Buah Jeruk, An-Nida, dan Perempuan Berjilbab Kuning

Laras dan Nina, adalah dua orang sahabat kental yang telah merajut tali persahabatan mereka sejak kecil. Kini keduanya bersama-sama lagi di bangku SMU. Meski keduanya duduk di kelas berbeda, namun banyak hal yang mereka lakukan bersama-sama, mulai dari belajar sampai menghabiskan waktu luang di sela-sela kegiatan sekolah.

Dari segi berpakaian, keduanya agak berbeda. Laras sudah menutup auratnya secara sempurna. Jilbab putih, kemeja putih lengan panjang, dan rok abu-abu panjang, adalah pakaian seragamnya. Sedangkan Nina, masih berpakaian seperti kebanyakan siswi di sekolahnya.

Suatu ketika, Laras bersikap agak menjauhi Nina. Selama beberapa hari, jarang keduanya terlihat bersama-sama. Sikap Laras itu tentu saja membuat Nina bingung, dan lama-kelamaan menjadi kesal dengan Laras. Nina merasa tidak mempunyai masalah dengan Laras, tapi kenapa Laras selalu menghindar jika bertemu. Nina ingin sekali menanyakan hal tersebut langsung kepada Laras, namun ia tidak mempunyai kesempatan.

Hingga suatu hari, Nina menerima sebuah kiriman bingkisan. Dengan penuh penasaran, ia membawa bingkisan tersebut ke kamarnya dan segera membukanya. Ketika bingkisan itu terbuka, ia melihat sebuah jilbab berwarna putih, dengan sebuah kartu bertuliskan :

“Selamat ulang tahun, sis.
Semoga kado yang sederhana ini dapat memberikan manfaat untukmu, dunia akhirat.
Laras”

Sebuah kejutan dari Laras.

*****

jeruk-annida-perempuan-berjilbab-kuning

Siang itu saya sedang menikmati buah jeruk di ruang tengah. Tiba-tiba mata saya menangkap sebuah majalah lama yang terletak dekat rak buku. Saya pun mengambilnya. Ternyata itu adalah majalah ANNIDA edisi nomor 15/XIV/16-31 Mei 2005. Saya pun membalik-balik halaman majalah tersebut. Lalu tiba di halaman 6, rubrik mozaik yang bercerita tentang jeruk.

Di dalam rubrik tersebut dinyatakan bahwa jeruk sudah dikenal sejak abad ke-5 dan ke-4 Sebelum Masehi. Orang Yunani menyebut jeruk sebagai “apel keemasan dari Hesperides”. Konon Hercules harus bersusah payah mengambil buah ini dari sebuah kebun yang dijaga seekor naga. Orang Cina menjadikan jeruk sebagai obat ketika hendak melakukan pelayaran, sementara orang Inggris mewajibkan para awak kapalnya memakan jeruk sebagai obat sariawan perut. Namun orang Arablah yang menjadi pelopor budidaya jeruk. Sejak abad ke-12, orang Arab telah dikenal sebagai pakar jeruk. Ibnu Jamiya, dokter pribadi Shalahuddin Al-Ayyubi, menulis kitab Risalah Jeruk yang berisi segala sesuatu tentang jeruk dilengkapi dengan sejumlah resep minuman dari jeruk.

Jeruk juga dicatat oleh para sastrawan muslim. Qustus Ar-Rumi menulis tentang jeruk dalam karya-karyanya pada abad ke-9, yang kemudian diikuti oleh Ibnu Jamiya pada abad ke-12. Di Mesir, jeruk dicatat oleh penyair Persia Nasir-I-Kusraw (1003-1061) berdasarkan kebiasaan Khalifah Fatimiyah Al-Muntasir (1035-1094) mengonsumsi jeruk.

Di tahun 1991-1994, seorang anak lelaki menggunakan buah jeruk dalam sebuah pantun karena senangnya dengan pelajaran bahasa Indonesia khsusunya ketika membahas soal bentuk-bentuk puisi lama.

kulit keriput si jeruk purut
buah semangka banyak airnya
anak gadis jangan cemberut
kalau cemberut hilang manisnya

😀

Entah sejak kapan tepatnya saya mengenal majalan ANNIDA. Yang pasti, saya pernah membacanya tapi belum pernah membeli secara langsung. Sepertinya saya meminjam milik teman saya, mungkin.

Ketika duduk di SMU, saya pernah membuat sebuah cerpen setelah membaca adanya perlombaan menulis cerpen di Majalah ANNIDA. Tertarik dengan hadiahnya yang lumayan, cerpen tersebut pun saya ikutkan dalam lomba tersebut. Untuk mengetiknya, saya meminta bantuan teman saya, yang mungkin saat itu adalah satu-satunya teman yang saya kenal yang sudah memiliki komputer.

Beberapa paragraf awal postingan ini adalah penggalan dari cerpen yang saya buat dan saya ikutkan lomba saat itu. Hasilnya, tentu saja, saya tidak menang.

Sekian tahun kemudian, saya membuat beberapa cerita mini yang masih ada kaitannya dengan perempuan berjilbab. Cerita mini tersebut kemudian, saya perluas dan saya sambung-sambungkan antara satu cerita dengan cerita yang lain. Akhirnya, jadilah sebuah novel “Perempuan Berjilbab Kuning”.

4 respons untuk ‘Buah Jeruk, An-Nida, dan Perempuan Berjilbab Kuning

  1. Julie Utami Mei 7, 2013 / 03:36

    Annida adalah salah satu teman baik saya yang super baik, yang ngajak saya pergi berobat dengan tekun. 🙂

    • jampang Mei 7, 2013 / 13:50

      alhamdulillah… banyak orang-orang baik di sekeliling kita ya bunda…

      • Julie Utami Mei 7, 2013 / 16:22

        Perasaan saya malah sangat banyak, melihat ke sekitar saya adanya cuma kebaikan saja. Alhamdulillah wa syukurillah 🙂

      • jampang Mei 7, 2013 / 16:59

        melihat segalanya dari sisi yang baik, bikin hati dan pikiran juga jadi baik.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s