My Dearest Syaikhan : Ini Aku, Bi!

syaikhan_piala_lomba_shalat@2013-03-31

Assalaamu ‘alaikum, Syaikhan!
Apa kabarmu hari ini?
Semoga dirimu selalu berada dalam limpahan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Syaikhan, ada satu perubahan data perkembangan dirimu yang Abi tangkap di pertemuan kita beberapa waktu lalu atau bahkan di malam sebelumnya ketika kita berbicara melalui telepon.

“Abi, Aku ke Madura.”

Kalimat itu yang membuat Abi agak kaget sejenak. Ya, dirimu menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti dirimu. Abi baru mendengar dirimu mengucapkannya malam itu dengan jelas. Sebelumnya, sejak dirimu bisa menyebut namamu, kamu selalu menggunakan “Syeya”, lalu beruba menjadi “Syeha”, dan berubah lagi menjadi “Syehan.”

Ada rasa kurang sreg di hati Abi ketika dirimu berucap demikian. Mungkin karena selama ini, Abi tidak pernah menggunakan “aku” sebagai kata ganti diri. Abi biasa menggunakan nama Abi ketika berbicara dengan Nenek dan Kakekmu. Dengan spontan, Abi pun langsung balik bertanya.

“Siapa yang ke Madura?”

Abi berharap dirimu menyebut namamu. Tapi tidak demikian.

“Aku!” Jawabmu.

Abi pun mengulangi lagi dengan pertanyaan yang lebih singkat.

“Siapa?”

Dan akhirnya dirimu pun menyebut namamu.

“Syehan!”

Syaikhan, sepertinya Abi terlalu memaksa jika memintamu untuk selalu menggunakan namamu ketika berbicara dengan Abi. Bisa jadi, penggunaan “aku” adalah salah satu dari tahap perkembangan dirimu. Sayangnya Abi tidak selalu bisa mengikuti setiap detik perkembangan dan pertumbuhanmu. Maafkan, Abi.

Abi juga merasa tidak pantas memintamu melakukan apa yang Abi inginkan. Ada hal yang membuat Abi khawatir. Khawatir jika dirimu akan memprotes permintaan itu. Karena Abi hanya bertemu denganmu sekali dalam sebulan atau bahkan lebih lama. Itu pun dengan jadwal yang tidak pasti.

Syaikhan, ada yang mengatakan bahwa sebaiknya, sebagai orang orang tua tidak mengajarkan anak menyebut namanya untuk merujuk ke dirinya sendiri. Lebih baik menggunakan “aku” atau “saya”. Katanya, hal yang demikian itu akan membuat sang anak lebih dewasa. Karena secara psikologis, jika seorang anak menyebut namanya sendiri untuk merujuk kepada dirinya, itu akan membuat dia manja dan tidak mandiri dalam segala hal ketika dia dewasa. Namun demikian, ada juga yang menyatakan bahwa penyebutan nama diri akan menjadikan pergaulan menjadi lebih akrab.

Entahlah. Terus terang, Abi tidak memiliki pengetahuan tentang hal ini. Abi masih harus banyak belajar. Pesan Abi, yang terpenting dari parafraf di atas adalah jangan mempercayai sesuatu jika hanya berdasar “katanya”. Jika dirimu besar nanti, dan menemukan suatu perbuatan atau informasi yang berdasarkan “katanya”, telitilah terlebih dahulu. Carilah dasar yang kuat sebelum dirimu mempercayainya. Apalagi jika perbuatan atau informasi itu terkait dengan ibadah. Karena sebuah ibadah, harus ada dasar yang kuat. Tanpa dasar, ibadah sebanyak apa pun akan tertolak.

Ke mana kamu harus bertanya?

Kamu bisa bertanya kepada ummi. Kamu boleh bertanya kepada Abi. Dengan senang hati Abi akan menjawab jika memang Abi tahu jawaban dari pertanyaanmu itu. Jika Abi belum tahu, Abi akan mengajakmu bersama-sama untuk mencari tahu jawabannya. Kamu setuju?

“Abi boleh ke kamar Aku!”

Ucapmu di siang itu di saat kita bertemu. Ya, Abi mendengar lagi dirimu mengucapkan “aku”. Tak apa. Abi akan membiasakan diri. Kelak, seiring dengan bertambahnya usiamu, kamu akan tahu tentang penggunaan kata “aku” yang baik dan benar. Suatu saat nanti kamu akan mengetahui bahwa kalimat yang kamu sebutkan itu kurang tepat. Yang tepat adalah “Abi boleh ke kamarku!”. Sebab “Aku” adalah subyek, letaknya di depan. Jika menunjukkan posesif atau kepemilikan akan berubah menjadi “ku” dan letaknya di belakang kata benda. Itu sedikit pengetahuan yang Abi pernah dapat dan Abi sampaikan kepadamu. Semoga bermanfaat.

Sekian surat dari Abi. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi dalam waktu dekat.

Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh.

20 respons untuk ‘My Dearest Syaikhan : Ini Aku, Bi!

  1. diah indri April 19, 2013 / 17:56

    Oh ini pelajaran EYD buat syaikhan 🙂

    • jampang April 20, 2013 / 20:41

      sekalian…. 😀

  2. nengwie April 19, 2013 / 18:58

    Pernah duluu ditanya tuh waktu teteh bilang misalnya begini : “sama Wie ajaaa” tanyanya “siapa itu Wie?” lha teteh jawab “saya” 😀

    Eeeh Syaikhan makin ganteeeng, udah gede yaaah.. Ngga berasa.

    • jampang April 20, 2013 / 20:43

      xixixixi…. belum kenal nama kali teh

      alhamdulillah, syaikhan sudah bertabah besar…. kalau ganteng… nurunin abinya kali yah… 😀

      • nengwie April 20, 2013 / 21:24

        Eheeeem…eheeeemm.. Siapa yg ganteng? Siapa? 😀 oohh Syaikhan kalo makin gede :p

        Eeh itu malah kakek sendiri lhoo kadang paman juga tuh suka tanya begitu hehehehe

      • jampang April 21, 2013 / 13:41

        kalau bukan diri yang muji, siapa lagi teh…. 😀

    • jampang April 20, 2013 / 20:44

      terima kasih, kang …. xixixixixi

  3. Iwan Yuliyanto April 19, 2013 / 23:48

    Sebaiknya memang diajarkan jangan menyebut pakai istilah “Aku” tapi sebut namanya: “Syaikhan”.
    Pelan-pelan dan penuh kesabaran meluruskannya, mas 🙂

    • jampang April 20, 2013 / 20:36

      insya Allah, Pak.
      mengenai pargarf yang mengatakan kalau menyebut nama itu nantinya si anak akan manja dan nggak mandiri, pernah dengar, Pak?

  4. RY April 20, 2013 / 00:37

    Syiakhan lagi jalan-jalan ke Madura ??

    • jampang April 20, 2013 / 20:37

      sudah pulang, mbak. itu syaikhan cerita waktu ketemuan beberapa waktu yang lalu

      • RY April 26, 2013 / 19:39

        Ohh yg waktu itu diposting ya Pak 🙂

      • jampang April 27, 2013 / 18:45

        iya, betul

  5. titintitan April 20, 2013 / 04:22

    dikeluarga juga gda yg pake aku, rata2 nama ;d

    • jampang April 20, 2013 / 20:38

      sama donk 😀

  6. Novi Kurnia April 20, 2013 / 11:21

    Berarti ke-diri-an syaikhan mulai muncul. Imho, Orang jawa jg bilang “kulo(aku)” saat bicara dg ortunya. Pdhal tata krama jawa terkenal mengedepankan sopan santun.

    • Novi Kurnia April 20, 2013 / 14:59

      Atau mgk syehan terpengaruh sinetron. Cek tontonannya, mas.

      • jampang April 20, 2013 / 20:41

        kalau ketemuan, saya seringnya diajak nonton power ranger 😀

        soalnya sabtu atau minggu siang jarang ada sinetron, kalau malam saya kurang tahu

    • jampang April 20, 2013 / 20:39

      iya mbak. karenanya saya tidak langsung protes, lihat perkembangannya dulu. mengarahkannya mungkin, kapan dan bagaimana menggunakan “aku” atau “saya” atau mungkin nama diri sesuai dengan tempatnya.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s