Don’t Worry, Be Ready

ilustrasi : dribbble.com

Saya ini mungkin termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang sering atau bahkan selalu merasa khawatir dan takut dengan sesuatu yang belum terjadi. Khawatir tentang sesuatu di masa depan. Biasanya, rasa khawatir dan takut itu akan saya rasakan setelah mendapat informasi dari orang-orang di sekitar saya, terutama teman-teman sepergaulan. Padahal sangat mungkin sekali apa yang mereka rasakan dan telah hadapi tidak akan sama halnya dengan apa yang akan saya rasakan dan hadapi kelak. Setiap zaman punya generasi yang berbeda.

Ketika saya mulai masuk sekolah dasar, misalnya, saya sering ditakut-takuti oleh teman-teman sepermainan saya yang merupakan kakak kelas. Mungkin maksud mereka itu hanyalah sebuah bentuk canda tapi saya menanggapinya dengan serius kala itu. Mereka mengatakan bahwa di sekolah nanti murid-muridnya akan diberi hukuman dengan berdiri di lapangan sekolah. Setelah mendengar cerita tersebut, saya pulang ke rumah. Lalu saya menangis dan mengatakan kepada orang tua saya bahwa saya tidak mau sekolah lagi karena takut dijemur di lapangan.

Mendengar hal itu, orang tua saya, terutama ibu, mencoba merayu saya agar tetap sekolah dengan mengatakan bahwa semuanya itu tidak benar. Alhamdulillah, orang tua saya berhasil membuat saya mau bersekolah lagi. Kalau saja saya tidak berhasil dibujuk dan dirayu saat itu, entah bagaimana keadaan saya sekarang ini.

Ketika akan memasuki SMP (Tsanawiyah), teman-teman saya yang merupakan kakak kelas saya memberikan informasi bahwa di SMP itu pelajarannya lebih sulit, mendapatkan nilai merah itu sudah biasa, dan mendapatkan nilai enam di raport itu artinya sudah termasuk murid yang pintar. Saya pun membayangkan bagaimana sulitnya pelajaran di SMP sambil bertanya-tanya dalam diri apa iya pelajaran SMP sesulit itu. Ternyata, setelah menjalani masa sekolah di SMP, saya tidak pernah mendapatkan nilai merah di raport. bahkan nilai yang saya dapat bisa lebih tinggi daripada nilai yang saya peroleh ketika duduk di sekolah dasar.

Ternyata, apa yang diucapkan teman-teman saya sebelumnya tidak berlaku bagi diri saya.

Pengalaman yang sama juga terjadi waktu saya akan memasuki SMA. Di akhir-akhir masa SMP, teman saya yang sudah duduk di SMU berkata kepada saya, “Di SMA nanti, kalo ngomong sama temen-temen itu udah gak pake ‘loe-gue’, tapi harus pake ‘aku-kamu’.” Dia juga menambahkan, “Di SMA yang namanya cowok colek-colek cewek itu udah biasa, enggak kaya di Tsanawiyah.”

Suatu saat, di dalam sebuah angkot, saya melihat sendiri bagaimana teman saya tersebut dengan ringannya mencolek teman sekolahnya yang perempuan. Baginya mencolek merupakan sebuah tanda keakraban. Melihat kejadian tersebut, saya hanya saling berpandangan dengan teman saya yang lain yang bersekolah di madrasah Aliyah.

Di SMA, sekali saya mendapatkan kembali sebuah kenyataan bahwa apa yang dikatakan oleh teman saya tersebut tidaklah berlaku bagi saya. Dalam bergaul dengan teman-teman SMA saya tetap menggunakan ‘loe-gue’, tak pernah saya menggunakan ‘aku-kamu’. Saya juga mendapatkan jawaban bahwa untuk akrab kepada lawan jenis tidak harus dengan cara colak-colek.

Di masa kuliah, ‘DO’ merupakan kata-kata yang tidak ingin didengar oleh saya dan semua teman-teman kuliah. Maka tak heran, bila saya dan sebagian teman-teman saya selalu merasa was-was dan khawatir setiap kali selesai Ujian Tengah Semester atau pun Ujian Akhir semester. Harap-harap cemas adalah yang saya rasakan kala itu, dan untuk mendapatkan nilai yang baik serta kelulusan di setiap tingkat, saya akan memperbanyak permohonan dalam doa kepada Allah AWT. Alhamdulillah, ‘DO’ tidak pernah bersua dengan saya.

Hm, mungkin selama ini saya telah membuat kesalahan dengan menerima masukan atau info yang malah membuat saya merasa tidak sanggup untuk melakukan sesuatu atau merasa tidak siap ketika akan menghadapi sesuatu. Akibatnya, saya selalu merasa tidak percaya diri serta khawatir terhadap sesuatu yang belum pasti ada.

Semuanya yang saya khawatirkan mungkin akan terjadi di masa depan, bisa esok, lusa, minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan. Namun kesemuanya itu adalah sesuatu yang ghaib bagi saya. Belum pasti. Sedangkan yang pasti bagi saya -dan anda- adalah hari ini. Apa yang saya -dan anda- lakukan hari ini menjadi cerminan untuk waktu-waktu berikutnya.

Saya jadi teringat sebuah motto yang di tulis oleh adik saya di lemari atau di buku miliknya. Motto dalam bahasa Inggris tersebut berbunyi “Do the best, may Allah do the rest.” Mungkin yang harus saya -dan anda- lakukan mulai sekarang adalah melakukan apa yang bisa saya -dan anda- lakukan sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya terserah kepada Sang Pemilik semesta.

Sebuah pun teringat akan kalimat yang saya dapati dari sebuah buku yang belum sempat saya selesaikan dan bukunya pun entah ke mana. Kalimat tersebut kurang lebih berbunyi, “Kekhawatiran akan sesuatu yang belum pasti hanya akan merusak kebahagiaan di hari ini”.

9 respons untuk ‘Don’t Worry, Be Ready

  1. winny widyawati Juli 9, 2013 / 15:40

    Bagus2 quotesnya, smg mnjadi penambah penyemangat hidup

    • jampang Juli 10, 2013 / 07:49

      mudah-mudahan, teh 🙂

  2. herma1206 Juli 9, 2013 / 17:12

    “Mungkin yang harus saya -dan anda- lakukan mulai sekarang adalah melakukan apa yang bisa saya -dan anda- lakukan sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya terserah kepada Sang Pemilik semesta”

    Pas banget ama yg ini…makasih ya….:)

    • jampang Juli 10, 2013 / 07:49

      sama-sama, mbak 🙂

  3. bundanandadzaki Juli 9, 2013 / 19:04

    Gw banget ni tulisan hahaha

    Thanks mas rifky.. quotenya nancep di hatg

    • jampang Juli 10, 2013 / 07:49

      sama-sama mbak 🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s