Anak Tangga Kehidupan

ilustrasi : http://www.tohazakaria.com

Suatu ketika saya sedang berbicara dengan seorang teman perempuan via chat room. Bahasan kala itu adalah tentang keinginannya untuk menikah.

“Pingin nikah, ya nikah aja!” Jawab saya singkat ketika mendengar keinginannya tersebut.

“Nggak segampang itu, ada masalah.”

“Masalah apa?”

“Dia mau istrinya nanti tinggal di rumah.”

“Ya udah, tinggal di rumah aja.” Lagi-lagi saya menjawab dengan singkat.

“Yah, kalau ngomong aja seh gampang. Nikah aja, tinggal di rumah aja. Tapi kan enggak semudah itu. Seandainya bisa seperti itu.”

“Yang jelas… setiap pilihan ada konsekwensinya.”

“Tapi kan ada alasannya.”

“Lantas, apa alasan dia minta istri tinggal di rumah?” Saya coba bertanya.

“Alasannya pendidikan anak.”

“Terus?” Saya bertanya lagi.

“Jadi gue harus tinggal di rumah neh, sementara gue enggak punya penghasilan sendiri. Kalau tiba-tiba gue ditinggal, gimana? Ditinggal mati maksudnya. Sebenarnye gue mau banget tinggal di rumah asal punya penghasilan.” Jawabnya.

“Waduh, nikah aja belom koq udah ngomongin dicerai mati. Bisa juga belom sampe nikah udah mati duluan.” Jawab jawab saya sambil menambahkan rangkaian dua huruf yang berulang sebagai tanda bahwa saya menjawabnya diriingi dengan tawa.

“Kalau begitu, nanti minta mahar ke dia berupa rumah kontrakan atau mobil angkot aja, yang penghasilannya bisa diterima setiap hari atau bulan. Jadi kalau nantinya ditinggal mati kan udah ada pemasukan. So, loe bisa tenang. Iya, kan?” Sambung saya kemudian.

“Wih, matre ya?”

“Ya karena kita ini lagi ngomongin materi kan?”

“Iya, seh.”

Entah apakah pembicaraan saya dengan teman saya itu terputus atau memang memori ingatan saya yang tidak bisa mengingat semua pembicaraan yang terjadi saat itu.

———-ooooo000ooooo———-

Setiap manusia pastilah punya cita-cita, keinginan dan impian. Itu wajar. Karena apa jadinya seseorang tanpa cita-cita, keinginan dan impian? Bila demikian adanya, maka tak akan muncul sebuah ungkapan yang berbunyi “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit.”

Ketika saya kecil, ada tiga buah cita-cita yang selalu disebutkan oleh saya dan teman-teman bila ditanya tentang cita-cita, yaitu menjadi guru, dokter, dan insinyur. Kini, di antara kami ada yang berhasil menjadi apa yang pernah dicita-citakan dulu. Sedang yang lain, ada juga yang meleset.

Dulu, saya juga pernah berkeinginan untuk memiliki sebuah sepeda yang bagus dan keren. Keinginan tersebut akhirnya tercapai, walaupun dengan proses yang cukup lama. Berawal dari sebuah sepeda bekas berukuran kecil yang dibelikan oleh ayah saya. saya mulai belajar mengendarainya.

Seiring perjalanan waktu, saya semakin mahir mengendari sepeda kecil tersebut. Ayah saya kemudian membelikan sepda bekas yang ukurannya lebih besar.

Barulah selepas saya dikhitan dan saya memiliki uang yang cukup, keinginan untuk memiliki sebuah sepeda beberapa waktu sebelumnya bisa terwujud.

Keinginan saya yang lain adalah kuliah. Alhamdulillah saya diterima di sebuah kampus yang cukup ternama. Keinginan saya tersebut tercapai setelah saya mengenyam pendidikan selama kurang lebih 13 belas tahun. Sekolah dasar tujuh tahun (bukan karena tinggal kelas tetapi karena di sekolah saya tersebut ada kelas NOL), tiga tahun Sekolah Menengah Pertama, dan tiga tahun Sekolah Menengah Atas. Itu pun harus bersaing dengan ribuan lulusan SMU di tahun yang sama atau tahun sebelumnya yang mencoba peruntungan di tempat yang sama dengan saya.

Sebuah cita-cita atau keinginan, mungkin baru bisa dicapai setelah cita-cita atau keinginan sebelumnya sudah diraih. Mungkin jika bisa diibaratkan, rangkaian cita-cita itu seperti anak-anak tangga yang sering kita naiki. Anak tangga pertama adalah cita-cita atau keinginan awal kita. Anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya adalah cita-cita atau keinginan kita yang lebih besar.

Rasanya, sulit untuk membayangkan diri kita bisa melompati beberapa anak tangga sekaligus. Dua anak tangga, mungkin masih bisa. Tiga anak tangga mungkin adalah jumlah maksimal. Namun umumnya, seseorang akan menaiki anak tangga tersebut satu per satu.

Untuk menaiki anak-anak tangga tersebut diperlukan tenaga. Semakin banyak anak tangga yang akan dinaiki, maka semakin banyak tenaga yang dibutuhkan untuk bisa tiba ke puncak anak tangga. Seperti itu jugalah mungkin proses untuk meraih cita-cita. Ada bekal yang harus dimiliki. Tak hanya tenaga, melainkan juga pikiran dan yang lainnya.

Dan bila kita memeliki cita-cita, keinginan, dan mimpi yang banyak, maka sebanyak itulah anak-anak tangga yang akan kita naiki. Insya Allah, kita akan mampu untuk meraih dan mencapai anak tangga tertingi, asal saja kita bisa menapakkan kaki kita di anak-anak tangga sebelumnya. Semoga.

Wallahu a’lam.

postingan terkait :

– 148 Anak Tangga

– Maafkan Aku, Istriku…

15 respons untuk β€˜Anak Tangga Kehidupan’

  1. ayanapunya Juni 27, 2013 / 12:01

    kalau masih kerja kayak sekarang emang bikin galau sih soal brenti kerja setelah nikah itu. biasa punya uang sendiri dan kerja eh tiba-tiba bengong di rumah. saya sendiri sebenarnya pengennya jadi ibu rumah tangga, cuma kadang mikir kayak gitu juga. he

    • jampang Juni 27, 2013 / 18:29

      saya sendiri sebenarnya pengennya jadi ibu rumah tangga,

      mungkin itu adalah keinginan mendasar dari setiap perempuan. hanya saja mungkin ada faktor eksternal dan internal yang menyebabkan keinginan tersebut terkalahkan. πŸ™‚

  2. eroza Juni 27, 2013 / 14:32

    Siapa bilang ibu rumah tangga cuma bengong aja dirumah? πŸ™‚ saya ibu rumah tangga, waktu 24 jam sehari rasanya masih kurang. Kalau bisa request saya minta sehari jadi 30 jam deh πŸ™‚

    • jampang Juni 27, 2013 / 18:30

      sibuk terus ya uni?

      πŸ˜€

  3. Novi Kurnia Juni 27, 2013 / 18:23

    Mustinya prmp nya chat ama calonnya, biar dicari solusi antar mereka yg berkepentingan. Eh atau mas rifkilah calonnya??

    • jampang Juni 27, 2013 / 18:32

      πŸ˜€
      iya… seharusnya begitu mbak.
      bukan saya calonnya. πŸ˜€

  4. penuhcinta26 Juni 27, 2013 / 19:51

    Si mbak itu musti banyak2 cari info tuh tentang gimana supaya tetap di rumah tapi berpenghasilan. Banyak lo peluang untuk bekerja di rumah, kita hanya harus gigih dan cermat mencarinya, disesuaikan dengan skills yang kita punya.

    • jampang Juni 28, 2013 / 08:05

      iya mbak. setuju πŸ™‚

  5. tinsyam Juni 28, 2013 / 14:55

    kebanyakan mikir ga jadijadi malah..

    • jampang Juni 28, 2013 / 14:57

      πŸ˜€

      bisa kejadian begitu mbak….

  6. tipongtuktuk Juni 29, 2013 / 09:56

    ya iya harus tinggal di rumah, ya … masa mau tinggal di tengah jalan …
    di tengah jalan itu berbahaya, banyak kendaraan berlalu lalang … ha ha ha …
    *numpang geje, Bang … -humor garing-

  7. Dyah Sujiati Januari 22, 2014 / 11:25

    Ntu tangga bener ada nggak ya?
    #salah fokus

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s