Maafkan Aku, Istriku (I)

Cerpen ini sudah dibukukan dalam kumpulan cerpen “Lelaki dan …” dengan judul lain, yaitu “Lelaki dan Bidadari”.

******

Dadaku semakin bergemuruh tat kala langkah kakiku semakin dekat dengan ruang makan. Terdengar celotehan anak pertamaku yang berusia dua tahun setengah, Emir, bersama ibunya, Haisa, istriku. Rupanya istriku sedang menyuapi Emir makan. Sesekali kulihat tangan kanan istriku mengusap-usap perutnya yang besar. Istriku sedang hamil tujuh bulan.

Tak tega rasanya untuk mengeluarkan gemuruh di dadaku saat ini. Aku tak ingin merusak kebahagiaan ibu dan anak yang mungkin akan segera terusik. Tak lama lagi. Sebab sekarang atau nanti, petaka ini pasti akan terbuka dan semua orang pasti akan tahu, apalagi istriku.

Kualihkan langkah kakiku ke meja kerjaku. Kuhempaskan tubuhku ke kursi. Keras. Mataku terpejam sesaat. Ketika kubuka, kilasan kejadian enam bulan lalu yang menjadi sumber petaka dalam hidupku terlihat jelas di depan mataku. Bayangan Heri, sahabat kentalku yang pernah menjadi teman kerjaku di divisi yang sama sebelum akhirnya kami dipindahkan ke divisi yang berbeda, datang begitu jelas.

“Heri! Kau lah penyebab semua ini!”

Kukepalkan tangan kananku dan memukul meja kerjaku untuk menyalurkan kekesalanku kepadanya.

Bukk!

Suara meja dipukul terdengar keras dan mungkin terdengar hingga ke ruang makan. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Tak kudengar suara canda tawa dari ruang makan yang kudengar sebelumnya.

“Ada apa, Pah?” tanya istriku.

“Tidak apa-apa, Mah. Ini ada buku yang jatuh,” jawabku sekenanya.

Rupanya aku tidak berbohong. Salah satu buku jatuh dari tumpukannya di atas meja kerjaku. Sebuah buku merah. Kuingat, buku itu adalah pemberian dari salah seorang sahabatku yang lain, yang berisi kumpulan coretan-coretan puisi semasa SMA dulu. Kuambil buku tersebut lalu kubuka. Di halaman pertama kulihat sebuah puisi berjudul “Sahabat.” Baris demi baris kubaca perlahan pusi tersebut.

Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya

Selesai membaca puisi tersebut, ingatanku kembali kepada Heri.

“Kau bukan sahabatku! Jika kau sahabatku, tak mungkin kau membawaku dalam petaka ini!”

Kututup buku merah itu dan meletakkannya ke tempat semula. Kutarik nafas dalam dan panjang untuk sekedar menenangkan pikiran dan jiwaku. Aku pun bertanya dalam hati.

“Apa iya Heri bukan sahabatku? Jangan-jangan akulah yang bukan sahabat baginya. Jika aku benar-benar sahabatnya, seharusnya aku mengingatkannya sebelum peristiwa penyebab petaka itu terjadi. Jika hal itu aku lakukan, pastinya aku sudah menyelamatkan dua orang, aku dan dia, juga dua keluarga, keluargaku dan keluarganya. Ah! Penyesalan memang selalu terjadi belakangan.”

“Papah… Papah!”

Suara Emir membangunkanku dari lamunan. Wajah riang dan senyum manisnya membuatku dapat meredam gemuruh di dadaku meski tetap masih bergejolak.

“Sudah selesai makannya?” tanyaku.

“Sudah,” jawabnya singkat.

“Habis?”

“Habis.”

Kuangkat tubuhnya dan kugendong menuju ruang makan. Istriku masih duduk-duduk dan tangannya masih mengusap-usap perutnya. Aku pun duduk di sampingnya. Sementara Emir yang kuturunkan ketika akan duduk langsung berlari ke ruang depan tempat biasanya dia bermain.

Kutatap wajah istriku. Terlihat gurat-gurat keletihan mengandung anak kami yang kedua. Kubayangkan kira-kira apa yang akan terjadi jika sebuah kabar buruk yang aku simpan kusampaikan kepadanya saat ini. Shock? Bagaimana dengan keadaan janin dalam kandungannya? Jika tetap kusimpan, akan sampai kapan aku bisa bertahan menutupi semuanya? Bagaimana jika dia tahu dari orang lain, bukan kah itu akan lebih menyakitkan lagi?

Akhirnya kuputuskan untuk mengungkapkan semuanya saat ini. Kupegang tangnnya yang sedang mengusap perutnya. Kucium perut buncitnya. Kurasakan seolah-oleh calon bayiku merespon ciumanku. Hatiku teriris. Pedih. Kembali kukuatkan diri untuk melakukan apa yang sudah kuputuskan.

“Mah, ada yang mau Papah sampaikan,” ucapku perlahan.

“Ada apa pah?” tanyanya.

Suara lembutnya seakan-akan menyurutkan gemuruh di dadaku.

“Begini, Mah …… Papah…….”

“Eyang… Eyang…” tiba-tiba Emir beryeriak sambil berlari dan menarik tanganku untuk bangun dari dudukku dan berjalan ke ruang depan. Rupanya, kedua orang tua istriku datang.

Kami bertiga kemudian menyambut keduanya di ruang tamu. Niatku tertunda.

Bersambung……. lihat bagian selanjutnya di sini.

11 respons untuk ‘Maafkan Aku, Istriku (I)

  1. ryan Juni 14, 2013 / 12:01

    ditunggu lanjutannya

    • jampang Juni 14, 2013 / 14:30

      insya Allah…

    • jampang Juni 14, 2013 / 16:35

      sabar… sabar… 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s