My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

Video tersebut mungkin menjadi salah satu latar belakang kenapa saya ingin membuat buku tentang kebersamaan dengan Syaikhan. Sebuah buku yang di sampulnya terdapat foto Syaikhan dan saya seperti kalimat yang diucapkan Syaikhan di dalam video tersebut.

Sebuah naskah yang berisi kumpulan surat dengan panjang sekitar dua ratus halaman sudah saya selesaikan ketika saya tugas di Makassar beberapa waktu yang lalu. Tinggal menunggu waktu apakah naskah tersebut menjadi sebuah buku. Insya Allah.

Pengantar

Mungkin banyak orang dewasa yang berpikir ingin menjadi anak-anak kembali, atau setidaknya membayangkan masa kanak-kanak yang begitu indah mana kala persoalan dan permasalahan hidup kerap datang dan melanda. Betapa tidak, di masa kecil, mereka merasakan kenikmatan hidup, tak banyak pikiran, segala apa-apa terpenuhi tanpa banyak usaha. Di masa kanak-kanak, ibarat mengucap mantra, segala keinginan dan kemauan cukup bilang saja, maka semuanya bisa hadir sekejap mata.

Nyatanya, bagi orang tua, masa kecil anak-anak mereka bisa juga menjadi masa-masa indah dan penuh kebersamaan yang tak terlupakan. Ketika itu, mereka bisa bebas memeluk dan mencium anak-anak mereka kapan saja di mana saja. Tetapi, ketika anak-anak mereka besar, bisa jadi ciuman dan pelukan tersebut ditolak dengan alasan malu, sudah besar, dan bukan anak kecil lagi.

Para orang tua dengan mudah dan gampang mengajak anak-anak mereka ke mana pun pergi. Sang anak pun akan merasa senang. Tetapi, ketika anak-anak itu beranjak besar, mereka tidak bisa lagi diajak dengan mudah, sekalipun hanya untuk menyambung tali silaturahmi kepada sanak keluarga. Ada kegiatan sekolah atau kuliah, ada janji dengan teman, adalah alasan yang sering digunakan untuk menolak ajakan para orang tua.

Kehangata dan kebersamaan itu bisa hilang seiring perjalanan waktu. Anak-anak akan tumbuh menjadi besar. Selagi ada kesempatan, suapilah si kecil sepenuh hati sebelum ia malu menerima suapan dari tangan kita. Ciumlah mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana yang dicontohkan oleh Suri Tauladan, Nabi Muhammad SAW, sebelum si kecil enggan menerimanya karena merasa bukan anak kecil lagi. Peluklah dengan kehangatan cinta, sebelum si kecil merasa risih diperlakukan demikian.

Cover Buku my deares syaikhan

My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Syaikhan, apa kabar? Semoga dirimu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Kondisi seperti itulah yang Abi harapkan, selalu untukmu, kapan pun dan di mana pun dirimu berada.

Sebelum membaca surat dari Abi ini lebih lanjut, mungkin kamu harus tahu bahwa Abi tak pandai menulis surat. Jadi harap maklum jika ada kata-kata atau kalimat-kalimat di dalam surat ini yang kurang pas. Surat ini pun tidak langsung Abi kirim kepadamu, karena di saat Abi menulis dan menyelesaikan surat ini, dirimu belum bisa membaca. Kamu baru saja masuk sekolah taman kanak-kanak beberapa waktu yang lalu. Jadi surat ini baru akan Abi kirim dan kamu baca setelah kamu pandai menulis dan membaca.

Melalui surat ini dan mungkin surat-surat berikutnya, Abi hanya ingin berbagi cerita tentang kebersamaan yang telah kita lalui bersama. Kebersamaa yang tidak berumur lama, sehingga mungkin tak banyak cerita tentang kebersamaan itu yang bisa Abi bagi. Tapi Abi yakin, yang tak banyak itu pastilah sangat berharga, terutama bagi diri Abi.

Syaikhan, maafkan Abi karena tak bisa menemani dirimu lebih lama. Maafkan Abi karena tak bisa menghabiskan waktu kita dalam sebuah kebersamaan yang berkepanjangan. Namun demikian, satu hal yang harus kau ketahui, Abi selalu menyayangimu.

Syaikhan lagi ngapain?

Maaf kalau pertanyaan Abi masih seperti itu. Sepertinya nggak pernah berubah dari pertama kali kamu sudah bisa menjawab pertanyaan itu. Mudah-mudahan Syaikhan tidak bosan menjawab pertanyaan tersebut.

Kalau Syaikhan bertanya, Abi lagi ngapain sekarang, Abi lagi menikmati langit dan hembusan angin malam bersama banyak orang. Tapi Abi merasa sepi. Ternyata ketidakhadiranmu di sisi Abi malam ini yang membuat Abi merasa sepi.

Abi kangen sama Syaikhan.

Abi ingat, biasanya kalau malam-malam seperti ini kita berada di luar rumah, di bawah langit malam, kamu akan mencari-cari di mana bulan dan bintang. Seandainya kamu melihat bulan, kamu akan berkata dengan gembira, “Bi, bulannya ngikutin Syehan!”

Entah kenapa malam ini Abi ingin sekali mendengar suaramu walau hanya sekedar menjawab salam Abi dan dua pertanyaan di atas.

Di surat yang pertama ini, Abi ingin bercerita tentang kebersamaan kita sebelum dirimu lahir ke dunia ini, ketika dirimu masih berada di dalam alam rahim.

Saat itu, akhir Mei 2008. Tak terasa, sudah sembilan bulan usiamu menemani Abi. Kita memang belum pernah saling memandang wajah, belum pernah bersentuhan kulit langsung, tapi kita sudah saling berkomunikasi dengan bahasa yang mungkin tidak semua orang mengerti, walaupun Abi jarang melakukannya. Tapi sungguh, kehadiranmu membuat Abi bahagia. Meski di balik kebahagian itu, terselip sebuah rasa yang lain.

Mungkin di alam rahim sana, dirimu bertanya-tanya tentang perlakuan Abi kepada dirimu yang tidak lepas dan bebas. Mungkin kau merasakan ada kekhawatiran di setiap kalimat sapaan Abi kepadamu. Mungkin kau merasakan ada rasa takut yang menyelimuti di setiap sentuhan Abi. Semua yang kamu rasakan itu benar adanya. Abi merasakan sebuah kekhawatiran dan ketakutan. Kekhawatiran dan ketakutan akan sebuah kehilangan yang pernah Abi rasakan sekitar dua tahun sebelum kehadiranmu.

Dirimu bukanlah anak pertama Abi. Kamu mempunyai seorang kakak yang cantik. Syifa Khairunnisa, namanya. Abi akan bercerita sedikit tentang kakakmu. Semoga dirimu tidak keberatan.

Syifa adalah anak yang hebat. Mampu bertahan sembilan bulan meski dokter memvonisnya dengan penyakit yang berat luar biasa. Syifa juga mampu merasakan udara dunia selama lima jam setelah lahir. Jantungnya yang bocor tak sanggup memompa darah dengan sempurna. Asites di paru-parunya juga mungkin mengganggu pernapasannya. Analisa dokter, penyebab semuanya adalah karena kelainan kromosom.

Ketika di dalam kandungan, Abi dan Syifa sering kali berkomunikasi. Setiap Abi memanggilnya dengan sebutan ‘dede’, dia pasti menjawab dengan gerakan kaki, tangan, atau pun tubuhnya.

Syifa, itu nama yang dipilih untuknya. Sebuah nama yang mengandung harapan bahwa Syifa akan menjadi obat bagi dirinya sendiri, sehingga mampu melawan vonis penyakit yang disampaikan dokter. Sebuah nama yang mengandung harapan bahwa Syifa akan terlahir dalam keadaan sehat sempurna.

Tapi Allah berkehendak lain. Dalam usianya yang baru lima jam, Syifa kembali untuk bertemu Zat yang telah menitipkannya selama kurang lebih sembilan bulan.

Abi pernah menulis sepucuk surat untuk kakakmu. Abi juga berharap dirimu membacanya.

bersambung ke halaman berikutnya >>>>>

15 respons untuk ‘My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

    • jampang Maret 14, 2013 / 15:43

      indie semua, mbak 😀

    • jampang Maret 15, 2013 / 07:57

      siaaap! 😀

  1. jaraway Maret 21, 2013 / 20:04

    *ngebayangin kalo syeyan dah gedhe trus ngebaca buku ntu.. pasti haru..hhehe

    • jampang Maret 22, 2013 / 05:16

      semoga saja bisa jadi buku beneran dan syaikhan bisa baca sehingga tahu kalau Abinya sayang dia meski jarang ketemu

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s