Wajar Nggak Sih, Kalau Rambut Rontok Disisir?

Dari sekian tayangan iklan yang muncul di televisi, adalah iklan shampo yang diawali dengan kalimat yang saya jadikan judul di atas, yang selalu terngiang di dalam pikiran saya. Saya tidak lagi melihat tayangan iklan tersebut sejak beberapa waktu yang lalu. Mungkin ketika saya menyaksikan televisi, bukanlah waktu yang dijadwalkan oleh si produsen untuk ditayangkan. Sehingga saya tidak bisa memastikan bahwa kalimat di ataslah yang diucapkan oleh si bintang iklan. Bisa jadi saya salah mendengarnya atau kurang lengkap mendengarnya.

Sebab, jika kalimat “Wajar Nggak Sih, Kalau Rambut Rontok Disisir?” memang diucapkan oleh si bintang iklan tersebut, maka jawaban saya adalah “Tidak wajar!” Kenapa tidak wajar? Sebab menurut saya rambut rontok itu bukan disisir, tetapi disapu lalu dibuang 😀

Bicara soal iklan, akhir-akhir ini, saya belum melihat iklan televisi yang di dalamnya mengajarkan tentang kebaikan, selain untuk mempromosikan sebuah produk. Atau mungkin saya sendiri yang tidak ngeh. Jika demikian, mohon saya diberitahu tentang iklan yang bagus tersebut.

Sekian tahun yang lalu, saya pernah melihat iklan yang bagus. Bukan karena produknya, tapi karena muatan materinya yang mengandung nilai-nilai pendidikan atau kebaikan.

ilustrasi : ww.albawaba.com

Di antaranya adalah iklan air mineral yang mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik. Kebaikan yang dilakukan akan kembali kepada diri pelakunya. Dengan hadirnya kebaikan-kebaikan yang kembali kepada diri si pelaku, maka sifat-sifat buruk yang semula ada di dalan diri pelaku akan tergantikan dengan nilai-nilai kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, maka semakin banyak sifat-sifat buruk yang tergantikan. Pada akhirnya, hanyalah kebaikan saja yang berada di dalam diri pelaku.

Jika sudah demikian, maka kebaikan pula yang akan dikeluarkan oleh si pelaku, baik dalam perbuatan atau pun perkataan. Bukankah sebuah teko akan mengeluarkan air putih yang bersih dan menyegarkan jika di dalam teko tersebut berisi air putih?

“Bertaqwalah kepada Allah dimana kamu saja berada, dan iringilah perbuatan yang buruk dengan yang baik niscaya perbuatan baik itu dapat menghapuskannya…” (HR. at-Tirmidzi)

“Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan/dosa.” [QS. Huud 114]

Iklan lainnya adalah iklan yang menggambarkan tentang -menurut saya pribadi- hukum kekekalan energi, atau lebih tepatnya, kekekalan kebaikan.

Saya pernah mendapatkan penjelasan semasa sekolah bahwa energi itu kekal, tidak hilang, hanya saja berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Dalam iklan tersebut, digambarkan bahwa energi kebaikan yang dilakukan oleh A kepada B, akan berubah energi kebaikan yang dilakukan oleh B kepada C. Energi kebaikan yang diterima oleh C akan diubah oleh C menjadi energi kebaikan yang dia berikan kepada D. Begitu seterusnya. Hingga kemudian, energi kebaikan itu kembali kepada A.

Bukankah balasan kebaikan adalah kebaikan juga? Bukankah seseorang yang berbuat baik hakikatnya berbuat baik untuk dirinya?

“Bukankah balasan kebaikan itu kebaikan pula.” [Q.S. Ar Rahman : 60]

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra : 7)

Iklan terakhir yang menjadi favorit saya adalah iklan yang menceritakan sekelompok anak yang memberikan yang terbaik yang mereka miliki kepada orang-orang yang membutuhkan.

Semoga saja, saya bisa mengambil pelajaran dari iklan-iklan yang menjadi iklan favorit saya tersebut.

Selain ketiga iklan di atas yang tidak pernah lagi ditayangkan, ada juga beberapa iklan yang menurut saya bukannya mengajarkan kebaikan, melainkan sebaliknya, mengajak orang untuk melakukan kesalahan, khususnya di bulan puasa, khususnya lagi tentang menu berbuka puasa.

Iklan-iklan tersebut mengisyaratkan agar berbukalah dengan sesuatu yang manis, dengan sesuatu yang berenergi, dengan sesuatu yang tidak bikin perut kembung dan jantung deg-degan, dengan sesuatu yang tinggal buka dan masukkan ke mulut, dan sebagainya.

Apakah memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah?

Nyatanya Rasulullah tidak mengajarkan ummatnya untuk berbuka dengan makanan atau minuman seperti yang dianjurkan iklan-iklan tersebut, melainkan dengan kurma atau air putih.

“Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk.” [HR Abu Dawud (no. 2356), Ad-Daruquthni (no. 240) dan Al-Hakim (I/432 no. 1576). Dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil IV/45 no. 922]

Mungkin ada jenis makanan yang kandungan zatnya menyerupai kurma. Namun demikian, dengan berbagai kelebihan yang dimiliki kurma berdasarkan berbagai penelitian, maka kurma adalah pilihan utama.

Sayangnya, saya baru bisa berbuka dengan tamr (kurma kering), belum pernah mencicipi ruthab (kurma basah).

8 respons untuk ‘Wajar Nggak Sih, Kalau Rambut Rontok Disisir?

  1. wisnuwidiarta Juli 13, 2013 / 19:29

    Di laci kantor nyetok kurma juga. Setelah itu olahraga sama teman-teman kantor setengah jam, baru makan. Saya sendiri karena lagi mau ngurusin badan gak pake nasi 🙂 Cukup sayur dan daging saja.

    Masalah berbuka dengan yang manis, tidak semua yang manis baik buat tubuh. Kurma mantep banget. buah ini rendah lemak namun kaya serat dan prebiotik dan pitosterol, yang membantu mengendalikan kadar kolesterol. Kurma kaya akan selenium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, dan besi yang meningkatkan kekebalan serta melindungi jantung, membangun massa tulang, dan meningkatkan sel darah merah. Vitamin B dan C di dalamnya juga penting bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Asam lemak omega dalam kurma terbukti menyehatkan jantung, kulit, dan otak yang mirip dengan minyak zaitun.

    Kurma juga bagus untuk meningkatkan sperma dan meningkatkan dorongan seksual.

    Saya sendiri lebih suka kurma yang tidak terlalu matang dan cenderung kering.

    • jampang Juli 13, 2013 / 22:15

      kalau hari biasa, nyari kurma di mana yah?

      kalau tamar memang banyak jenisnya tergantung kwalitasnya.

      • wisnuwidiarta Juli 13, 2013 / 22:16

        Di lotte mart banyak. Ada yg premium. Counter khusus imported dates.

      • jampang Juli 13, 2013 / 22:20

        😀
        saya belum pernah masuk lotte mart.
        terima kasih infonya.

        BTW…. ada masukan nggak buat novel saya yang kemaren… ada rencana saya mau ajuin ke penerbit major, mas. siapa tahu kalau ada perbaikan bisa lolos

        😀

      • wisnuwidiarta Juli 13, 2013 / 22:25

        Kebetulan saya suka dengan ending yang tak terduga. Semakin jauh dari bayangan awal, saya semakin suka. Mungkin bisa terlihat dari cerpen2 yang saya tulis. Saya suka sesuatu yang tidak terduga.

        Puisi harus dipertahankan. Mungkin konflik dan kompleksitas cerita perlu ditambah.

        I just love ending twist 🙂

      • jampang Juli 14, 2013 / 03:49

        Akan saya coba, terima kasih, mas

  2. tinsyam Juli 14, 2013 / 20:03

    baiklah, berbuat kebaikan..
    kurma basah banyak tuh di pasar..

    • jampang Juli 14, 2013 / 21:08

      kurma basah yang masih berbentuk buah, mbak?

      kebanyakan di pasaran yang saya tahu jenis yang kering

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s