Ummi, Aku Ingin Ulang Tahunku Dirayakan!

happy-birthday-cakeSetiap masa, generasinya tidak sama.

Sal, itu adalah sebuah kalimat yang menjadi judul sebuah tulisan yang pernah aku baca beberapa waktu lalu. Aku pun sepakat dengan kalimat tersebut, khususnya dengan kebiasaan yang dilakukan anak-anak zaman sekarang jika dibandingkan dengan masa kanak-kanakku dahulu. Lebih khusus lagi dengan yang namanya perayaan hari ulang tahun.

Sejak kecil, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahunku. Demikian juga ayah, ibu, adik, serta kakakku. Jangankan untuk merayakan ulang tahun, tanggal lahir yang kuingat hanyalah tanggal lahirku. Aku tidak ingat tanggal berapa ayah, ibu, adik, serta kakakku. Demikian juga sebaliknya. Karenanya, kami tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun satu sama lain.

Seingatku, ketika aku masih kecil, aku pernah diundang oleh seorang teman dan sekaligus tetanggaku ketika dirinya berulang tahun. Hanya sekali itu, seingatku. Mungkin karena temanku itu adalah anak orang kaya sehingga kedua orang tuanya mampu untuk mengadakan acara atau pesta ulang tahun. Sedangkan sebagian besar teman-temanku saat itu bukanlah dari golongan mampu. Karenanya, tak banyak yang merayakan ulang tahun mereka.

Selama ini aku tidak terlalu ambil pusing dengan yang namanya pengulangan tanggal lahir. Dirimu pun tak jauh berbeda denganku, Sal. Jika kebetulan Aku ingat dengan tanggal kapan dirimu dilahirkan, aku hanya akan melakukan sesuatu yang berbeda daripada hari biasanya. Minimal, memberikan doa tulus untukmu agar selalu bisa membersamaiku di setiap detik waktuku. Jika kebetulan dirimu ingat dengan tanggal kapan aku dilahirkan, kau pun akan melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang kulakukan. Semua itu tidak menjadi masalah karena memang kita tidak mempermasalahkannya.

Namun, beberapa waktu lalu, aku sempat dipusingkan dengan ceritamu bahwa, Zulfa, anak kita yang akan menginjak usia lima tahun meminta agar tanggal lahirnya dirayakan.

“Aku mau dirayain, Mi!”

“Aku mau kue ulang tahun yang enak!”

“Aku mau dapat kado yang banyak!”

Itu adalah ucapan Zulfa yang kau tiru dan kau perdengarkan kepadaku.

“Sepertinya Zulfa ingin seperti beberapa orang temannya yang hari ulang tahunnya dirayakan, Bang!” Tambahmu lagi.

“Menurutmu, gimana, Sal? Apakah kita harus merayakan ultah Zulfa?” Tanyaku.

“Mungkin dirayakan aja gak apa-apa, Bang. Cuma ya nggak usah seperti acara ultah teman-temannya,” jawabmu.

“Memangnya acara ulang tahun temannya itu seperti apa?” Tanyaku kembali.

“Biasanya pakai acara nyanyi-nyanyi, acaranya di arena bermain, bahkan ada yang menyewa badut dan sulap juga. Untuk Zulfa nggak usah seperti itu. Acaranya ya di rumah saja. Kemudian, selain kita undang teman-teman Zulfa, ada baiknya kita mengundang anak-anak yatim-piatu atau anak-anak dari panti asuhan. Mungkin dengan cara itu kita bisa mengajarkan kepada Zulfa tentang berbagi kepada orang lain.” Jawabmu.

Saat mendengar jawabanmu itu, aku terdiam. Sepertinya aku menangkap sesuatu yang kurang tepat.

“Maaf, Sal. Boleh aku mengutarakan pendapatku tentang jawabanmu itu?”

“Silahkan, Bang!”

“Aku setuju untuk mengajarkan Zulfa tentang berbagi. Hanya saja aku kurang setuju jika ultah Zulfa dirayakan dengan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim-piatu atau dari panti asuhan. Aku pikir itu kurang tepat, Sal.”

“Kenapa Abang berpikir begitu?”

“Teman-teman Zulfa, tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Anak-anak yatim-piatu atau dari panti asuhan, kupikir juga kondisi mereka lebih dekat dengan kekurangan.” Jawabku.

“Makanya mereka diundang, Bang. Biar mereka bisa ikut merasakan kebahagiaan kita. Mereka pasti akan senang. Nantinya, mereka juga akan kita berikan bingkisan atau uang untuk membantu mereka.” Jelasmu.

“Untuk poin memberikan bantuan itu, aku sangat setuju, Sal. Tapi apa mereka harus diundang dan menghadiri pesta ulang tahun Zulfa?”

“Maksud Abang?”

“Begini. Jika kita ingin memberikan bantuan kepada mereka, cukuplah kita datang ke tempat mereka, kemudian berikan bantuan kepada mereka semampu kita tanpa perlu mengatakan bahwa hal tersebut dalam rangka perayaan ulang tahun Zulfa. Apalagi sampai meminta mereka datang ke acara pesta.”

“Kenapa begitu, Bang?”

“Bukankah kamu tadi mengatakan bahwa Zulfa ingin ultahnya dirayakan karena melihat beberapa orang temannya merayakan ultah mereka?”

“Iya, Bang.”

“Yang nantinya diundang adalah anak-anak yang seumuran dengan Zulfa, kan?”

“Betul.”

“Menurutmu, apakah setelah mereka menghadiri acara ultah Zulfa dengan kue ulang tahunnya, dengan banyaknya kado yang diterima Zulfa, mereka tidak akan memiliki keinginan yang sama seperti ketika Zulfa menghadiri acara ulang tahun teman-temannya? Padahal mereka seumuran dengan Zulfa yang mungkin sifatnya tak jauh berbeda dengan Zulfa. Ingin meniru yang mereka lihat. Jika si anak itu berasal dari keluarga yang mampu mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi bagaimana jika keinginan itu muncul dari para anak yatim-piatu atau anak-anak dari panti asuhan? Bukankah pastinya akan membuat bingung wali mereka atau pengurus panti asuhan tempat mereka tinggal?”

“Jadi menurut Abang, bagaimana?”

“Jika Zulfa menginkan pengulangan tanggal lahirnya berbeda dari hari-hari biasa, kita bisa memberikannya hadiah dengan mengajaknya jalan-jalan atau makan di tempat yang dia mau, atau membelikannya hadiah barang yang diinginkannya. Untuk mengajarkan Zulfa berbagi, kita bisa membuatkan bingkisan dan mengantarkannya langsung untuk teman-teman dan anak-anak di pati asuhan, tentunya bersama-sama dengan Zulfa. Kita tak perlu merepotkan mereka untuk datang ke rumah. Bagaimana, apa kamu setuju, Sal?”


Seri Samara Lainnya :

10 thoughts on “Ummi, Aku Ingin Ulang Tahunku Dirayakan!

  1. Iwan Yuliyanto Juni 4, 2013 / 15:47

    Setuju dengan pola penanaman budaya-nya yg baik di atas.

    • jampang Juni 5, 2013 / 12:40

      terima kasih, pak πŸ™‚

    • jampang Juni 5, 2013 / 12:40

      terima kasih…

  2. Julie Utami Juni 6, 2013 / 11:27

    Saya juga nggak pernah merayakan pesta ulang tahun anak-anak saya kok. Selalu cuma makan bersama sekeluarga inti kami aja nak Kiki. Tanpa kado segala, yang penting hari itu menunya agak istimewa dikit. Mereka udah cukup seneng tuh karena merasa lain dari hari-hari biasanya.

    Terima kasih atas ceritanya yang selalu berarti ya.

    • jampang Juni 7, 2013 / 08:04

      enaknya seh begitu bunda πŸ™‚

      sama-sama….

  3. andiahzahroh Juni 11, 2013 / 11:00

    Setuju Mas Jampang
    Kalo aku dan ayah Raihan jg pengennya nggak membiasakan perayaan ultah rame2
    Kemarin karena baru ultah pertama dan Raihan belum tll ngerti, jadi nggak ada apa2, cuma Raihannya dikasih kado
    Untuk seterusnya, aku pengennya dirayain di keluarga inti aja entah dg makan2, atau dg kue ultah. Tapi cuma ayah-bunda-anak2 aja, biar lebih mesra dan deket πŸ˜€

    • jampang Juni 11, 2013 / 11:41

      terima kasih, mbak

  4. nurme Desember 28, 2013 / 05:23

    Anak kecil memang selalu ingin dirayakan, itu yang saya perhatikan. Mangkanya sejak dulu orang tua saya selalu memberi sebuah kue tart dan bernyanyi hanya sekeluarga saja kemudian ditutup dengan doa dan dilakukan saat baru membuka mata atau selesai sholat subuh saat sudah besar.

    Ini menjadi tradisi dan dilakukan kepada para ponakan. Alhamdulillah mereka puas dengan hal sepeti in, kue dan kado hanya dari keluarga saja.
    Dan saat rezeki berlebih, bingkisan diberikan pada anak-anak yatim.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s