Kenanglah yang Indah… Kenanglah yang Indah…

love-heart-lollySayang, kamu pasti masih ingat dengan ceritaku sebelumnya yang berisi permintaanku agar dirimu menjadikanku sahabatmu di duniamu dan akhiratmu. Kuyakin, dirimu pastilah menginginkan hal yang sama. Bukankah begitu?

Sayang, salah satu cara untuk mewujudkan keinginan kita itu adalah mengenang hal-hal yang indah yang pernah terjadi di antara kita berdua dan mengubur dalam-dalam tentang hal-hal buruk yang pernah terjadi di antara kita. Karena sesungguhnya, di dalam hubungan yang kita jalani akan ada pasang-surutnya, akan hadir masa tegang dan masa tenang, akan bergilir masa indah dan masa gundah, akan berganti masa suka dan masa duka.

Dirimu pasti masih ingat dengan sebuah nasihat tentang siapa diriku dan siapa dirimu ketika menikah. “Kita tidaklah menikahi malaikat atau syetan”, begitulah intinya. Aku dan kamu tidaklah menikahi malaikat yang selalu berbuat baik setiap saat. Aku dan dirimu juga tidak menikahi setan yang setiap waktu selalu berbuat kesalahan. Aku dan dirimu menikahi seorang anak manusia, yang terkadang berbuat baik, namun adakalanya melakukan kesalahan. Karenanya, kenanglah yang indah-indah di antara semua yang terjadi di antara kita berdua.

Aku teringat tentang cerita dua orang sahabat, sebut saja Si A dan Si B, yang sedang melakukan perjalanan. Suatu ketika, terjadi pertengkaran di antara keduanya, bahkan Si A memukul wajah Si B hingga merasa kesakitan.

Si B kemudian menulis sebuah kalimat di atas pasir, “Hari ini, sahabatku telah menyakitiku.”

Lalu keduanya kembali melakukan perjalanan.

Di lain hari, Si A terpleset dan jatuh ke sungai. Dirinya tak bisa berenang. Dengan sigap, Si B langsung melompat ke sungai dan menyelamatkan Si A.

Beberapa saat kemudian, Si A mengukir sebuah kalimat di atas batu, “Hari ini, sahabatku telah menyelamatkanku.”

Apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu membuat Si B bertanya kepada Si A, “Kenapa ketika Aku memukulmu, kamu menulis kalimat di atas pasir, sedang ketika Aku menyelamatkanmu, kamu mengukir kalimat di atas batu?”

Si A pun menjawab, “Ketika Aku menulis kalimat ‘Hari ini, sahabatku telah menyakitiku’ di atas pasir, itu karena Aku ingin segera melupakannya dari hatiku secepat angin atau hujan yang menghapus kalimat tersebut dari atas pasir.”

“Sedangkan ketika Aku mengukir kalimat ‘Hari ini, sahabatku telah menyelamatkanku’ di atas batu, itu karena Aku tak ingin melupakan kebaikanmu itu, seperti kalimat di atas batu itu yang takkan terhapus oleh tiupan angin atau pun siraman hujan,” sambung Si A.

Sayang, dari cerita tentang kedua sahabat itu yang mungkin bisa kita tiru dalam perjalan hidup kita adalah, kenanglah yang indah-indah. Apakah dirimu sepakat denganku?

Sekarang, marilah kita mengenang peristiwa yang indah-indah yang pernah kita lalui bersama.

Masih ingatkah dirimu, ketika kita duduk-duduk di atas ayunan di tepi pantai beberapa hari setelah pernikahan kita? Kita biarkan hembusan angin yang menyapa tubuh kita ikut merasakan getaran indah yang terjadi di hati kita saat itu. Kita tak banyak bicara, hanya menikmati keindahan yang terjadi. Bahagia.

Lalu Aku membelikan es krim yang dibawa pedagang keliling yang ternyata hanya tersisa satu cup saja. Kita pun menikmatinya berdua, dari wadah yang sama, secara bergantian. Romantis bukan? Indah bukan? Itu adalah kali kedua kita makan atau minum dari wadah yang sama. Kali yang pertama juga tak kala romantis dan indahnya, yaitu ketika kita menikmati segelas susu di malam zafaf.

Masih ingatkah dirimu, ketika kita berebut minum air kelapa langsung dari buahnya karena tak sanggup lagi dengan pedasnya mie ayam yang kita santap? Tak ada rasa kesal atau marah saat itu meski salah satu di antara kita mendapatkan air kelapa lebih banyak. Yang ada hanya tawa yang lepas manakala air kelapa sudah tiada sementara mulut kita masing-masing masih menyedot kuat. Indah bukan?

Masih ingatkah dirimu ketika diriku dan dirimu kehujanan di atas sepeda motor? Kita berdua yang tidak mengenakan jas hujan kala itu sepakat untuk tetap melaju dan menikmati sapaan rintik hujan yang menambah indah suasana perjalanan pulang ke rumah. Romantis bukan?

Masih ingatkah dirimu, ketika untuk pertama kalinya kamu menggunting kuku jemariku? Dengan penuh kesabaran dan hati-hati, dirimu menggunting kuku di kesepuluh jari tanganku. Sungguh, itu adalah suasana indah bagiku. Berlaku jugakah suasana itu bagimu?

Maka, kenanglah yang indah-indah…


Baca Juga Cerita Samara Lainnya :

21 thoughts on “Kenanglah yang Indah… Kenanglah yang Indah…

  1. tinsyam Maret 30, 2013 / 22:43

    baiklah, selalu kenang yang indahindah..

    • jampang Maret 31, 2013 / 05:18

      iya mbak…. lebih enak gitu katanya🙂

  2. sabda awal Maret 31, 2013 / 06:49

    wah, mas ini bikin saya makin galau saja. Jika begini ingin rasanya cepat menikah, menikah muda… hahaha soalnya saya tidak pacaran. Salam kenal ya mas…

    • jampang April 1, 2013 / 05:47

      jika sudah ada kemampuan dan ada yang dilirik, datangi aja rumahnya, kenalan dan kenalin diri ke orang tuanya. cocok…. lamar…. nikah😀

      salam kenal juga, mas

    • jampang April 1, 2013 / 05:53

      iy teh🙂

  3. jaraway April 2, 2013 / 20:37

    baiklah.. *loh.. hahaha

    • jampang April 2, 2013 / 20:56

      sipppplah….. *eh…

    • jampang April 4, 2013 / 13:56

      nangis kenapa?
      bukannya kenangannya indah 🙂

    • Julie Utami April 24, 2013 / 17:22

      Ih……… kenapa nih ada raja narsis bisa nangis?

      • jampang April 25, 2013 / 18:59

        emang ada yang nangis, bunda?

    • Julie Utami April 25, 2013 / 19:27

      Lha itu the king of narcism yang ngakunya paling nggantheng sedunia itu lho bilangnya “bikin nangis”😀

      • jampang April 29, 2013 / 05:46

        eh iya yah…. bisa nangis juga rupanya… xixixixixixi

    • jampang Agustus 13, 2014 / 13:46

      kira-kira begitu😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s