Standar Ganda!

Suatu Sore di Cipulir

Jumlah kendaraan yang merayap sepertinya tidak akan berkurang, malah bertambah. Kawasan ini memang terkenal dengan kemacetannya pada jam-jam sibuk, baik di pagi hari ketika sebagian besar masyarakat akan memulai aktifitasnya, maupun di sore hari ketika para pekerja dan karyawan pulang dari kantor dan tempat bekerja lainnya.

Sore itu saya sedang mengendarai sepeda motor searah dengan kendaraan dari Ciledug – Petukangan ke arah Kebayoran lama untuk kemudian memutar karena akan membeli sesuatu di tempat yang lokasinya berada di seberang jalan. Jalur yang saya lalui tidak semacet jalur di sebelahnya. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh para pengendara motor yang berlawanan arah dengan saya untuk ‘menguasai’ sebagian jalan di jalur yang lebih sepi agar bisa lebih cepat. Sudah pasti kejadian ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi para pengendara lain, termasuk saya.

Dengan perlahan saya mencoba menyeberangi jalan, mengambil lajur kanan bersebelahan dengan pembatas jalan. Di depan saya, para pengendara motor berjalan berlawanan arah. Tidak nyaman, itu yang saya rasakan. Tapi apa boleh buat, saya harus tetap melewati jalan ini.

Tiba di putaran, saya berhenti sejenak, menunggu kesempatan untuk bisa memutar dengan aman.

Seorang pejalan kaki yang kebetulan berada di belakang saya memberikan komentar yang terdengar di telinga saya, “Bukan jalurnya koq dipake!”

Dalam hati saya sangat setuju dengan komentar orang tersebut, karena saya tidak merasa nyaman bila di hadapan saya para pengendara motor melaju berlawanan arah.

Tapi kemudian saya teringat kejadian beberapa hari sebelumnya. Ternyata saya pernah melakukan hal yang sama dengan para pengendara motor tersebut. Untuk mengejar waktu, saya mengikuti para pengendara untuk berjalan melawan arus lalu-lintas. Tanpa rasa bersalah, tanpa memperdulikan apakah para pengguna jalan dan pengendara lain merasa nyaman atau tidak.

Saya tidak setuju bila orang lain melakukan hal tersebut, tetapi di lain waktu, ketika saya melakukan hal tersebut, saya tidak merasa bersalah sama sekali. Sebuah standar ganda…

Mungkin ini hanya satu dari sekian standar ganda yang pernah saya buat, atau bahkan yang masih saya gunakan dalam goresan hidup saya. Namun saya berharap, akan berkurang. Setidaknya, saat ini saya tidak pernah berniat untuk menggunakan Trans Jakarta kecuali saat terpaksa karena saya berada di tenga-tengah kendaraan lain sehingga mnyulitkan saya untuk menghindari jalur Trans Jakarta.

bagai nyiur tertiup angin
bergerak tanpa kepastian
begitulah hatiku
ketika selalu mengikuti arus kehidupan
kemana saja ingin membawa

kumencoba
melawan
menentang
namun tak kuasa

tetapkan…
tetapkanlah hatiku

kuatkan …
kuatkanlah jiwaku

22 respons untuk ‘Standar Ganda!

  1. ibuseno Maret 21, 2013 / 10:12

    Orang Ciledug / pemakn ciledug raya sudah biasa itu mas begituuu hihihi..
    ah aku juga suka menerapkan standar ganda dalam hal penggunaan jalan .. susaaah

    • jampang Maret 21, 2013 / 15:00

      masih macet ya, teh?
      wah…. sama ternyata yah…. xixixixixixi

      • ibuseno Maret 21, 2013 / 17:49

        masii… selalu macet di situ mah Mas

      • jampang Maret 21, 2013 / 18:42

        kalau ke ciledug biasanya saya nggak lewat situ…. saya lewat pos pengumben nanti nembusnya sudah di petukangan

      • ibuseno Maret 21, 2013 / 22:10

        sama mas.. saya juga udah lama banget ga lewat cipulir, pasti lwt pos pengumben, joglo..kostrad luruuuus

      • jampang Maret 22, 2013 / 05:17

        yup… lebih lancar

  2. Ina Maret 21, 2013 / 13:50

    standar ganda diperbolehkan? ngliat sikon kali yah. secara the jure salah. tapi… jika utk alasan/ hal2 yg menyangkut hidup mati mgkin boleh kali yah. ih tapi ya masak sampe hidup mati…

    • jampang Maret 21, 2013 / 15:02

      yang menyangkut hidup mati itu apa, mbak?
      kalau contohnya…. ketika kita kelaparan dan tidak ada yang bisa dimakan kecuali binatang babi yang haram, mungkin bisa jadi halal…. tapi cuma untuk menyambung hidup doank…. bukan untuk seterusnya. apa pernah nemuin yang kondisinya seperti itu?

      • Ina Maret 23, 2013 / 10:19

        ihh bukan yg contoh babi gituu..
        jadi ngelanggar lalu lintas karena emang ada yg urgent. misal nyari sekantung darah buat sodara kita yg sakit trus buru2… yah udah gpp terpaksa langgar lalu lintas.

        keburu2 istri mau melahirkan dirumah, gawat. nah ntar bilangi pak polisi kondisi ini seandainya ketangkep. dimaklumi deh

      • jampang Maret 23, 2013 / 10:24

        oooo….. contohnya jauh banget yah 😀

        kalau itu bisa pake ambulance… ambulance kan dapat hak istimewa, harus didahulukan dan boleh lewat jalur trans jakarta

  3. rinasetyawati Maret 21, 2013 / 13:59

    iya bener banget ini, kadang suami suka ngomel kalo ada motor lain nyerobot, tapi langsung diem saat saya ingatkan, aah kemarena juga pernah kaya gitu hehehe…..

    • jampang Maret 21, 2013 / 15:03

      telak banget itu, mbak….. 😀

  4. eka pujiyanti Maret 21, 2013 / 17:46

    waaa om jampang bisa nakal juga toh 🙂 *pisss

    • jampang Maret 21, 2013 / 18:42

      ya bisa donk, mbak…… *bangga…. lho?*

  5. jaraway Maret 21, 2013 / 19:58

    tsaaah dah mulai puisi lagi nih..ahaha

    emang tabiat manusia ya.. ga mau susah..hihi

  6. thetrueideas Maret 22, 2013 / 10:30

    saya sukanya standar samping #eh 🙂

    • jampang Maret 22, 2013 / 14:46

      saya juga kalau baru turun pake standar samping dulu… baru pake standar ganda 😀

  7. thebimz Maret 22, 2013 / 13:53

    saya juga kadang gitu mas, kalo naik motor

    • jampang Maret 22, 2013 / 14:47

      soalnya kalau naik mobil nggak akan bisa…. 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s