Semuanya Akan Berlalu

biru-langit-mendung
ilustrasi : modifikasi beberapa gambar hasil googling

Kegiatanku selama dua hari ini berlokasi di ruangan yang berada di lantai tujuh sebuah hotel. Sesaat sebelum acara dibuka, aku menyempatkan diri untuk mendekati jendela yang cukup besar yang melalui kacanya aku bisa memandang ke arah pantai dan laut lepas. Langit begitu cerah. Beberapa kumpulan awan putih tersebar, menghiasi warna biru yang mendominasinya. Sesekali kulihat, beberapa gondola melintas baik dari arah kiri ataupun kanan sisi tempatku berdiri.

Acara pun dibuka dan dimulai.

Dari tempat kududuk, aku bisa mengalihkan pandanganku ke arah jendela besar tersebut. Aku pun masih bisa melihat perubahan yangg terjadi di luar sana. Langit yang sebelumnya didominasi warna biru, mulai diselimuti warna putih. Sepertinya, kumpulan awan yang tak banyak tadi memanggil kawan-kawannya untuk mendekat. Merapat.

Melewati tengah hari, nuansa mendung menyelimuti langit. Sang awan beralih warna. Dalam hitungan menit, rintik gerimis mulai turun. Aku bisa menyaksikan sapaan mereka kepada kaca jendela di ruangan tempatku berada. Semakin lama rintiknya semakin besar. Hujan pun turun.

Menjelang sore, hujan sudah berhenti. Namun langit tidak segera menjadi terang kembali. Sepertinya, sang matahari sudah selesai melaksanakan tugasnya hari ini, di belahan bumi tempat kuberdiri. Senja merayap pergi seraya memanggil sang malam.

Aneka cahaya pun bermunculan. Mulai dari lampu-lampu kendaraan yang berjalan menyusuri jalan di depan hotel, dari gedung-gedung pencakar langit di sekeliling hotel, bahkan dari gemintang di angkasa malam.

Sal, mungkin seperti itulah hidup dan kehidupan. Silih berganti. Rodanya terus berputar tanpa henti. Pernahkah kita berpikir, apakah yang akan terjadi jika Allah menjadikan kehidupan ini selamanya malam atau siang selamanya? Tentulah dunia ini tidak akan berjalan seperti sekarang.

Semuanya akan berlalu…

Ya, semuanya akan berlalu seperti cerahnya langit yang kemudian berganti dengan mendung dan hujan. Begitu pula dengan mendung dan hujan akan berlalu, berganti dengan cerah kembali dan bahkan disertai kehadiran pelangi. Hal yang sama pun mungkin akan terjadi dalam hidup dan kehidupan kita berdua.

Kamu masih ingat di awal-awal masa pernikahan kita terutama di tanggal-tangal tua menjelang akhir bulan? Ya, kita mencoba untuk menghemat pengeluaran kita agar bisa tetap makan hingga awal bulan berikutnya. Menu makan kita berubah drastis, dari yang semula dengan beberapa macam lauk-pauk menjadi hanya nasi dan telur, kadang didadar, kadang diceplok. Hanyalah kecap manis atau saos sambal yang menjadi penambah rasa.

Alhamdulillah, masa-masa sulit seperti itu sudah tidak lagi kita rasakan. Allah memberikan tambahan kelapangan rezeki untuk kita. Namun adakalanya muncul keinginan untuk menikmati menu alakadarnya itu. Maka kita pun kembali membuat telur dadar atau ceplok dan kecap manis atau saos sambal untuk menu makan kita. Mungkin sebagai pengingat bahwa segala sesuatu yang terjadi, akan berlalu dan berganti.

Di saat musibah, kemalangan, kesusahan, dan apa pun namanya, datang berkunjung, adalah kesabaran yang dijaga agar tak ada rasa putus asa. Sebaliknya, di saat ni’mat, kebahagiaan, kesenangan, dan apa pun namanya hadir menyapa, adalah syukur yang harus dipelihara agar diri tak menjadi alpa dan lupa. Kedua peristiwa yang bertolak belakang itu bisa terjadi atas izin, kehendak, dan kuasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sal, jika suatu ketika, aku bertanya kenapa kesusahan yang menimpa kita terjadi lebih lama daripada yang dialami orang lain, maka ingatkanlah diriku bahwa di sebagian bumi yang luas ini ada orang-orang yang menikmati malam lebih panjang daripada siang ataupun sebaliknya. Ingatkan aku bahwa semuanya akan berlalu. Seperti itu jugalah aku akan menjawab jika dirimu mengajukan pertanyaan yang sama.

“Kullu man ‘alayhaa faan. Wa yabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam.”

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Mungkin semalam, sebelum dirimi tertidur kamu mendengar ayat itu melalui handphonemu. Itu adalah salah satu ayat dalam surat ar-rahman, surat yang kerap kali kamu minta aku membacakannya untukmu. Suatu ketika dirimu memintaku untuk merekam suaraku ketika membaca surat tersebut.

“Aku akan mendengarkannya kalau aku kangen dengan suara Abang sementara Abang sedang bertugas di luar kota.”

Itu jawabanmu ketika aku bertanya untuk apa kamu memintaku melakukan yang demikian.


Seri Samara Lainnya :

22 thoughts on “Semuanya Akan Berlalu

  1. ibuseno Mei 15, 2013 / 09:16

    adem yaa.. denger suara abang🙂

    • jampang Mei 15, 2013 / 10:14

      iya kali yah…. kaya air terjun di pegunungan😀

    • jampang Mei 15, 2013 / 16:46

      panas kenapa moes….😀

    • jampang Mei 15, 2013 / 16:47

      mbak tin bukannya udah baca novel perempuan berjilbab kuning? di situ nama perempuannya kan “Sal”

      *ngiklan*

      • tinsyam Mei 15, 2013 / 16:48

        oohh kirain..

      • jampang Mei 15, 2013 / 18:21

        😀

  2. nazhalitsnaen Mei 15, 2013 / 21:14

    dari ketinggian dan sudut pandang yang luas, memberikan banyak perenungan bagi saya juga nih mas…

    tapi jadinya keindahan yang cepat berlalu itu jadi kurang dapat dihayati ya mas kalau malah rindu yang membara sama Sal hehehe…

    • jampang Mei 16, 2013 / 05:37

      dan kerinduan itu pun akan berlalu ketika keduanya bertemu😀

  3. elam Mei 16, 2013 / 07:01

    Jadi inget masa2 susah bersama istri…
    *ehh… kan belum nikah…😀

    • jampang Mei 16, 2013 / 07:06

      xixixixixi….. kalau bisa mah nggak usah susah-susah banget

      • elam Mei 16, 2013 / 07:09

        Amin…🙂

      • jampang Mei 16, 2013 / 07:10

        aamiin untuk semuanya

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s