Janganlah Terlalu Memaksa, Sayang!

Filesystem-file-broken-iconSal, apakah dirimu pernah merasakan sebuah keterpaksaan? Bila pernah, bagaimana rasanya? Apakah menyenangkan? Sepertinya tidak, benarkan? Sesuatu yang sebenarnya indah, bila dipaksakan bisa jadi hilang keindahannya, seperti kalimat candaan seorang kawan, “Kawin juga kalau dipaksa, nggak enak!”

Semuanya akan indah pada waktunya. seperti itulah kalimat yang sering kudengar dan mungkin dirimu juga sering mendengarnya, atau bahkan kita berdua pernah mengucapkannya. “Pada waktunya”, tidak lebih cepat, pun juga tidak lebih lambat. Itulah yang menjadikannya indah.

Mungkin kamu sudah bisa menerka ke arah mana pembicaraanku kali ini. Benar, aku sedang membicarakan kegagalan usaha kita untuk memiliki sebuah rumah yang sama-sama kita idamkan.

Kita pernah berkhayal tentang rumah yang ingin kita miliki, sebuah rumah yang tidak besar namun memiliki halaman yang luas, entah di depan, di samping, atau di belakang, atau mungkin di semua sisi.

Di pekarangan tersebut, dalam versimu, ingin kau buatkan taman. Tanahnya dilapisi dengan rumput gajah mini. Di beberapa bagian terdapat undakan. Lalu ada Pohon Mirten yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk aneka binatang. Di sekeliling beberapa Pohon Mirtem tersebut ditanami Pohon Pangkas berwarna kuning, sementara di sebagian lainnya ditanami Pohon Krokot yang berwarna ungu. Kau juga akan menanami taman itu dengan beberapa Pohon Soka berbunga merah dan pink. Sebuah taman yang penuh warna dengan segala keindahannya. Dirimupun berencana, di tengan taman atau di salah satu sudut taman akan dibuat sebuah kolam lengkap dengan air terjun kecil.

“Setiap pagi, setiap kali kita membuka jendela kamar, kita akan disambut dengan pemandangan taman nan indah serta gemericik air yang menyegarkan. Indah kan, Bang?”

Aku tersenyum mendengar cita-citamu tentang rumah kita. Lalu giliranku bercerita tentang rumah yang kuidamkan.

Sama sepertimu, Sal. Aku menginginkan rumah yang tidak terlalu besar namun berhalaman luas. Sama seperti keinginanmu juga, aku menginginkan halaman tersebut berwarna hijau dengan tanaman rumput yang lebat tapi tidak meninggi. Aku sependapat denganmu, gajah mini cocok untuk halaman kita.

Bedanya, aku tak ingin membuat taman. Aku ingin halaman rumah kita ditanami dengan aneka pohon yang menghasilkan buah. Mulai dari mangga, rambutan, jeruk, hingga kecapi dan pohon buah yang sudah jarang ditemukan lagi keberadaannya. Aku ingin anak-anak kita tidak hanya tahu bentuk dan rasa buahnya tetapi juga tahu bagaimana rupa pohonnya.

“Juga sebagai persiapan,” tutupku di akhir cerita keinginanku.

“Persiapan apa?” Tanyamu dengan wajah heran, tapi tetap manis.

“Persiapan kalau-kalau kamu ngidam dan ingin buah tertentu, aku tidak perlu susah-susah mencari, cukup ke halaman rumah saja dan tinggal petik!” Jawabku sambil tertawa.

Mendengar jawabanku, kamu langsung memukul tubuhku dengan gulingmu. Lalu kita tertawa bersama.

Itulah khayalan, atau tepatnya cita-cita kita. Memang kita harus punya cita-cita agar hidup kita lebih bersemangat. setelah cita-cita kita miliki, maka selanjutnya adalah berusaha untuk mewujudkannya. Tentunya sesuai dengan kemampuan maksimal yang kita punya. selebihnya, adalah hak Allah untuk mengabulkan di masa mendatang, menundanya, atau tidak mengabulkannya dan mengganti dengan sesuatu yang lain.

Itulah yang kita lakukan beberapa waktu yang lalu. Kita telah mengumpulkan sejumlah uang dalam bentuk tabungan yang memang kita persiapkan untuk membeli sebuah rumah. Jumlah uang yang kita miliki memang masih jauh dari harga sebuah rumah jika dibeli secara tunai. Jumlah tersebut hanya cukup sebagai uang muka saja. Karenanya kita membutuhkan pihak ketiga untuk membantu mewujudkan keinginan kita tersebut. Selisih antara harga rumah dengan uang muka yang sudah kita persiapkan, akan kita bayar dengan mengangsur selama sekian belas tahun. Dengan kata lain, selama kurun waktu tersebut kita akan memiliki hutang.

Rumah yang sesuai dengan kondisi keuangan kita pun tidak sama persis dengan apa yang kita idam-idamkan. Kita pun sepakat untuk menurunkan ukuran luas tanah dan bangunan. Tak ada halaman luas yang nantinya bisa kita jadikan taman atau ditanam dengan aneka pohon buah-buahan. Tak apa, yang penting kita memiliki rumah sendiri, begitulah keinginan kita bersama.

Tahap demi tahap telah kita lalui. Semua dokumen persyaratan sudah kita lengkapi. Kemungkinan besar pengajuan kredit kita akan disetujui bank. Begitulah janji yang kita dengar.

Namun beberapa hari yang lalu, kita mendapat berita bahwa berkas dokumen yang telah kita serahkan ternyata hilang atau dihilangkan oleh pihak bank. Kecewa. Itu yang aku rasakan atas tidak profesionalnya pihak bank dalam menjaga berkas dokumen kita. Mungkin berkas tersebut tidak berharga, tetapi tanpa adanya berkas tersebut, proses pengajuan kredit kita tidak bisa dilanjutkan.

“Bagiku, kesan pertama sangat penting!” Begitu ucapku ketika aku memutuskan untuk menolak permintaan bank agar kita memberikan dokumen baru. Ada rasa khawatir dalam diriku, tajut jika dokumen tersebut disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Jika kesan pertama saja sudah tidak mengecewakan, bagaimana dengan transaksi lainnya yang akan kita lakukan dengan bank tersebut selama lima belas tahun ke depan?” Kekecewaanku memuncak. Dirimu pun merasakan demikian.

Mungkin ini sebuah isyarat agar kita tidak melanjutkan proses tersebut. Sebuah pertanda tidak baik. Aku tak ingin memaksakan kehendak atas sebuah keinginan yang mungkin belum saatnya menjadi indah di saat sekarang. Seperti yanng sudah kuungkapkan di depan, semuanya akan indah pada waktunya. Indah seperti perjumpaan kita.

Apakah dirimu masih ingat dengan perjumpaan pertama kita, di sebuah halte? Senyum manismu menjadi sebuah jawaban bagiku.

Ketahuilah, Sal. Tak ada yang memaksa kita untuk bertemu di sore hari itu. Semuanya terjadi begitu saja atas kehendak Allah. Karena tak ada yang memaksa dan tidak merasa terpaksa, pertemuan itu menjadi indah. Dan indahnya terasa hingga detik ini.

Kuharap dirimu dapat memaklumi kondisi kita sekarang yang masih tinggal di rumah kontrakkan. Bukan berarti kita akan mengubur impian kita untuk memiliki rumah, tapi hanya menundanya. Jika memang Allah memberikan rezeki, apa pun bisa terjadi. Bersabarlah, mungkin di suatu saat nanti kita bisa membeli rumah tanpa perlu berhutang, insya Allah. Saat ini, cukuplah kita bersyukur dan berbangga, meski kita belum memiliki rumah, tapi kita tidak memiliki hutang.

Alhamdulillah…


Seri Samara Lainnya :

14 thoughts on “Janganlah Terlalu Memaksa, Sayang!

  1. nazhalitsnaen Mei 4, 2013 / 19:16

    tetiba lupa siapa ya si “Sal” ini… dulu ngikutnya kan perempuan si berjilbab kuning doang terus mandheg saya ndak update huhuhu

    *jadi based on true story nih ceritanya😀

    • jampang Mei 5, 2013 / 05:57

      lagi dapat idenya begitu, nas.

      jilbab kuning yang dulu udah jadi novel sekarang, berminat? *promo*

      kalau yang sekarang ini lagi nyoba-nyoba aja nyambung2nin, kali aja bisa jadi sequelnya😀

      • nazhalitsnaen Mei 5, 2013 / 21:01

        masih ada nih stocknya?
        titip lagi ke Pak Ali gak ya? hehehe
        hmmm ongkirnya kalau ke Salatiga aja berapa nih mas?

      • jampang Mei 5, 2013 / 21:42

        stock ada. titip bisa, siapa tahu pak ali mau beli juga…😀

        ongkir ke salatiga 20.000, tapi kena ongkir tambahan 5.000 karena belinya dari yogyakarta. kalau dari yogyakarta ke salatiga 23.000. bisa kontak langsung ke ihwan alias mr.moz (mozaik indie publisher)

      • nazhalitsnaen Mei 5, 2013 / 21:44

        baru inget itu kan terbitan Mr. Moz… yap dicontact dulu dah🙂

      • jampang Mei 6, 2013 / 10:15

        silahkan….🙂

    • jampang Mei 5, 2013 / 05:57

      lagi dapat idenya begitu, nas.

      jilbab kuning yang dulu udah jadi novel sekarang, berminat? *promo*

      kalau yang sekarang ini lagi nyoba-nyoba aja nyambung2nin, kali aja bisa jadi sequelnya😀

  2. tipongtuktuk Mei 5, 2013 / 10:00

    saya masih ingat kisah tentang pertemuan di halte itu … he he he …

    • jampang Mei 5, 2013 / 19:30

      siplah…. kalau lupa tinggal diklik lagi… xixixixixi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s