My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar, nak?

Hari ini usiamu tepat sembilan bulan. Itu artinya tak lama lagi engkau akan lahir ke dunia. Engkau akan segera melihat wajah Abi dan Ummi yang begitu mengharapkan kehadiranmu, yang ingin sekali mendengar suara celoteh, tawa, ataupun tangismu, yang ingin sekali menggendongmu. Kuharap engkau pun memiliki rasa yang sama seperti yang kami rasakan.

Nak, semakin hari, engkau semakin pintar saja. Engkau selalu merespon ketika Abi mengajakmu bicara atau pun menyentuhmu. Kadang kau menggerakkan tangamu, kepalamu, atau kakimu. Abi sering melihat gerakanmu yang membuat perut Ummi terlihat lucu karena bentuknya berubah-ubah.

Namun, semakin dekat dengan hari kelahiranmu, justru Abi semakin khawatir, bukan semakin bahagia. Nak, ingatkah dirimu sekitar tiga bulan yang lalu, ketika Abi dan Ummi meriksa keadaan dirimu ke dokter? Sengaja Abi dan Ummi memilih rumah sakit yang dilngkapi dengan peralatan USG tiga dimensi, agar kami berdua yakin tentang keadaan dirimu di alam rahim.

Apakah kau tahu hasil pemeriksaan itu, Nak? Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa pertumbuhan organmu tidak normal. Jantungmu gagal karena ada dua lubang di salah satu bilik dan salah satu serambi, dan itu cukup besar. Selain itu di paru-parumu juga mengalami asites, di mana terdapat cairan yang menggangu pertumbuhan paru-parumu.

Dengan kondisi itu, dokter menyarankan agar kami menggugurkanmu dengan alasan kesehatan. Sebab, jika kelak kau pun lahir, umurmu tidak lama. Seandainya gagal jantungmu itu dapat diobati, kelak kondisi tersebut tetap akan mengganggumu sepanjang hidupmu. Gerak-gerik dan aktifitasmu akan terganggu, tidak bisa sebebas dan selepas teman-temanmu. Begitulah yang disampaikan dokter.

Akhirnya, setelah Abi dan Ummi bermusyawarah, kami memutuskan untuk tetap mempertahankanmu. Jika kelak kau pergi meninggalkan kami, itu adalah kehendak Ilahi, bukan karena kami yang membunuhmu. Kami pun tetap berharap bahwa penyakitmu akan sembuh ketika masih di dalam kandungan dan kelak lahir dalam keadaan sehat wal afiat.

Tapi, Nak. Semakin hari Abi dan Ummi merasa bimbang. Seiring dengan semakin seringnya interaksi kami dengan dirimu, kami jadi berpikir, apakah responmu itu sebaga pertanda dirimu senang berkomunikasi dengan kami, atau malah itu sebuah isyarat bahwa dirimu menjerit dan meronta karena rasa sakit yang tak terperi.

Seandainya dirimu gembira ketika kami ajak bicara dan bermain, kami berharap kau akan selamanya berada di dalam rahim Ummi. Meski kami tak bisa melihat wujudmu, setidaknya kami dapat berbicara dan bermain-main denganmu. Namun sebaliknya, jika yang kau tunjukkan itu adalah rasa sakitmu, rasanya ingin segara diri ini melepaskanmu pergi meski kami pasti akan merasakan duka berkepanjangan.

Namun, kami tidak bisa memastikan semua itu. Semuanya di luar jangkauan pengetahuan kami. Kami hanya bisa berdoa semoga Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengasihimu dan menyayangimu dengan kasih sayang yang lebih besar daripada yang dapat kami berikan.

Nak, semoga dengan surat ini, kau kan tahu, bahwa jika kau pergi meninggalkan kami di sini, itu adalah yang terbaik untuk kita semua.

Nak, dengan surat ini pula, jika kau pergi, kami ingin kau tahu bahwa kami sangat menyayangimu dan mencintaimu.

Nak, jika kita ditakdirkan untuk berpisah di dunia ini, kami berharap kita kan berjuma di akhirat kelak. Tunggulah kami, sayang!

Nak, sebagai hadiah, kubuatkan sebuah puisi doa untukmu :

kupintakan teramat sangat
kepada Sang Pemberi ni’mat
yang tak pernah lupa kepada hambaNya walau sesaat
juga kepada keluarga dan kerabat
kawan dan juga sahabat
agar bayiku sehat dan selamat

kusampaikan pinta dalam doa
kupintakan pula permohonan yang sama
kepada sanak saudara
juga teman di manapun berada
agar engkau terlahir sempurna
tumbuh menghamba hanya kepada Allah semata
berbakti dan taat kepada orang tua
dan menjadi sebaik-baik manusia

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mungkin setelah dirimu membaca surat tersebut, kau akan memaklumi tentang sikap Abi kepadamu di saat dirimu belum lahir. Abi jarang sekali berkomunikasi denganmu baik dalam kata-kata maupun sentuhan rasa. Semua itu karena Abi khawatir dan takut akan merasakan kehilangan lagi. Namun, Abi menyadari bahwa sikap itu tidaklah benar. Kehadiranmu seharusnya tidak membuat Abi merasa takut untuk berbahagia. Apa pun yang akan terjadi esok hari, tak ada satu pun makhluk yang mengetahui, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Maha Pencipta.

Karenanya, maafkan Abi, Nak! Abi selalu menyayangimu, sampai kapan pun.

Mungkin sampai sini cerita Abi dalam surat pertama ini. Abi berjanji, Abi akan menulis surat lagi kepadamu. Abi akan bercerita tentang hal lain seperti kebersamaan kita di kebun binatang dan di mall, saat kita bersama-sama pergi ke kantor Abi dengan mengendarai sepeda motor, saat kita berpetualang dengan angkot di akhir pekan, saat kita tertawa bersama-sama di bawah siraman hujan, saat kita bersama-sama menikmati indahnya purnama dan bintang, dan juga tentang celotehmu yang mengundang senyum.

Sebelum Abi mengakhiri surat ini, Abi mengirim SMS ke Ummi untuk bertanya apakah Abi bisa bicara denganmu malam ini. Tapi rupanya malam sudah larut, dirimu sudah tidur. Namun bukan itu yang membuat Abi sedih. Abi sedih karena mendapat kabar bahwa dirimu demam sehabis berenang di sekolah kemarin.

Hanya itu yang Abi tahu tentang dirimu malam ini. Besok Abi akan datang untuk bertemu dirimu dan membawa obat penurun. Oh iyah, insya Allah besok Abi juga akan membawakan kaos berwarna hitam untukmu yang Abi beli di Aceh.

Selamat beristirahat, sayang. Semoga besok keadaanmu akan lebih baik.

Abi sayang Syaikhan

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

15 respons untuk ‘My Dearest Syaikhan : Sebuah Catatan Kebersamaan

    • jampang Maret 14, 2013 / 15:43

      indie semua, mbak 😀

    • jampang Maret 15, 2013 / 07:57

      siaaap! 😀

  1. jaraway Maret 21, 2013 / 20:04

    *ngebayangin kalo syeyan dah gedhe trus ngebaca buku ntu.. pasti haru..hhehe

    • jampang Maret 22, 2013 / 05:16

      semoga saja bisa jadi buku beneran dan syaikhan bisa baca sehingga tahu kalau Abinya sayang dia meski jarang ketemu

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s