Mungkin Kamu Bukan Jodohku

Apakah kamu cantik? Manis? Aku tidak bisa menjawabnya. Kita belum pernah bertemu. Namun yang ada di dalam bayanganku adalah, sosokmu mungil, jika boleh aku mengatakan demikian. Sebab jika dibandingkan dengan rekan-rekanmu, ada yang bertubuh lebih tinggi daripada dirimu. Namun yang terpenting bagiku adalah, bahwa dirimu bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan, bagi tubuhku, untuk jiwaku, kepada hatiku.

*****

broken-houseTahun 2012, mungkin adalah tahun di mana saya mendapatkan rezeki, dalam hal ini berupa materi, yang lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah, semoga saja Allah tidak menjadikan rezeki tersebut dan rezeki lainnya yang tidak terhitung sebagai istidraj. Na’udzu billaahi min dzaalik.

Dengan limpahan rezeki tersebut saya bisa melunasi hutang-hutang saya. Saya pun bisa kembali menabung. Kebiasaan yang sempat saya tinggalkan selama beberapa waktu. Di awal tahun ini pula, saya bisa membayar zakat maal dan bermaksud untuk memiliki sebuah rumah.

Ibu saya mempunyai harapan besar agar saya bisa memiliki sebuah rumah. “Biar bekelime”, ucap ibu saya dalam bahasa betawi yang kurang lebih artinya kelihatan atau berwujud, bahwa rumah itu adalah hasil jerih payah saya bekerja sekian tahun.

Sebelum awal tahun, saya sudah mencari-cari rumah yang sesuai dengan budget dan plafon pinjaman di bank syariah. Ternyata dari sekian rumah yang sempat saya lihat, tidak ada satu pun yang memenuhi semua ketentuan bank. Ada yang harganya bisa saya jangkau dengan bantuan pinjaman bank, tetapi letaknya di dalam gang kecil, sementara bank mensyaratkan bahwa letak rumah harus di pinggir jalan yang bisa dilalui mobil. Ada rumah yang letaknya di pinggir jalan, namun harganya jauh di atas harga yang bisa dikabulkan bank. Jadilah saya menunda pembelian rumah selama beberapa waktu.

Hingga beberapa waktu kemudian, adik saya yang sudah memulai untuk mencicil rumah memberitahukan saya bahwa ada perumahan baru yang sedang di bangun yang letaknya tak jauh dari lokasi rumah barunya. Dengan penuh semangat, saya pun datang ke lokasi bersama ibu saya dengan mengendarai sepeda motor. Waktu tempuh ke lokasi kurang lebih 30-45 menit.

Tiba di kantor pemasaran, saya langsung melihat-lihat brosur, tanya ini dan itu kepada pegawai pemasaran, serta meninjau lokasi di mana rumah nantinya akan di bangun.

Setelah melihat-lihat, saya jatuh hati ke sebuah rumah yang nantinya akan berlokasi di blok D-1. Bangunannya tidak besar, mungkin tipe terkecil di antara rumah-rumah yang akan dibangun nantinya, tetapi pekarangannya sangat luas serta bersebelahan dengan musholla nantinya. Terlebih lagi, saat saya datang adalah masa poromosi, di mana uang muka bisa dicicil selama enam kali dan cashback sebesar sekian juta. Jadilah hari itu, tanggal 24 Desember 2012, saya membayar booking fee.

Saya senang. Ibu saya pun demikian. Bahkan karena senangnya, ibu saya berkomentar bahwa naik motor sejauh itu tidak terasa cape dan pegal :-D.

Seminggu kemudian, saya membayar cicilan uang muka pertama. Sebab jika tidak saya lakukan, booking fee yang sudah saya bayar me.jadi hangus. Saya pun menyerahkan berkas atau dokumen persyaratan. Lengkap. Selanjutnya menunggu proses.

Ketika ada paneran property di JCC, pegawai pemasaran meminta agar saya datang ke acara tersebut untuk proses wawancara sekaligus mendapatkan promo cicilan dengan bunga sebesar 7,49% selama dua tahun pertama.

Saya pun datang ke acara tersebut pada tanggal 10 Februari 2013. Surat keterangan bahwa saya mendapatkan promo cicilan sudah di tangan.

Namun ada yang mengganjal di hati saya ketika saya mendengar jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan kepada petugas bank yang bekerja sama dengan developer.

“Jika selama dua tahun dengan bunga cicilan 7,45% saya membayar sekian juta per bulan, berapa cicilan saya nantinya di awal tahun ketiga?”

“Saat ini saya tidak bisa memberi jawaban pasti, Pak. Itu tergantung tarif yang ditentukan nanti.”

“Kalau dikira-kira kemungkinan bisa berapa persen?”

“Kalau melihat yang sudah-sudah, pembeli yang dua tahun lalu mendapatkan promo seperti Bapak, sekarang ini bunga cicilannya sekitar 12%.”

“Waduh, jadi ada kemungkinan cicilan saya lebih besar di tahun ketiga dong?”

“Itu tergantung dari perhitungan porsi pokok dan bunga yang sudah Bapak bayar selama dua tahun.”

Seketika semangat saya untuk melanjutkan proses pembelian rumah menjadi menurun. Namun pembayaran cicilan uang muka tetap saya lakukan.

Hingga setelah saya membayar cicilan uang muka keempat, pegawai pemasaran mengabarkan kepada saya bahwa pihak bank telah menghilangkan berkas-berkas yang sudah saya berikan secara lengkap. Jika aplikasi saya ingin diproses maka saya diminta untuk menyerahkan berkas-berkas tersebut lagi.

Kekecewaan saya memuncak. Karena merasakan pelayanan yang tidak profesional, saya pun memutuskan untuk membatalkan pengajuan kredit meski saya sudah pasti rugi. Booking fee hangus.

Pihak bank sempat menghubungi saya dan meminta saya melanjutkan pengajuan kredit dengan alasan bahwa track record saya bagus sebagaimana konfirmasi dari BI. Tetapi karena saya sudah terlanjur kecewa, saya tetap membatalkan pengajuan kredit. Pihak bank sempat meminta maaf akibat keteledoran pegawainya.

Pegawai pemasaran kemudian menghubungi saya untuk meminta waktu untuk mencari berkas saya tersebut.

Satu minggu, itu jangka waktu yang saya berikan.

Dan setelah satu minggu, berkas saya tetap tidak ditemukan. Jadi pengajuan kredit saya, tetap batal.

Ibu saya, meski kecewa, namun akhirnya memaklumi apa yang saya putuskan. Apalagi kemudian ibu saya sempat berpikir jika sebaiknya saya memiliki rumah yang tidak jauh dari tempat ibu tinggal. Demikian pula keinginan encing-encing saya. Tentunya keinginan itu didaasari pada beberapa hal.

Bagaimana nasib uang muka yang sudah saya cicil sebanyak empat kali? Pihak developer akan mengembalikan dalam jangka waktu tiga bulan, mungkin dengan cara dicicil. Saya pun dirugikan dengan cara ini. Mudah-mudahan pihak developer tidak ingkar janji. Jika sampai ingkar janji, mungkin saya akan mengancam, “Bapak kembalikan segera, atau silahkan pilih, saya adukan ke YLKI, saya buat surat pembaca di koran atau media online, atau saya sumpahin?”

*****

Ada yang mengatakan bahwa, mencari rumah itu seperti mencari jodoh. Mungkin dengan cara-cara yang kutempuh ada yang kurang pas sehingga harus putus di tengah jalan. Mungkin aku dan dirimu memang tidak berjodoh. Semoga beberapa waktu ke depan, aku akan mendapatkan rumah yang menjadi jodohku. Sementara dirimu pun akan bertemu pembeli yang akan menjadi jodohmu.

25 respons untuk โ€˜Mungkin Kamu Bukan Jodohkuโ€™

  1. jaraway April 28, 2013 / 19:01

    settingannya balik ke quote lagi deh pak.. jadi susah diklik di reader.. hihi
    *oot

    • jampang April 28, 2013 / 19:32

      hiks… defaulnya koq statusnya…. belum tahu caranya setting biar defaultnya standar

    • jampang April 28, 2013 / 19:32

      xixixixi…. rumahnya yang patah… lihat aja gambarnya ๐Ÿ˜›

  2. diah indri April 28, 2013 / 20:05

    Sy jg pernah booking fee hangus 4/5jt ya wktu itu ๐Ÿ˜ฆ
    Problemnya krn suami hrus tubel ke jogja perurusan jadi ribet klo hrus ke sulawesi lg, akhirnya di iklaskan saja n tabungan buat beli rumah dibelikan kebun cengkeh. Smp skrg blm punya rumah deh ๐Ÿ˜ฆ

    Malah diajak melanglang indonesia kesana kemari sm suami. Smua ada hikmahnya, mgk tempat itu g baik buat pak rifki nantinya

    • jampang April 28, 2013 / 20:10

      iya mbak. sepertinya saya sering bermasalah kalau berurusan sama bank konvensional. ambil sisi positifnya, saya jadi nggak punya hutang ๐Ÿ˜€

      mudah2an nanti rezeki kita dapat rumah yang lebih baik dibandingkan yang nggak jadi… insya Allah… aamiin

  3. nazhalitsnaen April 28, 2013 / 21:05

    hmmm jadi teringat juga pesen beberapa pegawai senior sini untuk mempersiapkan lebih dini untuk punya rumah..

    dan hikmahnya juga harus hati2 yo mas untuk pilih rumah yang diinginkan serta mekanisme pembayarannya.,,,

    • jampang April 29, 2013 / 05:39

      teliti sebelum membeli. tapi sepertinya kalau di bank konvensional, daftar cicilan yang di brosur itu cuma berlaku dua tahun pertama aja. tahun berikutnya berubah, wallaahu a’lam

  4. diah indri April 28, 2013 / 21:13

    ุขู…ููŠู‘ู†ู’… ุขู…ููŠู‘ู†ู’ ุขู…ู‘ููŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุงุฑูŽุจู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ

    Kata guru ngaji saya kalau ambil di bank syariah g pke sistem bunga, kesepakatan awal brp trus tinggal dicicil.
    Gambarannya kyk org kontrak rumah, byrnya tetep g berubah krn suku bunga trus lama2 rumah jadi milik kita.

    • jampang April 29, 2013 / 05:41

      iya mbak. aqadnya jual beli. saya sudah pernah melakukannya. meskipun yang saya beli bukan rumah tapi bahan bangunan dan ongkos tukang untuk renovasi

    • jampang April 29, 2013 / 05:42

      iya kang…. imut tapi tidak tengil… xixixixixi

      • jampang April 29, 2013 / 11:27

        ๐Ÿ˜€

  5. Novi Kurnia April 28, 2013 / 22:07

    Walah, kirain. Pembelajaran buat sy. Tp itu foto rumahnya kok bertingkat? Tinggi, dong.

    • jampang April 29, 2013 / 05:43

      rumah aslinya mah belum jadi mbak. itu saya nyari di google terus saya otak-atik ๐Ÿ˜€

  6. Abi Sabila Mei 15, 2013 / 13:24

    sabar, Bang. Terus berikhtiar, dan berdoa semoga segera dipertemukan dengan ‘jodoh’ yang diidamkan.

    • jampang Mei 15, 2013 / 16:48

      aamiin… terima kasih, mas

  7. danirachmat Januari 29, 2014 / 14:35

    Weh-weh-weh. Itu bisa sampe hilang gimana ceritanya. Eh sudah balik kan mas uang mukanya?

    • jampang Januari 29, 2014 / 14:46

      sama seperti postingan harta karun… pergantian pegawai ๐Ÿ˜€

      alhamdulillah, dibalikin dengan tiga kali nyicil…. kayanya saya buat juga postingannya ๐Ÿ˜€

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s