Ketika Ni’mat Itu Tercabut (Sementara)

Bye Bye MasjidKeluar dari kantor di malam itu, saya memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Selepas melaksanakan shalat maghrib saya berniat untuk makan malam di luar, mau mencoba menu baru. Iga bakar.

Singkat cerita, tibalah saya di lokasi. Sebuah warung tenda di pinggir jalan namun cukup besar. Pengunjungnya cukup ramai sehingga saya agak kesulitan untuk mencari tempat duduk. Bahkan sebelumnya saya kesulitan untuk mencari ruang kosong di tempat parkir sepeda motor.

Setelah beberapa lama mencari-cari, akhirnya saya mendapatkan tempat duduk yang kosong.

Tak lama setelah memesan, nasi putih, iga bakar, dan es teh manis segera tersedia di hadapan saya untuk kemudian siap saya santap.

“Aduh…..ah,” teriak saya ketika di suapan kali pertama karena menahan rasa perih di mulut akibat makanan yang masuk ke mulut mengenai sariawan saya.

*****

Menginap tiga hari dua malam di hotel itu artinya menyantap makanan dengan menu yang ‘wah’ dan berbeda dengan menu keseharian saya. Biasanya saya lapar mata, ingin mencoba semua rasa dari makanan yang tersedia. Agar semuanya bisa saya cicipi, biasanya saya mengambil porsi yang sedikit untuk masing-masing menu. Jumlahnya sedikit namun beragam.

Namun, selama menginap di hotel tersebut, saya tidak bisa menikmati semua menu yang ada dengan maksimal. Menu terenak yang tersaji tetap saja tidak bisa saya rasakan enaknya seratus persen. Sebuah sariawan di mulut saya adalah penyebabnya.

*****

Ternyata dengan sebuah sariawan yang kecil di mulut, Allah sangat mampu untuk mencabut ni’mat dari diri ini. Bila di hari-hari tanpa sariawan, jangankan makanan istimewa yang lezat luar biasa, makanan biasa pun akan terasa ni’mat.

—-ooooo000ooooo—-

telah diciptakan manusia
lemah tanpa daya
maka pantaskah diri berbangga
sombong di hadapan Sang Pencipta

telah dilahirkan tanpa busana
dimatikan pun tanpa membawa harta benda
maka pantaskah diri membusungkan dada
angkuh di hapadan Sang Penguasa

berasal dari air hina
tumbuh berkembang dengan kasih-sayangNya
maka pantaskah diri ini tak menghamba
kepada Sang Pemilik alam semesta

posting terkait :

8 respons untuk ‘Ketika Ni’mat Itu Tercabut (Sementara)

  1. walidin Juli 8, 2013 / 20:40

    Betul gan, nikmat yang paling sering tidak kita sadari adalah nikmat sehat. Sebetulnya manusia itu sangat kecil, seberapa kecil analoginya jika jika naik pesawat dan lihat ke bawah.
    Namun seberap besar kesombongannya hingga ke seluruh penjuru (dengan adanya teknologi tanpa batas-internet, sosial media).

    • jampang Juli 9, 2013 / 09:23

      semoga kita bisa selalu bersyukur. aamiin

  2. ryan Juli 9, 2013 / 07:58

    sebuah keberadaan yang indah namun jarang disadari. hidup itu sendiri. makasih mas.

    • jampang Juli 9, 2013 / 09:24

      sama-sama 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s