita miliki…. dan kita dituntut untuk menambah hapalan lagi.

      hiks

  30. anon Juli 18, 2015 / 01:15

    hal hal yg membatalkan sholat itu apa aja ya mas mba? tolong jelaskan pada saya secara lengkap dengan hadits / ayat qurannya. jazakumullahu khoiro

    • jampang Juli 18, 2015 / 20:22

      Hal-hal yang Membatalkan Sholat

      Meninggalkan salah satu rukun sholat atau memutuskan rukun sebelum sempurna dilakukan.

      Tidak memenuhi salah satu dari syarat shalat seperti berhadats, terbuka aurat.

      Berbicara dengan sengaja.

      Banyak bergerak dengan sengaja.

      Maka atau minum.

      Menambah rukun fi’li, seperti sujud tiga kali.

      Tertawa. Adapun batuk, bersin tidaklah membatalkan sholat.

      Mendahului imam sebanyak 2 rukun, khusus bagi makmum.

      kalau soal dalil ayat dan haditsnya saya tidak hafal. maaf

  31. Andini Oktober 20, 2017 / 02:37

    Assalamualikum …
    Saya mau bertanya jika kita baru saja mau belajar sholat tapi kita hanya hapal sedkit ayat2 sholat apakah pada saat menjalankan sholat saya boleh membuka buku panduan sholat .
    Terimkasih ..

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s