Maafkan Aku, Istriku (II)

Cerpen ini sudah dibukukan dalam kumpulan cerpen “Lelaki dan …” dengan judul lain, yaitu “Lelaki dan Bidadari”.

******

sambungan dari cerita sebelumnya di sini.

*

*

*

Kupercepat langkah kakiku dari masjid seusai sholat Maghrib berjama’ah menuju rumah, khawatir rintik hujan yang mulai turun semakin lebat. Rupanya langit pun ikut berduka dengan apa yang kualami. Baru satu langkah kaki ini menapak teras rumahku. Hujan turun dengan lebatnya dengan didahului sambaran kilat dan suara halilintar di langit sebelah utara sana. Segera kumasuk ke dalam rumah.

Sebelum menuju kamarku, kusempatkan menengok ke kamar Emir. Terlihat dia sudah tertidur pulas dengan memeluk mainan baru yang diberikan oleh kedua eyangnya tadi sore. Mungkin dia kelelahan, karena sejak kedatangan kedua eyangnya, dia tak henti-henti bermain dan bercanda dengan kedua eyangnya tersebut. Kututup kembali pintu kamar Emir.

Mengiringi langkahku menuju kamarku, lantunan Al-quran yang dibacakan oleh Haisa terdengar begitu indah.

“… wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. wa yarzuqhu min haithu la yahtasib. wa man yatawakkal ‘alallahi fa huwa hasbuh. innallaha baalighu amrih. qad ja’alallahu li kulli syai’in qadraa …”

Kubuka pintu kamarku. Kulihat Haisa dengan mukenanya masih duduk di atas sajadah. Rupanya selesai shalat Maghrib dia lanjutkan dengan tilawah. Kududuk di sampingnya bermaksud menyimak bacaan indahnya. Kurasakan sedikit demi sedikit dadaku seperti semakin plong.

Tak lama kemudian, dia pun menyelesaikan tilawahnya. Ditutupnya Al-quran yang telah dibacanya. Lalu dia menengok ke arahku. Dia pun tersenyum. Senyuman itu begitu sejuk dan indah. Ibarat angin sepoi-sepoi, senyum tersebut mampu meniupkan rasa lapang di dadaku. Dia pun meraih tangan kananku dan menciumnya. Kuterdiam sejenak seolah terhipnotis untuk menikmati momen yang baru saja terjadi. Setelah kembali tersadar, segera kubalas dengan mencium kening Haisa.

“Ada apa, Pah?” tanyanya dengan lembut.

Aku langsung salah tingkah dengan pertanyaan tersebut. Rupanya dengan cepat dia menangkap sesuatu yang ‘tidak beres’ dengan diriku. Wanita yang luar biasa.

“Tidak ada apa-apa, Mah,” jawabku masih dengan sekenanya dan masih berusaha untuk menyembunyikan apa yang menjadi rahasia besar yang semakin membebani dadaku.

“Nggak mungkin, Pah. Mamah sudah lama mengenal Papah. Mamah tahu kapan Papah senang atau sedih, kapan Papah jujur atau bohong. Lagi pula, tadi siang sepertinya ada yang mau Papah sampaikan kepada Mamah,” sanggahnya sambil berdiri dengan sedikit susah sambil merapikan al-quran dan mukenanya. Lalu dia duduk di atas tempat tidur dan mengusap-usap perutnya.

Tak bisa lagi rasanya kusembunyikan rahasia ini. Lagi pula sebenarnya memang sudah kuniatkan untuk kusampaikan kepada Haisa siang tadi, tapi tertunda karena kedatangan kedua orangtunya. Mungkin ini adalah waktu yang paling tepat untuk bercerita kepadanya.

“Mah, Papah boleh tanya, nggak?” tanyaku sebagai pembuka.

“Tanya apa, Pah?”

“Dulu, kenapa Mamah memilih Papah untuk menjadi pasangan hidup?” kucoba bertanya dengan nada dan muka seserius mungkin.

Haisa tak langsung menjawab. Mungkin dia berpikir tentang kelanjutan dari pertanyaanku itu. Karena tak biasanya aku bertanya tentang hal ini. Aku tak pandai untuk mengenang keindahan masa-masa yang telah kami lewati bersama dalam biduk rumah tangga ini. Aku terdiam menunggu jawabannya.

“Secara fisik, Papah itu ganteng. Tapi yang terpenting bagi Mamah saat itu kenapa mau menerima Papah adalah karena Papah itu jujur, amanah, sayang kepada keluarga, serta pengetahuan agama Papah yang bagus. Bisa dijadikan imam,” jawabnya mantap yang membuat mataku menjadi sedikit basah.

“Tapi, Mah. Bagaimana jika orang yang Mamah kagumi dulu itu sekarang ini telah berbuat kesalahan? Apakah Mamah mau memaafkannya?” tanyaku lagi.

Dari wajahnya, aku tahu dia sangat terkejut mendengar pertanyaanku. Aku pun yakin bahwa dia sudah pasti menebak bahwa aku telah berbuat salah. Kesalahannya apa, itu yang belum dia tahu.

“Maksud Papah?”

“Mah, tolong jawab saja pertanyaan Papah, yah?” kuucapkan dengan nada serendah mungkin sambil kedua tanganku menggenggam kedua tangannya.

Dia terdiam sejenak.

“Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, termasuk Mamah. Seandainya orang tersebut adalah Papah, insya Allah Mamah maafkan. Tetapi pasti butuh proses. Dan lama prosesnya tergantung pada besar kecilnya kesalahan Papah,” jawabanya dengan sedikit bergetar.

“Memangnya Papah berbuat salah apa kepada Mamah?” sambungnya.

Kutarik nafas dalam-dalam. Kuhimpun segenap tenaga dan rasa untuk memberikan jawaban yang terasa berat dan pasti sangat mengecewakan baginya.

“Papah di-non-aktifkan dari kantor,” jawabku singkat.

“Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raji’un. Papah dipecat?”

“Belum tentu.”

“Maksudnya? Mamah nggak ngerti. Memangnya papah salah apa di perusahaan?”

“Begini, Mah. Mamah kenal Heri?”

“Kenal. Dia kan teman baik, Papah. Pernah juga kerja di tempat yang sama dengan Papah. Iya kan?”

“Ya. Sekitar enam bulan yang lalu, dia datang ke tempat Papah. Sambil membawa berkas proposal dari salah satu perusahaan besar dan terkenal. Dia meminta Papah untuk meloloskan proposal perusahaan tersebut. Dia bilang dia butuh biaya untuk nikah. Dan jika proposal tersebut lolos, dia akan mendapatkan fee yang lumayan besar dari perusaah tersebut. Setelah Papah teliti dan ternyata memang tidak ada masalah, ditambah lagi yang mengajukan adalah seorang sahabat lama, akhirnya Papah setujui.”

“Lho, kalau begitu Papah tidak bersalah kan?” tanyanya memotong cerita saya.

“Masalah baru timbul di kemudian hari. Ternyata Heri menyalahgunakan kepercayaan Papah dan perusahaan. Setelah beberapa kali terjadi transaksi antara perusahaan Papah dengan perusahaan yang dibawa oleh Heri, perusahaan mengetahui bahwa transaksi tersebut hanya fiktif belaka. Semua dokumen transaksi tersebut aspal. Dan setelah perusahaan melakukan konfirmasi ke perusahaan yang dibawa oleh Heri, ternyata perusahaan tersebut tidak pernah mengajukan proposal ke perusahaan Papah.”

“Ya, Allah. Tega benar si Heri kepada Papah. Mengkhianati sahabat sendiri.”

Kurasakan emosi kemarahan dalam kalimat yang baru terucap dari mulutnya serta tergambar di raut wajahnya. Tapi itu tidak bertahan lama. Sesaat kemudian dirinya kembali tenang seperti sedia kala. Sungguh wanita yang luar biasa. Entah apa yang terjadi dengan dirinya dan kandungannya jika kemarahannya tak dapat dikendalikan.

“Karena proposalnya Papah setujui, makanya Papah ikut diselidiki. Dan untuk kepentingan penyelidikan, Papah di-non-aktifkan dari jabatan. Akibatnya, semua fasilitas yang Papah miliki, mulai dari gaji, kendaraan, dan fasilitas lain diberhentikan sementara. Ini yang membuat Papah tidak tenang. Papah tidak punya tabungan banyak untuk biaya persalinan anak kita ini,” kuusap-usap perut istriku dan tanpa sadar setitik air menetes dari ujung mataku.

“Papah juga bingung bagaimana memenugi kebutuhan kita sehari-hari, karena untuk mencari pekerjaan baru tidak bisa dalam waktu yang cepat,” sambung saya dengan suara bergetar.

Tak terasa, semakin banyak titik air mata yang jatuh mengalir membasahi kedua pipiku.

Dengan lembut, kedua tangan Haisa memegang wajahku. Diangkatnya wajahku dengan perlahan. Dihapusnya air mataku yang mengalir.

“Tenang saja, Pah. Mamah tahu, Papah hanya ingin menolong teman. Mamah juga yakin kalau Papah tidak mengambil sesuatu yang memang bukan hak Papah dari perusahaan. Insya Allah kita punya jalan keluar,” ucapnya dengan teduh diiringi dengan sebuah senyuman.

Tenang? Bagaimana hatiku bisa tenang? Hatiku berkecamuk dengan apa yang kudengar barusan. Bagaimana Haisa bisa setenang itu dan mengatakan bahwa ada jalan keluar dari masalah ini? Dalam kesedihanku, pertanyaan-pertanyaan itu mencari jawaban.

Hujan masih turun di luar sana. Di antara suara rintiknya, adzan Isya berkumandang. Haisa bangun dari duduknya dengan perlahan sambil mengajakku berdiri.

“Pah, kita sholat Isya berjama’ah dulu, yuk,” ajaknya dengan penuh kelembutan.

Kuturuti ajakannya. Dalam kesedihan dan kebingunganku, kuambil sajadah lalu kuhamparkan. Kulihat Haisa sudah kembali mengenakan mukenanya dan berdiri di belakangku. Kucoba untuk memulai sholatku dengan takbiratul ihram. Rasanya, hanya jasadku yang sedang sholat, sementara hati dan pikiranku berkelana ke alam lain mencari jawaban dari sebuah jalan keluar yang disebut Haisa tadi. Jalan keluar apa? Bagaimana? Tak terasa, aku hanya berkutat di ayat ketiga hingga ke lima surat Al-kaafirun.

bersambung……

*

*

*

lihat bagian berikutnya di sini.

2 thoughts on “Maafkan Aku, Istriku (II)

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s