Antara Hati dan Para Penyapu Jalanan

antara-hati-dan-penyapu-jalanPagi ini, ketika saya menghentikan laju sepeda motor saya karena lampu lalu-lintas berwarna merah, di hadapan saya, seorang petugas kebersihan sedang menyapu dedaunan kering yang rontok menghiasi jalan. Ada keinginan untuk mengambil gambar petugas kebersihan tersebut, tetapi saya khawatir lampu lalu-lintas akan segera berganti warna hijau sebelum saya sempat mengeluarkan handphone dan mengambil gambar. Akhirnya, saya urungkan niat tersebut.

Tak lama kemudian, saya kembali melihat seorang petugas kebersihan sedang melakukan tugasnya di sisi Jalan Gatot Subtoro. Keinginan untuk mengambil gambar muncul lagi. Tetapi kembali saya urungkan. Saya khawatir akan terlambat tiba di kantor, apalagi di depan, saya melihat beberapa orang rekan kerja saya mempercepat langkah mereka, bahkan ada yang berlari-lari kecil.

Dengan bersenjatakan sebuah sapu lidi bergagang panjang, para penyapu jalanan itu bekerja. Entah mulai pukul berapa mereka mulai bekerja setiap harinya. Yang pasti, ketika saya melihat mereka bekerja, sebagian sisi jalan sudah lumayan bersih, sampah-sampah sudah terkumpul di beberapa bagian untuk siap diangkut atau dimasukkan ke dalam karung.

Petugas kebersihan yang saya lihat, menyapu dan membersihkan jalan dari daun-daun kering yang berjatuhan dari pohon-pohon di sepanjang sisi jalan, potongan kecil kertas, kemasan bekas makanan, atau kulit buah-buahan yang sengaja dibuang oleh para pengendara. Tak ada sampah-sampah menumpuk apalagi menggunung.

Hal yang patut dicontoh dari mereka adalah mereka menyapu jalanan dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan setiap hari. Mereka tak pernah menunggu sampah-sampah banyak dan menumpuk terlebih dahulu. Ketika ada sampah terlihat, mereka langsung bersihkan. Mungkin dengan cara demikian, pekerjaan mereka tidak terlalu berat. Bisa dibayangkan bila mereka baru akan bekerja ketika sampah telah menumpuk di pinggir jalan, selain merusak pemandangan, pekerjaan mereka nantinya akan jauh lebih berat.

Sama halnya dengan para OB yang bekerja di kantor yang sama dengan tempat saya bekerja. Mereka tak bosan mengelap lantai, walau berulang kali sepatu para pegawai mengotori lantai kantor. Mereka rutin mengelap lantai meski lantai tidak terlihat kotor. Bekerja dengan cara demikian, bisa jadi lebih mudah bagi mereka dibanding menunggu lantai terlihat kotor sekali.

Mungkin ada sebuah pelajaran penting dari para penyapu jalanan dan office boy itu, yaitu jangan menunggu cermin di hati kita buram karena titik noda sudah menumpuk bahkan berkarat. Satu titik noda menempel, segera mungkin dibersihkan. Mampukah kita? Insya Allah.

12 respons untuk ā€˜Antara Hati dan Para Penyapu Jalananā€™

  1. omnduut Juni 19, 2013 / 08:52

    Renungan pagi hari. Makasih mas Rifki šŸ™‚

    • jampang Juni 19, 2013 / 09:08

      sama-sama, mas šŸ™‚

    • jampang Juni 19, 2013 / 09:09

      iya kang. nggak kebayang kondisi jalan kalau nggak ada mereka

  2. ryan Juni 19, 2013 / 13:46

    renungan yang indah…
    makasih mas.

    • jampang Juni 20, 2013 / 08:22

      sama-sama, mas šŸ™‚

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s